Ini Modus Operandi Baru Yang Dilakukan Terorisme

Tribratanews.polri.go.id – JAKARTA. Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose mewakili Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D., dalam Indo Defence 2018 Expo & Forum di Hall C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (8/11). Kehadiran Kapolda Bali untuk menyampaikan materi yang bertajuk “Menjamin Stabilitas Regional melalui Kerjasama dalam Penanggulangan Terorisme”.

Kapolda Bali mengungkapkan telah terjadi pergeseran modus operandi yang dilakukan oleh jaringan terorisme, di antaranya propaganda yang sebelumnya secara konvensi melalui buku, majalah, poster, dan pamflet menjadi mengeksploitasi dunia maya.

Selain itu, Alumni Akpol tahun 1988 juga mengatakan bahwa adanya pergeseran metode, sasaran hingga penampilan para pelaku aksi teror. Kini mereka lebih mengedepankan metode aksi teror yang dikenal sebagai maliyah yaitu amaliyah istisyhadiyah dimana para pelaku siap melakukan serangan dengan bom bunuh diri dan amaliyah inghimas dimana para pelaku siap untuk melakukan serangan sampai dibunuh oleh musuh.

“Mereka juga mulai menggunakan metode yang disebut unexpeted actors yaitu melibatkan anggota keluarga, perempuan dan anak-anak untuk melakukan aksi teror secara langsung seperti yang terjadi di Surabaya. Ini merupakan aksi pertama yang terjadi didunia,” ujarnya.

Banyaknya penduduk di Indonesia menjadi foreign terrorist fighters (FTF) dan bergabung dengan ISIS di Suriah, Irak dan Filipina Selatan memunculkan ancaman antara lain, frustrated traveler (FT) yaitu mereka yang ingin bergabung dengan ISIS di Suriah namun tidak tercapai karena dideportasi kembali ke Indonesia. Selain itu, returnees adalah FTF yang kembali ke Indonesia dan bergabung dengan jaringannya.

Sementara itu, dalam penanggulangan terorisme, Polri tidak bekerja sendiri. Melainkan dibutuhkan kerja sama dalam berbagai bidang dan dengan pemegang saham yang terkait dalam lingkup nasional antara lain, di bidang pendanaan terorisme Polri bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Layanan Keuangan, serta pusat analisis dan laporan transaksi keuangan Indonesia.

Sedangkan di bidang deradikalisasi dan kontra radikalisasi bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan, TNI dalam UU Nomor 5 tahun 2018 pasal 43 i, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Badan Intelijen Negara, Kementerian Agama, dan Kementerian Sosial. Bahkan, di bidang deradikalisasi dan kontra radikalisasi juga melibatkan N.G.O, akademisi, masyarakat sipil dan pemimpin agama.

Dan selanjutnya adalah kerja sama di bidang penegakan hukum yaitu criminal justice system institution.

“Dalam lingkup regional cooperation yaitu Asean country dan dalam lingkup internasional cooperation, Polri juga aktif dalam event billateral and multilateral,” imbuhnya.

Jenderal Bintang Dua tersebut berharap melalui kegiatan ini diharapkan adanya kerja sama maupun sinergiats yang baik antar stake holder guna menumpas ancaman terorisme.

(img/rd/rp)

Berita terkait: Kapolda Bali: Butuh Kerjasama Seluruh Stake Holder Untuk Tangani Terorisme

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password