Polisi Peduli, Kapolsek Ujung Bulu Ikut Gotong Jenazah Warganya ke Pemakaman

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kapolsek Ujung Bulu Akp H Syafaruddin, C datang melayat ke rumah duka Almarhum Muh. Syarifuddin di Komplex BTN 1 Kel. Loka, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Rabu (24/04/18).

Almarhum Muh. Syarifuddin meninggal karena sakit, beliau merupakan orang tua dari Brigpol Ahamd Syarif yang bertugas di Polsek Ujungbulu Polres Bulukumba.

Dengan kehadiran Kapolsek Ujung Bulu Akp H Syafaruddin bersama Personil Polsek Ujungbulu Polres Bulukumba bukan hanya datang  melayat dirumah duka tetapi ikut mengusung jenazah dan menyolati jenazah di Mesjid Nurul Falah dilanjutkan dengan mengangkat atau menandu jenazah sampai ketempat liang lahat.

“Saya beserta keluarga besar Polres Bulukumba mengucapkan turut berduka cita yang sebesar besarnya serta mendoakan arwah almarhum diterima disisi-Nya,” ujar Kapolsek Ujung Bulu.

Ditambahkan lagi kalau ini merupakan jalinan silaturahmi kami sebagai Polri dan kedekatan kepada masyarakat karena dengan Kehadiran kami kerumah duka dan ikut mendoakan almarhum ini merupakan tugas yang sangat mulia dan sekiranya dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya. (Humas Polres Bulukumba)

Kepedulian yang diperlihatkan oleh Kapolsek Ujung Bulu merupakan salah satu upaya yang dapat menumbuhkan empati masyarakat terhadap keberadaan Polri.

Dalam rangka membangun empati antara Polri dan masyarakat, perlu dipahami kedua kemampuan ini yakni kemampuan saling mempercayai dan kemampuan empati. Empati adalah kunci membina kepercayaan dari masyarakat. Rasa percaya atau trust relevan sekali dalam kondisi sosial tertentu.

Dalam kehidupan masyarakat, Polisi memainkan banyak peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mengatur lalu lintas, menegakkan hukum, menyidik perkara, memelihara keamanan dan ketertiban, dan melindungi keselamatan warga negara adalah sebagian dari tugas polisi. Istilah yang sering digunakan adalah melayani, melindungi, dan mengayomi.

Walaupun peran polisi sangat banyak, atau karena peran polisi sangat banyak, pengetahuan masyarakat mengenai polisi, motif polisi, dan tanggapan atau respons polisi, sangat terbatas.

Ada ketidaktahuan dan ketidakpastian di masyarakat luas mengenai kinerja polisi. Pada saat yang sama, dengan peran yang banyak tersebut, yang disertai dengan kewenangan yang dimiliki polisi berdasarkan konstitusi dan undang-undang, polisi memiliki peluang dan kesempatan untuk mengecewakan harapan-harapan masyarakat. Anggota Polri ada yang melakukan korupsi, pungutan liar, dan penyalahgunaan wewenang lainnnya.

Supaya kepercayan pulih, Polri bisa mengembangkan norma dan kode etik yang mewajibkan anggota supaya tidak mengkhianati warga masyarakat yang memercayainya.

Jika warga masyarakat bertemu dengan banyak polisi yang jujur, dan hanya sesekali mendapatkan polisi yang tak jujur, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat. Selanjutnya, polisi akan memiliki reputasi atau nama baik. Kalau institusi Polri memiliki reputasi dan nama baik, anggota polisi akan merasa berkepentingan menjaga reputasi dan nama baik polisi di mata warga negara. Pada gilirannya pula, masyarakat akan semakin mempercayai polisi.

Polisi yang memiliki empati tinggi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang lebih tinggi juga. Karena polisi berusaha memahami dan peduli dengan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan masyarakat, maka polisi memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang diperlukan supaya profesinya dapat dijalankan lebih baik.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password