Polda Jatim Berhasil Tangkap Perampok Emas Sadis di Surabaya

Tribaratanews.polri.go.id – Surabaya. Ditreskrimum Polda Jatim berhasil membekuk perampok sadis yang beroperasi di wilayah Sumenep 9 Oktober lalu. Polisi berhasil menangkap 4 di antara 7 perampok tersebut.

Dari hasil pemeriksaan, ternyata para pelaku sempat menembak kedua korban sebelum merampas perhiasan emas 7 kg dan uang senilai Rp 200 juta. Akan tetapi, tembakan tersebut gagal. Sebab, peluru yang ditembakkan malah jatuh dari silinder pistol rakitan itu. Tak ingin korbannya lolos, pelaku lalu membacok korban hingga mengalami luka parah.

Para perampok sadis yang berhasil diringkus polisi adalah Sariman Slawi, Sati’in, Sulaiman Bakri, dan Kossim Amrosi. Semua merupakan warga Bangkalan, Madura. Mereka adalah residivis curas asal Bangkalan. Ada yang menjadi penjambret, ada juga yang memang merampok emas sejak lama.

”Anggota komplotan ini ternyata tujuh orang. Tiga masih buron,” kata Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Agung Yudha Wibowo, S.I.K.

Tiga buron paling dicari Polda Jatim itu bernama Muhali, Bairi, dan Huri. Para pelaku itu juga berasal dari Bangkalan. Ketiganya merupakan tetangga kampung empat pelaku yang sudah tertangkap. Eksekutor lapangannya memang enam, namun ada satu orang yang berada di balik layar untuk membantu pemetaan aktivitas korban. Dia tidak terlibat saat perampokan.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Leonard M Sinambela, SH SIK, MH mengungkapkan, komplotan Sariman Slawi adalah pemain lama. Mereka diketahui mulai kembali merampok di Pulau Garam sejak setahun lalu. Persisnya pada bulan September 2017.

”Waktu itu berhasil menggasak 6 ons emas dan uang Rp 18 juta,” tutur Kasubdit III Jatanras itu.

Dia menyebutkan, masih ada dua TKP lain yang dikembangkan polisi. Sebab, sejauh ini, komplotan perampok emas yang kambuh lagi hanya komplotan Sariman alias Odi.

Setelah merampok korban atas nama Slamet Hariyanto dan Januar Elya Savitri pada 9 Oktober lalu, mereka langsung membagi hasil rampasan di sebuah rumah di Bangkalan. Sistem pembagiannya unik. Tujuh kilogram itu hanya dibagi dengan menggunakan tangkupan telapak tangan.

”Nggak pakai timbangan,” tambah AKBP Leonard.

Sementara itu, uang Rp 200 juta yang dirampas dari pundak korban atas nama Elya juga dibagi rata ke tujuh anggota komplotan. Masing-masing mendapat Rp 27 juta. Sisanya dibuat foya-foya bersama. Emas hasil rampasan senilai Rp 3,7 miliar itu dijual murah ke para pedagang emas di pasar-pasar tradisional.

Misalnya, pelaku Sati’in. Dia menjual seluruh emasnya hanya seharga Rp 65 juta. Uang tersebut digunakan untuk biaya renovasi rumahnya.

Namun, tak semua memilih jalan seperti Sati’in. Sulaiman malah berusaha menjual emas mendekati harga standar satu per satu ke pasar tradisional. Akibatnya, belum sempat semua habis terjual, dia sudah diciduk polisi bersama seluruh barang rampasannya.

”Dia yang paling banyak barang buktinya. Cincin emas 67 buah, anting 15 buah, sama gelang besar itu ada 17 buah,” lanjut Kasubdit Jatanras itu.

Sementara itu, Sariman, kepala komplotan, memilih menitipkan emas hasil kejahatannya kepada anggota lain yang masih buron, Muhali, agar dijualkan. Hasil penjualan tersebut masih sisa Rp 35 juta yang kini disita petugas. Sedangkan uang tunai yang didapat langsung digunakan untuk membeli motor Honda Beat putih.

Temuan awal soal adanya pistol yang digunakan muncul saat olah TKP sehari setelah kejadian. Saat itu, Tim Inafis Polres Bangkalan menemukan satu butir peluru kaliber 38 di sekitar lokasi kejadian. Peluru itulah yang hendak digunakan untuk membunuh kedua korban.

Tiga anggota komplotan yang buron kini masih dikejar petugas ke beberapa kota di Pulau Garam dan area Tapal Kuda. Terutama pelaku Muhali, karena  menjadi perantara penjualan emas hasil rampasan beberapa rekannya.

(my/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password