Film “Pohon Terkenal”, Tayang di 50 Kota, dengan 200 Lebih Layar Bioskop

Tribratanews.polri.go.id-Jakarta. Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia menempuh satu strategi lain dalam membangun citra positif organisasi, yaitu membuat film cerita untuk public. Pohon Terkenal, film cerita terbaru yang dibintangi Umay Shahab, adalah film produksi perdana mereka yang baru saja dirilis di bioskop hari ini. “Pohon Terkenal” dibuka di 200 lebih layar bioskop 50-an kota pada Kamis, 21 Maret 2019.

Film ini dibuat oleh produser Sumarsono bersama sutradara Monty Tiwa dan Annisa Meutia. Monty dan Annisa juga menulis naskahnya bersama Lina Nurmalina. Menurut sinopsis resmi, film ini mengambil latar Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, tempat perwira polisi dididik sejak muda. Kisahnya berpusat pada tiga orang taruna baru bernama Bara Maulana (Umay Shahab), Ayu Sekarwati (Laura Theux), dan Johanes Solossa (Raim Laode). Mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan remaja normal karena masa depan mereka tidak lagi menjadi milik sendiri.

Trailer filmnya telah dirilis sejak Februari lalu. Tampak bagaimana Bara, yang menganggur setelah lulus SMA, akhirnya bersedia masuk Akpol atas desakan sang ibu. Menurut ibunya, “Akpol itu gratis.”

Potongan dialog yang merujuk ke kondisi ekonomi keluarga Bara itu disambung dengan pidato instruktur ketika Bara sudah masuk Akpol.

“Taruna, susah, senang, merasakan bersama. Tidak ada, ‘Kau anak siapa’ atau ‘Berapa banyak duitmu.’ Kalian di sini sama!”

Produksi ini bukan kali pertama Polri membuat kegiatan perfilman. Sejak 2014, Divisi Humas Polri telah membuat kompetisi film pendek tahunan bernama Police Movie Festival.

Aktris Ni Made Laura Theux memerankan seorang taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang dalam film layar lebar terbarunya, Pohon Terkenal. Kendati awalnya tidak tahu sama sekali bagaimana kehidupan pendidikan Akpol, karantina lima hari di sana menjadi pengalaman berharga Laura untuk masuk lebih jauh ke dalam karakter.

“Aku enggak tahu kegiatan taruna ngapain. Untungnya kami dikasih karantina selama lima hari dan itu membantu banget untuk meningkatkan karakter,” kata Laura dalam gala premier di XXI Epicentrum Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019.

“Kurang lebihnya, kami tahu kegiatan di Akpol, mereka ngapain saja sehari-hari, gerak tubuh mereka biasanya,” lanjutnya.

Ketika Laura masuk karantina bersama dua rekan aktingnya, Umay Shahab dan Raim Laode, mereka mengikuti agenda harian taruna, termasuk makan, tidur, dan mandi. Selama berbaur dan mengamati kehidupan sekolah asrama polisi ini, Laura memahami bagaimana perjuangan para taruna untuk bisa mencapai tujuan besar, mengabdi negara lewat kepolisian.

“Aku bersyukur bisa kenal dan satu proyek dengan mereka,” ungkap Laura.

“Mereka sangat ramah. Enggak susah berbaur dengan mereka. Mereka juga sangat mengayomi kami yang kurang ini dari segi pengetahuan di Akpol. Kami bersyukur ada mereka membantu kami,” imbuhnya.

Apakah “pendidikan” lima hari ini berbekas dalam kehidupan sehari-hari? Setidaknya yang tampak jelas bagi aktris kelahiran 1996 ini, dia lebih sering bangun pagi dan lebih tegap ketika berjalan.

“Cara makan pun diatur. Jadi saat keluar dari sana, aku merasa hal yang aku lalukan sehari-hari begini menjadi berubah,” tukas Laura.

Disamping itu, Sutradara, Monty Tiwa mengaku sempat ragu saat ditunjuk oleh divisi Polri. Sebab, film ini memiliki pesan khusus yang harus disampaikan dengan jelas. Tetapi, akhirnya tawaran diterimanya dengan rasa bangga.

“Saya pertama kali diberi kepercayaan ini, sebetulnya 60 persen bahagia, 40 persen takut. Sebab, ini yang memberi kepercayaan Divisi Humas Polri. Saya udah biasa bikin film untuk produser film, tapi dengan Divisi Humas Polri ada pesan khusus, bagaimana menyampaikan sosok perwira dan polisi yang harus diketahui masyarakat. Bahwa membentuk itu, ini kan ga mudah,” kata Monty saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (21/3).

(ng/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password