Opini : Kenapa Polri dan Islam Sering Dibenturkan

Tribratanews.polri.go.id, Polres Balangan – Karya tulis dari personel Polres Balangan terus berkembang, berbagai topik pembahasan diulas dengan baik, salahsatunya tulisan dari Brigadir Kepala DINO, dibawah ini.

  1. Polisi, Islam dan Pancasila

Polisi adalah aparat negara yang bertugas memelihara kamtibmas yang menurut UU No 2 tahun 2002 tentang Polri bertugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta penegak hukum. Karenanya dalam setiap lini kehidupan masyarakat pasti akan ada bersinggungan dengan Polisi, sehingga sering disebutkan bahwa Polisi dicintai sekaligus dibenci (walaupun pendapat ini kurang tepat).

Islam adalah agama Allah aza wa jalla yang diturunkan kepada seluruh manusia mulai Nabi Adam alaihi wassalam dan disempurnakan Oleh Nya sebagai risalah yang sempurna melalui Rasul Penutup Muhammad Shallalahu alaihi wassalam [QS. Al Maidah (3)].

Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik dengan dasar negara adalah Pancasila dan UUD 1945, dengan mayoritas agama rakyatnya memeluk agama adalah Islam dan syiar-syiar Islam yang kental di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Pancasila sendiri sebagai dasar negara sangat terasa nilai-nilai Islami dalam setiap silanya dan Pancasila menempatkan ajaran Keesaan Tuhan (Tauhid) sebagai sila pertama yang dalam pelaksanaan pada praktek kehidupan bermasyarakat harus menjadi landasan pokok yang menjiwai sila-sila yang di bawahnya termasuk seluruh peraturan perundang-undangan lainnya.

Polisi Republik Indonesia dengan tugas yang mulia tersebut di awal tulisan ini sangat bersesuaian dengan syariat Islam yakni amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan syariat Islam dalam konteks kehidupan bernegara mengisyaratkan tentang peran ulil amri yang wajib ditaati [QS. An Nisa (59)].

Para ulama sepakat bahwa para peran Nahi Mungkar (Penegakkan hukum) dilaksanakan oleh Ulil Amri (Pemerintah) yang dalam prakteknya dilaksanakan oleh Polisi (dan aparatur penegak hukum lain). Dari uraian tersebut di atas secara prisip dan teori maka Polisi adalah bagian tak terpisahkan dari Islam dan mempunyai peranan yang sangat penting bagi penerapan Syariat Islam secara Kaffah (menyeluruh). Sehingga sewajarnya Polisi dan kaum Muslimin di RI bagian yang saling mengisi dan mendukung dan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai kekuatan utama negara dan bangsa Indonesia.

  1. Adanya upaya membenturkan Polisi dan Islam

Dewasa ini keadaan dalam realita kehidupan masyarakat, Polisi yang sudah bertambah dewasa dan matang, dapat diterima dan meraih kepercayaan yang tinggi dari masyarakat dan dalam survey pada bulan Mei 2018  dari eksternal yaitu Alvara Research Center menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada Polri di angka 82,4% lebih tinggi dari KPK 78,8%.

Namun dalam situasi ini, kinerja maksimal Polri tetap ada pihak yang merasa tidak senang. Bahkan ada yang berusaha membuat Polri tidak dicintai masyarakat dan mencoba membenturkan Polisi dan Islam yang merupakan agama yang terbesar pemeluknya di RI. Upaya kelompok ini dilakukan dengan cara-cara menghembuskan Polri tidak Pro Islam, setiap upaya penegakkan hukum oleh Polri disebut kriminalisasi dan sebagainya. Keadaan ini apabila dihembuskan secara signifikan akan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa karena ibarat api dalam sekam yang lambat laun akan menggeroggoti bagai virus.

Sebagai contoh kita bisa lihat permasalahan paham takfiri yang semula tidak berkembang di RI, namun sekarang berkembang bak jamur di musim hujan dan untuk itu haruslah ada langkah kongkrit dalam mengatasi situasi tersebut di atas.

III.     Apa Pengaruh dan Penyebab Masalah

Untuk mengantisipasi semakin membesarnya persoalan, maka kita harus menganalisa penyebab dan faktor yang mempengaruhi masalah tersebut, antara lain (menurut penulis) :

  1. Di Institusi Polri Sendiri
  • Polri memiliki peran penting dan posisi yang strategis dan bisa menjangkau setiap lini kehidupan masyarakat di RI, juga sebagai ulil amri (pemerintah). Setiap permasalahan bermasyarakat dan bernegara tentu tak luput dari pengamatan polisi. Mulai cekcok rumah tangga sampai tindakan subversi menjadi domain polisi. Maka sudah pasti ada yang tidak menyukai polisi yang “Seksi’ tersebut.
  • Masih adanya oknum polisi yang mencoreng citra polisi yang bisa menjadi stimulus bagi penyebar isu untuk membuat masyarakat antipati terhadap polisi.

 

  • Di Lingkup Eksternal

Politik

  • Isu politik selalu menarik perhatian masyarakat karena yang melempar isu pasti adalah politikus yang dikenal oleh masyarakat.
  • Paham yang mengatasnamakan Islam yang dapat mudah mengambil simpati dari masyarakat untuk mendukung baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
  • Ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin serta universal masih terasa asing. Hal ini menyebabkan masyarakat mudah disesatkan oleh ajaran sesat baik radikalisme, takfiri dan lain-lain
  • Adanya elit global yang tanpa disadari telah mencengkram dunia dengan kekuatan yang luar biasa. Kelompok ini anti agama yang bertujuan menghapus agama dan memerintah dunia di dalam satu komando kelompok mereka. Kekuatan mereka sangat kuat dan berpengaruh bahkan sudah menguasai perekonomian dunia dan memiliki jaringan tersebar di seluruh dunia, New World Order!!

Langkah – langkah yang perlu dilakukan

Berdasarkan indicator perumusan permasalahan diatas, maka penulis berpendapat perlu adanya suatu tindakan yang diambil. Maka dari itu penulis mencoba menyarankan langkah – langkah sebagai berikut :

  1. Memantapkan Integritas dan Profesionalitas Polri, hingga tidak ada ruang untuk mengeksploitasi Polri dalam pelaksanaan tugas mulia pelayanan masyarakat.
  2. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga keagamaan yang kredibel serta tokoh agama nasional untuk meningkatkan kemampuan keagamaan Anggota Polri maupun sebagai corong bagi Polri di masyarakat untuk menjawab isu yang kontra produktif.
  3. Memanfaatkan anggota di lapangan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat seperti Bhabinkamtibmas untuk menjelaskan kepada masyarakat terutama yang awam terhadap isu kontra produktif agar masyarakat paham bahwa “Polri untuk masyarakat“.
  4. Mencetak Da’i-da’i Kamtibmas untuk tampil berceramah dan berkhotbah di tengah masyarakat bersumber dari anggota Polri yang berpotensi dan mengerti betul konsep Islam Rahmatan Lil Alamin.
  5. Menekankan kepada anggota untuk menekan suara agar tidak terjadi Turbolensi yang merugikan bagi Polri, cukup satu sumber resmi saja yaitu Humas Polri untuk menjawab semua isu.
  6. Mulai memahami, mempelajari, menyadari dan mengantisipasi terhadap Elite Global yang sangat berbahaya dan mulai memetakan Elite Global dan jaringannya yang ada di Indonesia.
  7. Menjelaskan pada masyarakat tentang bahaya nya Disintegrasi bangsa dengan mengambil contoh sulitnya perjuangan Kemerdekaan tanpa Persatuan Bangsa dan bagaimana hancurnya Kawasan Timur Tengah akibat perpecahan di antara mereka.

JANGAN MAU DIADU DOMBA, KARENA KITA ADALAH SATU, REPUBLIK INDONESIA.

Demikian tulisan ini diharapkan bermanfaat bagi kita semua dan mendapat amal dari Allah  azawa jalla. Mohon dimaafkan segala kekurangan dan kelemahan penulis dan penulis tidak sedikitpun bermaksud menyakiti siapa pun, kecuali wa ta wash shaubil haqqi wa ta wash shaubil sobr!!  (Bripka DINO)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password