Kerja Sama Polda Metro Jaya Dengan FBI-Interpol Tangkal Pornografi Anak

Tribratanews.polri.go.id – JAKARTA. Polda Metro Jaya meningkatkan kerja sama dengan sejumlah lembaga penegak hukum internasional dalam rangka memberantas kejahatan pornografi anak secara online hingga menjadi perhatian bagi sejumlah negara di dunia.

“Ditreskrimsus melalui Subdit IV Cyber Crime terus aktif dalam bekerja sama pengungkapan kejahatan pornografi anak. Baik melalui jalur penegakan hukum secara Internasional melalui FBI, Interpol, HSI, juga partisipasi penyedia jasa layanan di internet dan badan organisasi lain, seperti NMEC (National Missing and Exploitation Children) juga kementerian PPA RI dalam pencegahan dan penanggulangan kejahatan pornografi anak,” tutur Dirreskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Adi Deriyan Jayamarta, S.I.K., Selasa (27/11).

Kasus kejahatan pornografi anak ini juga dibahas dalam 36th Meeting of The Interpol Specialists Group on Crimes Against Children yang berlangsung pada 26-29 November 2018 di Singapura. Dalam kegiatan tersebut, Polri mengirim perwakilan Kasubdit Cyber Crime Ditkrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto G.M. Pasaribu, S.I.K., dan perwakilan dari Divhubinter Polri Kompol Dhany Aryanda, S.I.K., bersama perwakilan DHS, Homeland Security Investigation, USA, yang memaparkan hasil kerjasama dalam kasus distribusi foto dan video anak Indonesia sebagai korban pada tahun 2017-2018.

Baca juga: Berhasil Turunkan Angka Kecelakaan, Personel Polda DIY Raih Penghargaan dari Gachon University Korea

Selain itu, Polri sendiri juga sudah berperan aktif dalam satuan tugas khusus di Violent Crimes Against Children Task Force (VCACTF) sejak 2010. VCACTF adalah lembaga yang dibentuk oleh MCCU-FBI yang terhubung dengan seluruh penyedia jasa layanan di internet dan beranggotakan 60 negara.

Dalam kejahatan pornografi anak, Polda Metro Jaya sudah berhasil mengungkap beberapa kasus, di antaranya kasus kelompok LoliCandy Grup yang menggunakan Facebook sebagai sarana berkomunikasi, Borneo Case yang menggunakan Skype dan grup pelaku yang menggunakan Twitter.

“Pelaku di Indonesia ini melakukan kolaborasi melalui Whatsapp dan Telegram Internasional Grup,” kata AKBP Roberto G.M. Pasaribu, S.I.K.

Dalam upaya pengungkapan kasus tersebut, Polda Metro Jaya bekerja sama dengan HSI, FBI dan Interpol dalam menyebar informasi terkait para pelaku yang tersebar di 43 negara. Kemudian pada Agustus 2018, Kepolisian Guatamela juga mengamankan 2 pelaku kasus LoliCandy Grup dan menyita 43 ponsel, 7 hard drives, 12 sd cards, dan 8 usb flash drives berkaitan dengan distribusi material pornografi tersebut.

(img/rd/rp)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password