Polri Prihatin 16 Tersangka Penyebaran Hoaks Penculikan Anak Mayoritas Ibu-Ibu

Tribratanews.polri.go.id – Jakarta. Pihak Kepolisian menyebutkan masyarakat yang ditangkap akibat menyebarkan kabar bohong alias hoaks penculikan anak dan kecelakaan pesawat terus bertambah. Polri merasa prihatin karena sebagian besar tersangka yang ditangkap adalah perembuan berusia dewasa (ibu-ibu).

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Drs. Setyo Wasisto, S.H., mengatakan tersangka bertambah 16 orang. Yang sangat memprihatinkan adalah banyaknya tersangka perempuan usia dewasa (ibu-ibu). Ini berarti perlu literasi bahwa media sosial itu adalah ruang publik.

Masih banyak warganet yang tidak terampil dalam memanfaatkan media sosial. Padahal, pemerintah sudah sering mengampanyekan agar masyarakat bijak dalam berjejaring sosial.

“Jangan mereka hanya menganggap, ‘wah saya iseng, Pak’, ‘saya hanya prihatin saya sampaikan ke temen saya’, tapi semua bisa baca. Dengan dia share itu, semua orang bisa baca dan menimbulkan ketakutan,” ucap Kadiv Humas Polri.

Hingga saat ini, polisi masih terus menelusuri siapa yang memproduksi konten hoaks soal penculikan anak dan kecelakaan pesawat itu. Polisi juga tengah mendalami dugaan penyebaran hoaks tersebut terorganisasi.

Polisi telah menangkap 16 netizen yang menyebarkan hoaks soal penculikan anak dan kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP melalui media sosial Facebook. Mereka ditangkap di beberapa tempat dalam kurun waktu sepekan mulai Rabu 31 Oktober-Selasa 6 November 2018.

Delapan tersangka merupakan kaum ibu-ibu, antara lain berinisial DNL (20), A (30), O (30), TK (34), S (33), NY (22), AZ (21), dan NV (29). Tersangka berinisial A dan S ditangkap karena memposting hoaks kecelakaan Lion Air, sementara enam lainnya terkait hoaks penculikan anak.

Sementara delapan tersangka lainnya yang berjenis kelamin laki-laki masing-masing berinisial D (41), EW (31), RA (33), JHS (31), N (23), UST (28), VGC (44), dan MRZ (18). Hanya tersangka MRZ yang ditangkap karena memposting hoaks kecelakaan Lion Air. Sementara sisanya berurusan dengan polisi karena hoaks penculikan anak.

Dalam perkara ini, para tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 14 ayat 2 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Kadiv Humas Polri berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi masyarakat umum untuk tidak menyebarkan hoaks. Apapun motif dan alasannya, penyebaran kabar bohong di media sosial tidak dibenarkan dan dapat dipidana karena bisa berdampak luas.

(fb/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password