Polisi Ungkap Sindikat Aborsi Antar Kota di Jatim

Tribratanews.polri.go.id – Surabaya. Direktorat Kriminal Khusus Polda Jatim, membongkar sindikat aborsi atau penguguran janin yang beroperasi di berbagai kota di Jawa Timur.

Dari hasil pemeriksaan, ada tujuh orang ditetapkan sebagai tersangka, lima diantaranya seorang perempuan. Yaitu LWP (28), RMS (26), VN (26), TS (30), FTA (32). Dua orang laki-laki berinisial MSA (32) dan MB (34).

Wadireskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara menjelaskan, pengungkapan kasus aborsi yang dilakukan jajarannya tersebut berdasar laporan masyarakat pada bulan Maret 2019 lalu.
“Bahwa tentang adanya seseorang di sebuah rumah bertempat tinggal di Sidoarjo, yang melakukan aborsi.” Terang AKBP Arman, Selasa (25/06/19).

Modus operandi tersangka melakukan praktik aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang dan telah bertindak melawan hukum sebgai mana seorang bukan tenaga kesehatan melakukan praktek seolah olah sebgai tenaga kesehatan yang memiliki izin.
Pihaknya berhasil mengamankan LSM beserta sejumlah barang bukti yang diduga dipakai LWP dalam melancarkan aksinya. Barang bukti tersebut seperti obat-obatan penggugur janin, selang infus, sarung tangan, tas dan nota resep.

Kemudian dari hasil pengembangan, polisi kembali menangkap enam orang lainnya yang diduga turut terlibat.

“Dimulai dari peran menjual obat, yaitu LWP. Peran yang mengantar si tersangka sebagai pelaku aborsi kemudian peran si peminta untuk dilakukan aborsi. Maupun peran yang membantu terlaksananya aborsi tersebut,” tambah AKBP Arman.

Selama pemeriksaan terungkap, perbuatan aborsi yang dilakukan LWP kepada sejumlah perempuan yang meminta untuk digugurkan janinnya tersebut. Dilakukan diberbagai kota, meliputi Sidoarjo, Surabaya, Blitar hingga Banyuwangi.

“Ada tujuh TKP yang ada di Jawa Timur, diantaranya Sidoarjo, Surabaya, Blitar dan sebagainya. Banyuwangi,” jelas Wadireskrimsus.

Diketahui LWP tidak hanya melayani aborsi di tempatnya, melainkan juga melayani aborsi ke rumah peminta aborsi dari berbagai kota di Jawa Timur.

Atas perbuatanya tersangka dikenakan sanksi dengan pasal berlapis, karena dianggap melanggar undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan undang-undang nomor 8 tahun 1981 KUHP. Dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun. Dan denda paling banyak 10 Rp 1 miliar.

 

(ds/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password