Polda Sumut Tangkap Pelaku Penganiaya Keluarga Pensiunan Polisi Di Sumut

Tribratanews.polri.go.id – Medan. Kepolisian Daerah Sumatera Utara berhasil menangkap kelompok pelaku penganiayaan terhadap keluarga pensiunan polisi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Total 7 orang ditangkap termasuk diduga otak pelaku.

Direktur Reskrimum Polda Sumut, Kombes Pol. Andi Rian Djajadi menjelaskan lima orang pelaku ditangkap pada Sabtu (15/06) di wilayah berbeda di Sumut. Dua orang tersangka lainnya ditangkap di luar Sumut.

Adapun inisial ketujuh orang tersangka tersebut yakni ST (66) diduga otak pelaku penyerangan, W (46), BH (52), JG (40), BS (21), BS (26) dan MT (61). “Mereka sudah menggambar dan direncanakan Maret 2019 dan dilakukan Mei 2019. Permasalahan diawali antara korban dengan ipar tersangka. Motif dendam, dilatarbelakangi sengketa masalah pertanahan seluas lima hektare,” terang Dirreskrim saat di Mapolda Sumut, Senin (17/06/19).

Para pelaku menganiaya pensiunan polisi bernama BS bersama empat anggota keluarganya hingga terluka parah. Bangkit dan anaknya, SS (21), mengalami luka bacok di kepala dan badan.

Sementara istri BS dan anaknya AS (10) mengalami luka pukulan benda tumpul di bagian kepala. Sedangkan anak perempuan korban MKS (17) mengalami sakit di bagian punggung karena ditendang pelaku.

Tindak penganiayaan keluarga pensiunan polisi terjadi pada 31 Mei di Dusun Bukit Lau Kersik, Kecamatan Gunung Sitember, Kabupaten Dairi. Setelah melakukan aksinya para pelaku kemudian melarikan diri ke Kota Medan, Kabupaten Langkat, hingga ke Aceh.

Diketahui mereka diberi upah Rp 50 juta untuk menganiaya satu keluarga Bangkit Sembiring termasuk membeli peralatan. “Tiga pelaku diberi tindakan tegas dan karena melawan,” jelas Kombes Pol. Andi.

Untuk melengkapi berkas penyidikan, Polisi telah menyita barang bukti berupa parang, linggis, martil termasuk mobil sewaan saat beraksi.
Pada kesempatan yang sama, Kapolda Sumut, Irjen Pol. Agus Andrianto mengatakan para pelaku dijerat dengan pasal pembunuhan berencana serta dikenakan dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kita berikan pasal pembunuhan berencana meski korban belum meninggal, karena ada perencanaan. Ini unsurnya dendam, mantan polisi yang jadi korban. Ini bukan soal siapa korban, tapi kita selalu berupaya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” tambah Dirreskrimum.

(ds/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password