Ini Cara Kapolres Bantaeng Menutup Ruang Hiburan Vulgar

Tribratanews.polri.go.id, Bantaeng Sulsel – Sadar akan ancaman pornoaksi, Kapolres Bantaeng AKBP Adip Rojikan mengumpulkan seluruh pengusaha organ tunggal di daerah itu, Rabu (25/1/2017). Di hadapan pengusaha, Adip mengingatkan dampak buruk hiburan-hiburan vulgar yang tersaji liar di masyarakat.

“Tak bisa kita pungkiri ada beberapa group elekton (organ tunggal) yang menampilkan biduan berpakaian vulgar. Mereka sering tampil dengan seronok dalam hajatan-hajatan warga,” ujar Adip.
Jika kondisi ini tidak disaring dengan baik, akan memberi dampak besar pada stabilitas sosial. Porno aksi menurut Adip, bisa memicu kejahatan-kejahatan lainnya seperti berkembangnya minuman keras dan perkelahian.

“Antusiasme masyarakat dalam menyaksikan hiburan vulgar meski kita filter. Pengusaha organ tunggal berperan menutup celah-celah itu. Tampilkanlah hiburan yang sehat, tidak seronok dan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal,” paparnya.

Dalam pertemuan bertajuk FGD (Forum Group Discussion), Adip mengatakan, saat ini ada jenis hiburan yang berkembang di masyarakat bernama “candoleng-doleng”. Hiburan ini berkembang sejak satu dekade silam di sejumlah daerah di Sulsel.

Candoleng-doleng juga telah merambah ke Bantaeng. Istilah candoleng-doleng sendiri adalah predikat yang disematkan kepada biduan organ tunggal yang tampil vulgar dibungkus goyangan erotis.

Mereka biasanya tampil dalam hajatan-hajatan warga seperti resepsi pernikahan, sunatan maupun acara konvensional lainnya. Para biduan “candoleng-doleng” tak segan tampil seronok mengikuti permintaan penonton yang menyodorkan saweran.

Kata Adip, jenis hiburan ini jelas tidak sehat. Apalagi, dipertontonkan secara terbuka. Yang lebih memiris, di banyak daerah, penonton candoleng-doleng kebanyakan anak-anak di bawah umur.

“Karena itulah kita harus mencegahnya sejak dini agar tidak berkembang di Bantaeng. Pengusaha organ tunggal saya harapkan mengedapankan kesantunan,” jelasnya.

Adip mengatakan, Sulsel memiliki budaya siri’ yang sangat filosofis. Pranata adat dan tradisi di daerah ini menentang keras segala bentuk perilaku tak senonoh, termasuk hiburan erotisme.

Secara hukum, jenis hiburan ini juga bisa dijerat UU Pornografi dan Pornoaksi. Adip menegaskan, pihaknya akan mengambil langkah hukum terhadap hiburan berbau pornoaksi yang dipertontonkan terbuka di masyarakat.

“Ini semua kita lakukan untuk menjaga kondisi sosial di masyarakat. Jadi sekali lagi kepada pengusaha organ tunggal untuk mengedepankan kesantunan. Ingatkan biduan Anda tidak tampil seronok,” ketusnya.

Sejak kemunculan biduan “candoleng-doleng” di Kabupaten Sidrap awal 2005, fenomena ini merambah dengan cepat ke daerah-daerah di sekitarnya. Beberapa kasus yang sama ditemukan di Bone pada 2007, di Pinrang, serta Parepare pada tahun yang sama.

Setelah tahun 2010, hiburan jenis ini juga ditemukan di Sinjai dan Palopo. Sempat vakum setelah berlakunya UU Pornoaksi dan Pornografi, namun “candoleng-doleng” kembali marak dalam dua dan tiga tahun terakhir.
Sosiolog yang juga mahasiswa program doktor Universitas Hasanuddin, Ferdiyansyah Husain berpendapat, hiburan agresif dan erotis muncul akibat situasi sosial. Ada ketimpangan perilaku yang berkembang di masyarakat, yang mulai tidak sejalan dengan tradisi lokal.
Dulu, erotisme dianggap sebagai hal tabu. Tapi sekarang anggapan itu bergeser karena berkembangnya perilaku sosial masyarakat.
“Itu disebabkan oleh arus globalisasi informasi. Zaman sudah mengubah selera publik. Banyak kelompok masyarakat yang tak lagi peduli dengan dogma,” jelas Ferdi.
Peneliti “Suku Bugis Suku Unik” ini menuturkan, hukum dan tradisi tidak bisa secara mutlak membendung selera publik itu. Untuk mencegahnya, proteksi yang dilakukan adalah mengubah situasi sosial ekonomi masyarakat.
Faktor utama munculnya candoleng-doleng adalah desakan ekonomi. Banyak orang yang tak memiliki kesempatan untuk hidup laik, sehingga satu-satunya cara adalah mengambil jalan pintas.
“Lapangan kerja susah. Untuk bisa hidup laik ya nyambi jadi biduan erotis. Ketemu dengan selera publik yang sedang timpang. Maka jadilah fenomena ini digandrungi,” kata Ferdi.
Ferdi sepakat, pengusaha organ tunggal diajak melakukan pencegahan, karena di situlah akarnya. Organ tunggal juga sedang berkompetisi dalam bisnis. Candoleng-doleng ini menjadi salah satu jualannya.
“Jadi memang sedang hidup-hidupnya fenomena ini. Publik sedang haus hiburan, sedang di satu sisi ada orang yang butuh uang. Pengusaha juga ingin bisnisnya bertahan. Nah, lengkaplah semuanya,” papar Ferdi.
Ferdi mengajak semua kembali pada norma agama dan adat. Agama tentu kata dia, sangat menentang hiburan jenis itu. Begitu juga tradisi, Sulsel sangat menjunjung tinggi kesantunan.
“Secara hukum ya polisi harus tegas. Tutup ruang mereka dengan langkah penegakan hukum,” kunci dia. (*)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password