Kapolda Bali: Butuh Kerjasama Seluruh Stake Holder Untuk Tangani Terorisme

Tribratanews.polri.go.id – JAKARTA. Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose mewakili Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D., menghadiri acara Indo Defence 2018 Expo & Forum di Hall C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (8/11). Kehadiran Kapolda Bali dalam acara ini sebagai narasumber dengan tema “Menjamin Stabilitas Regional Melalui Kerjasama Dalam Penanggulangan Terorisme”.

Jenderal Bintang Dua tersebut menyampaikan bahwa terorisme telah menjadi permasalahan global bagi negara-negara di dunia. Kerena menimbulkan kerugian materil maupun korban jiwa, sehingga kerja sama sangat penting dibutuhkan untuk melawan segala macam bentuk terorisme.

Dari tahun 2000-2007 tercatat ada 27 kali serangan bom besar di wilayah Indonesia, sedangkan tahun 2018 telah terjadi 21 aksi teror. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir aksi teror tersebut dilakukan oleh jaringan teroris Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang sebagian besar targetnya adalah aparat kepolisian dan gereja.

“Saat ini jaringan kelompok terstruktur yang ada di Indonesia terbagi atas dua afiliasi yaitu ISIS dan Al Qaeda. Dari dua afiliasi tersebut, ada beberapa kelompok seperti Jamaah Anshorut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Khilafah (JAK), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Anshorut Syariah (JAS), dan Jamaah Islamiyah (JI). Kelompok-kelompok ini juga berhubungan dengan jaringan teror yang berada di Asia dan juga Irak dan Siriah,” jelasnya.

Alumni Akpol tahun 1988 ini mengungkapkan terjadi pergeseran modus operandi yang dilakukan oleh jaringan terorisme, di antaranya propaganda yang sebelumnya secara konvensi melalui buku, majalah, poster, dan pamflet menjadi mengeksploitasi dunia maya. Selanjutnya, rekruitmen yang sebelumnya merekrut anggota dengan latar belakang pendidikan rendah dan ekonomi kelas menengah ke bawah menjadi yang berpendidikan tinggi dan berasal dari kelas ekonomi atas dengan melibatkan anak-anak serta istri sebagai pelaku bom bunuh diri.
Maka dari itu, dibutuhkan kerja sama dnegan stake holder yang kuat untuk menanggulangi terorisme yang menjadi permasalahan serius bagi semua pihak.

“Melihat pergeseran modus operandi tersebut, perlu kerjasama seluruh stake holder terkait dalam hal penanganan aksi terorisme. Yang mana, aktivitas terorisme selalu berputar dan terhubung satu sama lain mulai dari recruitment, training, logistic provision, paramilitary formation, planning, execution of attack, hiding, fundraising hingga propaganda,” tegasnya.

(img/rd/rp)

Berita terkait:

Berikut Modus Operandi Baru Yang Dilakukan Terorisme

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password