Melalui Khutbah Jumat, Polisi Jambi Ajak Jamaah Gali Pesan Moral Perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah SAW

Tribratanews.polri.go.id, Polda Jambi –  Paur Sibinsiskamling Subditbinpolmas Ditbinmas Polda Jambi  Ustadz Iptu Purwanto melaksanakan kegiatan program Jum’at Keliling dengan menjadi khatib di Masjid Al Ikhlas Thehok Jambi Selatan, Jum’at (13/4/2017).

Dalam kutbahnya Ustadz Iptu Purwanto mengatakan Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw.

“Dalam peristiwa ini, beliau diperjalankan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, kemudian dilanjutkan ke Sidrah al-Muntaha dalam kurun waktu semalam. Kisah ini dijelaskan dalam  Alquran secara terpisah; yaitu dalam QS. Al-Isra’: 1 dan QS. An-Najm: 13-18, ” Ustadz Iptu Purwanto.

Demikian pula dalam hadis, dijelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah saw melalui riwayat sahabat Anas bin Malik. Dalam hadis tersebut, dijelaskan uraian perjalanan Rasulullah SAW selama Mi’raj menuju langit. Di setiap pintu langit beliau bertemu para nabi, di antaranya Nabi Adam, Idris, Musa, ‘Isa dan Ibrahim. Dalam peristiwa Mi’raj ini juga beliau mendapat risalah kenabian berupa perintah shalat bagi umat Islam.

“Dalam konteks sosial, peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dilihat ketika beliau shalat dengan para nabi, padahal mereka berbeda bangsa dan warna kulitnya. Maka ini berarti bahwa negara Islam yang akan ditegakkan Rasulullah Saw dengan ideologinya akan menaungi semua kaum mukminin tidak membeda-bedakan antara yang hitam dengan yang putih, antara bangsa Arab dengan non-Arab, ” tutur Ustadz Iptu Purwanto.

Bangsa-bangsa yang berbeda itu semuanya akan dilebur dalam wadah keimanan, kemudian dituang dalam cetakan dalam bentuk penerapan syari’at Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. Di dalam negara ini kesempatan untuk menduduki jabatan tinggi dan berlomba untuk mendudukinya diberikan kepada semua tanpa membeda-bedakan. Sungguh pintu-pintu negara terbuka bagi siapa saja yang memiliki kelebihan untuk menduduki jabatan tinggi, sebagaimana diberinya kesempatan di depan semua orang yang shalat tanpa dibeda-bedakan untuk ikut berlomba, dan pintu-pintu langit terbuka untuk menerima amal perbuatan mereka yang turut dalam berlomba.

Dengan demikian, mukjizat Isra’ telah meletakkan landasan yang baru untuk membangun masyarakat baru yang telah direncanakan berdirinya di bawah naungan ideologi dan negara.

Sementara dalam dari sisi spiritual, harus disebutkan bahwa mukjizat Isra’ dan Mi’raj terjadi menyusul rentetan kejadian yang menyedihkan (dramatis) yang dihadapi oleh Rasulullah Saw. Di antaranya adalah meninggalnya paman beliau, Abu Thalib, yang telah banyak melindungi beliau dari penyiksaan kaum Quraisy. Disusul dengan meninggalnya istri beliau, Khadijah, yang terus menerus menambah semangat, tekad yang kuat dan kemauan yang keras dalam diri beliau, serta semakin kerasnya siksaan kaum Quraisy dan orang-orang yang menjadi sekutunya, sehingga peristiwa beruntun yang terjadi di tahun itu dinamakan dengan ‘amul huzni (tahun berduka cita).

Allah Swt hendak menghibur Rasul-Nya dengan perjalanan yang penuh berkah. Dalam perjalanan itu, tepatnya di Baitul Maqdis beliau shalat bersama para nabi dan beliau tampil sebagai imam. Seolah-olah Allah swt berfirman tentang peristiwa ini kepada Nabi dan sekaligus kekasih-Nya: “Wahai Muhammad, sesungguhnya masa depan milikmu dan umat sesudahmu, sehingga batas negaramu akan melewati Baitul Maqdis, begitu juga warisan-warisan agama terdahulu berada di pundakmu.”

Sambil shalat di belakang Rasulullah saw, para Rasul Allah itu seolah-olah berkata kepada beliau: “Pergilah menuju Tuhanmu, doa kami selalu bersamamu.” Ketika beliau Mi’raj ke langit, seolah-olah para malaikat di langit berkata kepada beliau: “Jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit telah membuka dadanya untukmu. Jika orang-orang yang bodoh dan zalim di antara penduduk bumi menyakitimu, maka penduduk langit telah berdiri menyambut kedatanganmu.”

Semua ini telah menciptakan semangat baru dalam diri Rasulullah Saw dan kaum mukminin. Sehingga setelah beliau kembali dari perjalanan yang penuh berkah ini, beliau mulai menawarkan Islam dengan penuh semangat dan optimisme kepada suku-suku dan para delegasi yang datang ke Mekah guna berhaji.Dari kisah peristiwa Isra’ Mi’raj ini, sekiranya kita sebagai umat Islam dapat mengambil pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan moral tersebut baik dari dimensi sosial maupun dimensi spiritual. Dari sisi sosial, konteks Isra’ Rasulullah Saw shalat bersama para Nabi terdahulu dengan tanpa pandang suku maupun perbedaan lainnya. Jika dikontekstualisasikan dengan zaman sekarang, hal ini dapat menjadi pijakan kaum Muslim agar lebih toleransi terhadap setiap perbedaan; baik sesama terhadap Muslim maupun dengan non-Muslim.

“Sementara dari sisi spiritual, kita dapat mengambil hikmah berupa keyakinan terhadap Sang Maha Pengasih, bahwa Dia selalu menyertai hamba-Nya. Selain itu, menjadi motivasi untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya, agar berusaha menjadi hamba-Nya yang taat dan mempunyai himmah yang kuat dalam beragama; baik dari sisi ritual, sosial, maupun intelektual,” pungkasnya.

DSC_3729

Penulis : lilik Adhi.

Admin Polri54660 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password