Kronologi Dibalik Ungkap Kasus Perdagangan Manusia di Indramayu, Korban Masih Dibawah Umur

Tribratanews.polri.go.id – Indramayu, Polisi berhasil mengungkap kasus dugaan perdagangan manusia atau human trafficking.

Korbannya tujuh gadis asal Indramayu. Ketujuh gadis itu berinisial RA (24), DR (19), TA (15), AMS (14), VK (15), AM (15), dan RM (16).

Mereka akan dipekerjakan sebagai SPG di Jakarta tapi kenyataannya, mereka justru dipaksa menjadi PSK dan terapis pijat plus-plus.

Kapolres Indramayu, AKBP M Yoris MY Marzuki, mengatakan, sedikitnya ada empat tersangka yang diamankan dalam kasus tersebut. Para tersangka itu masing-masing berinisial FS (31), FG (33), AR (34), dan WN (16).

“Pengungkapan kasus human trafficking ini berawal dari laporan masyarakat,” ujar M Yoris MY Marzuki dalam konferensi pers di Mapolres Indramayu, Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Indramayu, Rabu (6/2/2019).

Kapolr s mengatakan, pihaknya mendapat laporan mengenai penyekapan terhadap RA yang diduga akan dijadikan PSK. Petugas pun langsung mendatangi rumah FS di Indramayu.

Melihat kedatangan petugas, FS berkelit dan mengaku tak mengetahui perihal keberadaan korban. Namun, petugas langsung menggeledah dan mendapati RA di salah satu kamar di rumah tersebut.
“Ternyata FS mengancam korban supaya diam dan tidak keluar kamar,” kata AKBP M Yoris MY Marzuki.

Faktanya Tersangka menawarkan korban sebagai terapis pijat plus-plus dan PSK. Bahkan, korban juga ditawarkan kepada rekan-rekan tersangka seharga Rp400 ribu – Rp500 ribu.

Kapolres juga mengatakan, korban enggan menurutinya dan menangis ketakutan sehingga disekap di rumah tersangka. Dari kasus tersebut, pihaknya melakukan pengembangan dan berhasil meringkus tiga tersangka lainnya.

Enam gadis lainnya berhasil diselamatkan dari praktik perdagangan manusia.
“Mereka satu jaringan, modusnya sama. Korban ditawari kerja SPG ternyata jadi terapis pijat plus-plus dan PSK,” Ungkap Kapolres Indramayu.

“Di tempat pijat plus-plus itu tersangka mendapat Rp2 juta untuk satu gadis yang dibawa,” ujarnya.

Menurut dia, para tersangka juga membuat PT fiktif sebagai penyalut tenaga kerja untuk pijat plus-plus dan karaoke. Dengan memalsukan dokumen dan surat persetujuan orang tua korban.

“Korban yang di bawah umur itu dituakan jadi 18 – 19 tahun, agar dapat diterima bekerja,” ujar AKBP M Yoris MY Marzuki.

Ia mengatakan, keempat tersangka dijerat Pasal 2, Pasal 6, dan Pasal 10 UU RI No 21. Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO).

Ancaman hukumannya ialah penjara maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp600 juta rupiah.

(sa/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password