Peringatan HUT ke-38, Kapolri Berharap Satpam Menjadi Sebuah Profesi

Tribratanews.polri.go.id-Jakarta. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol. Prof. H.M. Tito Karnavian Ph.D. turut hadir dalam apel perayaan Dirgahayu HUT Satuan Pengamanan (Satpam) ke-38, di PTIK Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Turut hadir Wakapolri Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto, S.H., Kabaharkam Komjen Pol. Moechgiyarto, Kakorlantas Polri Irjen Pol. Drs. Refdi Andri, dan pejabat utama Mabes Polri serta perwakilan penyelenggara jasa keamanan Indonesia.

Acara diawali dengan mengheningkan cipta ditujukan kepada pendiri sekaligus sebagai “Bapak Satpam” Indonesia Mantan Kapolri Almarhum Jenderal Pol. (Purn) Awaloedin Djamin.

“Satu jam sebelum wafat, saya sempat mengucapkan syahadat di telinga beliau. Atas jasa beliaulah yang telah meletakkan Satpam secara fundamental. Mengheningkan cipta mulai,” ungkap Kapolri.

Dalam sambutannya, Kapolri mengatakan bahwa Satpam adalah produk pengamanan yang fenomenal karena telah diakui oleh negara pada UU no.2 tahun 2002 pasal 3 poin C. Penyelenggaraan keamanan dan ketertiban Indonesia salah satu unsurnya yaitu bentuk-bentuk pengamanan swakarsa termasuk dalam undang-undang No 8 tahun 1981,” jelas mantan Kepala BNPT tersebut.

Kapolri menambahkan, dengan jumlah Satpam saat ini yang mencapai 525.000 personel ditambah satu juta lebih yang tidak memiliki sertifikat tapi sudah bertugas sangat membantu kinerja, baik Polri maupun TNI dalam pengamanan dan pelayanan terhadap masyarakat. Kemudian Kapolri menambahkan bahwa seragam yang dimiliki, kartu pengenal atau ucapan salah satu bentuk kewenangan pengamanan. Maka latihan fisik dan kemampuan tangan kosong harus terlatih, agar jika ada pelaku kejahatan bisa ditangani.

“Saya yakin rekan-rekan Satpam sudah melaksanakan pengamanan walau publik kurang memperhatikannya. Otoritas pengamanan dan masyarakat sangat terbantu. Ini sebuah kebanggaan dan juga berpotensi bagi kita. Tapi kalau tidak hati-hati akan jadi ancaman. Selain kemampuan fisik, Satpam juga dituntut untuk memiliki disiplin ilmu pengetahuan. Sebab, keahlian tidak bisa mengalahkan profesi. Saat ini Satpam masih dikategorikan keahlian, maka harus kita jadikan sebagai profesi.” tegas Guru Besar PTIK tersebut.

Lebih lanjut Kapolri menjelaskan bahwa bidang pekerjaan yang memiliki ilmu pengetahuan, pelatihan yang panjang, kode etik dan jiwa pengabdian. Satpam bisa menjadi profesi yang berawal dari keahlian. Kapolri menekankan 4 syarat untuk menjadikan Satpam sebagai profesi, satu diantaranya kode etik yang sudah dimiliki. Kedepan harus ada majelis kode etik, karena hal ini akan memperkuat respek masyarakat terhadap Satpam. Kedua, harus ada jiwa pengabdian.

Mungkin yang belum ada bidang keilmuan. Saya berpikir kenapa tidak diadakan sendiri. Selama ini manajer sekuriti sekolah ke luar negeri ada kelemahannya, belum tentu sama kondisinya dan network yang belum terjalin,” tegas mantan Kapolda Metro Jaya tersebut.

Kedepan lanjut Kapolri, Indonesia akan menghadapi dan menggelar pesta demokrasi di bulan April 2019. Kapolri berharap Satpam turut berkontribusi untuk mendukung demokrasi damai aman dan tenang.

“Menjelang awal April saya berharap ada apel besar khusus Satpam didampingi oleh TNI dan Polri untuk menjaga pemilu yang aman,damai dan sejuk,” harap Jenderal Bintang Empat tersebut.

(ng/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password