Polisi Dalami Polemik BPNT di Purwakarta

Tribratanews.polri.go.idPurwakarta. Tim Satgas Bantuan Sosial Polres Purwakarta akan mendalami polemik pendistribusian Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT), di sejumlah desa di Kecamatan Maniis di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

“Kami sudah terjunkan tim untuk mendalami persoalan ini,” jelas Kapolres Purwakarta, AKBP Matrius, Jumat (22/02/19).

AKBP Matrius menjelaskan, kasus BPNT ini menjadi perhatian jajarannya. Untuk itu, timnya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kasus ini. Untuk saat ini, memang kasus ini belum ada titik terang. “Laporan ke kita sudah masuk. Kini sedang kita dalami,” terangnya.

Kapolres Purwakarta mengatakan selama ini jajarannya turut dilibatkan dalam hal pengawasan, termasuk pendampingan bantuan sosial. Sehingga, dengan adanya polemik ini sudah menjadi kewajiban pihaknya untuk menelusuri dan menegaskan, jika dalam kasus ini ada indikasi penyelewengan, maka hal itu akan ditangani. Namun, untuk ada atau tidaknya penyelewengan jajarannya akan melakukan pengecekan ke lapangan.

“Kemarin yang mencuat di Desa Citamiang, Kecamatan Maniis. Nanti kita telusuri,” papar AKBP Matrius.

Tak hanya di Desa Citamiang saja. Melainkan, desa yang lainnya akan diselidiki. Termasuk, pihak ketiga yang menyuplai beras untuk penerima BPNT itu. Sebab, dalam kasus ini perlu keterangan dan bukti yang kuat. “Tapi, jika indikasinya kuat, kasusnya pasti kita tangani,” ujar AKBP Matrius.

Sementara itu, Kepala Desa Citaming, Kecamatan Maniis, Dedi Wardian, mengatakan, program BPNT ini sudah berjalan selama lima bulan terakhir. Namun, untuk BPNT yang ditukarkan dengan beras ini sudah berjalan selama empat bulan terakhir. “Sebelumnya, tidak ada kejadian seperti. Baru kali ini,” ujar dia.

Polemik ini, kata dia, diketahui pada Rabu (20/2/2019) kemarin. Saat itu, ada drop beras yang dikirim penyalur yakni PB Ikah Bbr asal Subang ke desanya. Distribusi beras dari program BPNT ini juga turut disaksikan petugas Babinkantibmas dari Polsek Maniis.

Saat itu, sambung orang nomor satu di Purwakarta, petugas mencurigai jika takaran beras itu kurang. Akhirnya, warga dibantu petugas, menimbang lagi beras tersebut. Ternyata, takarannya yang ada delapan kilogram. Padahal, penerimaan sebelumnya mencapai 10 kilogram untuk beras premium.

Terkait alasan dirinya mengenai kenapa beras itu di drop di kantor desa. Karena, sambung Dedi, warung yang menjadi rekanan pendamping bansos BPNT-nya, belum memiliki gudang yang representatif. Sehingga, ketika beras datang dikirimnya ke kantor desa.

(ym/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password