Kapolda DIY Berpesan Kepada Civitas Akademika UTY, Agar Tidak Mudah Terprovokasi Paham yang Tidak Jelas Akarnya

Kapolda DIY

Tribratanews.polri.go.id -PoldaDIY, tantangan Kebhinekaan NKRI dewasa ini masih terjadi intoleransi baik antar umat beragama maupun inter umat beragama. Masih ada kelompok yang memaksakan untuk mengganti ideologi atau dasar negara dengan ideologi tertentu. Selain itu memudarnya nilai-nilai Luhur budaya bangsa akibat dari globalisasi yang tidak difilter dengan baik.

Demikian kata Kapolda DIY Brigjen Pol. Drs. Ahmad Dofiri, M.Si., saat menjadi narasumber tunggal dalam acara Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Teknologi Yogyakarta, Jombor, Sleman, Senin (10/9/2018), yang bertemakan pencegahan radikalisme di kalangan mahasiswa.

Dihadapan segenap Civitas Akademika UTY antara lain Rektor UTY Dr. Bambang Moertono Setiaqan, M.M., Akt., CA., Para Pejabat Struktural UTY dan sekitar 3000 mahasiswa, Kapolda memaparkan pada era kompetisi Global saat ini, penghancuran negara tidak lagi dilakukan secara konvensional tapi dapat dilakukan dengan sasaran non fisik diantaranya melalui ideologi, ekonomi, budaya, dan operasi intelijen.

“Tujuan perang bukan lagi penguasaan teritorial tetapi pada penguasaan negara terutama sumber daya ekonomi. Negara kaya Energi dan Sumber daya mineral dan ekologi bagus seperti Indonesia ini akan menjadi incaran banyak pihak. Permasalahan sekarang adalah bagaimana pemahaman kebangsaan dalam menjaga kedaulatan NKRI tersebut melekat di hati kita,” tegas Kapolda.

Selain itu, kondisi faktual yang mempengaruhi harkamtibmas saat ini menurut Kapolda yaitu peredaran narkoba, pengaruh Internet / media sosial yang tidak tentu kebenarannya. Serta intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

“Pada media sosial sendiri, medsos memiliki kerawanan yang lebih besar dibandingkan dengan media konservatif. Karena siapa saja bisa menjadi pemilik media, jurnalis, penulis, yang dapat menshare apa saja yang diinginkan,” ujarnya.

Kapolda menjelaskan bahwa jenis penyebaran berita negatif melalui internet atau media sosial diantaranya berita bohong (Hoax), berita palsu (Fake News), penyebaran kebencian (Hate Speech) dan pencemaran nama baik.

“Masyarakat harus waspada dan berhati-hati dalam mendownload, menshare berita yang tidak bisa dipastikan tingkat kebenarannya,” sambungnya.

Terkait radikalisme di media sosial Kapolda DIY mengatakan ciri-ciri situs radikal yaitu memiliki konten Ideologi radikalisme dan terorisme. Melakukan penghasutan bermuatan Sara. Menyebarkan pemahaman menjelekkan kelompok lain. Menyebarkan pemahaman jihad yang sempit dan jauh dari Kedamaian.

Kapolda DIY

“Selain itu, ciri cirinya juga mengatasnamakan kelompok radikal teroris dan mengajak masyarakat mengikuti tujuannya. Menyebarkan kebencian dan kekerasan. Dan melakukan ancaman terhadap keutuhan NKRI,” tambahnya.

Diakhir kuliah umum, Kapolda mengajak agar para mahasiswa untuk katakan tidak pada narkoba. Dan menggunakan media sosial dengan bijak. Jangan kepincut atau tergiur apapun terkait ajakan di media sosial (yang tidak jelas kebenarannya). Sedangkan intoleransi radikalisme dan terorisme itu adalah 1 paket. Agar juga mewaspadai.

“Jadi tolong saya wanti-wanti betul jangan sampai Kemudian Anda tergiur terkait permasalahan seperti itu (Narkoba, Hoax Medsos, dan terorisme) karena masa depan Anda masih sangat panjang. Oleh karena itu saya titip betul jangan sampai kemudian mudah terprovokasi terkait paham-paham yang tidak jelas akarnya dan sumbernya,” harap Kapolda.

(Sj/Sw/Hr)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password