Sosok Ipda Ambo, Polisi Pi Ajar Merah Putihkan Hati Anak-anak Papua

Tribratanews.polri.go.id – JAKARTA. Tepatnya sudah 26 tahun lamanya Ipda Ambo Made mengabdikan diri sebagai prajurit Bhayangkara di Tanah Papua, hingga hal tersebut membuatnya jatuh hati dengan pulau ujung timur Indonesia tersebut. Polisi asal Bali ini memiliki impian untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Papua mulai daru usia anak-anak. Oleh karena itu, Ipda Ambo dipercaya sebagai Kanit Pendidikan Binmas Noken yang memimpin program kerja “Polisi Pi Ajar”.

“Polisi pergi mengajar disingkat ‘Polisi Pi Ajar’ karena di Papua itu bahasa disingkat-singkat. Pergi jadi pi,” kata Ipda Ambo dalam acara Forum Group Discussion (FGD) Binmas Noken, di Jakarta Selatan, Selasa, (11/12).

Binmas Noken Polri merupakan buah pemikiran Kapolri, Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D., untuk mendekati masyarakat Papua dengan harapan mampu menciptakan kedekatan antara warga dengan polisi yang memiliki tugas melayani, mengayomi dan melindungi.

Baca juga: Wakapolda Sulsel Jemput Jenazah Korban KKB di Bandara Hasanuddin

Ipda Ambo mengatakan anak-anak di Papua haus akan pendidikan dan sangat antusias dengan kegiatan belajar. Tak mudah bagi Ipda Ambo mendekati anak-anak Papua. Namun, Ipda Ambo tak kehabisan ide, ia mencairkan suasana dengan mendongeng. Anak-anak pun antusias dan menikmati belajar dengan “Polisi Pi Ajar”.

Rawannya situasi di Bumi Cenderawasih, khususnya di daerah pegunungan tak menyurutkan niat tulus “Polisi Pi Ajar” untuk membantu mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Polisi pi ajar tersebar di sembilan distrik yang berada di pedalaman seperti Kabupaten Mimika, Jayawijaya, Lanny Jaya, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Nabire, Paniai, Puncak dan Puncak Jaya. Sebanyak 30 polisi ditempatkan di masing-masing kabupaten.

“Soft approach inilah yang paling efektif. Kenapa? Karena yang kami dekati adalah anak-anak SD. Karena anak-anak sana bisa memengaruhi banyak hal. Contohnya, kalau kita sudah dekati anak-anak ini, orangtuanya bisa dilarang untuk melakukan hal-hal jelek,” imbuhnya.

Contohnya, saat terjadi kerusuhan di Kabupaten Pegunungan Bintang. Seorang anggotanya bisa selamat karena dikenal sebagai pengajar taekwondo. Bukan kemampuan yang menyelamatkannya, namun karena warga sekitar yang menghargai jasanya yang telah mengajarkan anak-anak mereka.

Menurut Ipda Ambo, kehadiran “Polisi Pi Ajar” mampu meruntuhkan sekat antara aparat dengan warga Papua. Kini, kehadiran aparat tak lagi menjadi sosok menakutkan bagi orang asli Papua.

(img/rd/rp)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password