Dua Pelaku Curas Diamankan Aparat Polsek Tamalate dari Amukan Massa

Artikel, Dua Pelaku Curas Diamankan Aparat Polsek Tamalate dari Amukan Massa1

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Pelaku pencurian dengan kekerasan (curas) berhasil diamankan Anggota Polsek Tamalate dari amukan massa  di Jalan Malombasang Makassar sekitar pukul 13.00 wita siang hari, Selasa (13/03/18).

Penangkapan yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Tamalate Kompol Muh. Aris berhasil meringkus dua tersangka pencurian dengan kekerasan (curas) yang diduga sering beraksi di Jalan Malombasang. Kedua tersangka yang disamarkan identitasnya yakni RN (30) seorang wiraswasta dan SD (25) juga seorang wiastasta berhasil diamankan Polisi.

Artikel, Dua Pelaku Curas Diamankan Aparat Polsek Tamalate dari Amukan Massa

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saat kejadian berlangsung salah seorang anggota Binmas Polsek Tamalate menghungi saya memeberi tahukan kejadian tersebut, tanpa berpikir panjang saya bersama kanit Sabhara Polsek Tamalate dan reskrim Polsek menuju lokasi untuk mengamankan kedua pelaku dari amukan massa”, jelas Kompol Muh. Aris.

Kedua tersangka RN dan SD pun diamankan dari amukan massa, keduanya bersama barang bukti berupa satu buah Handphone hasil rampasan mereka dan satu unit motor merk Yamaha warna merah yang mereka gunakan untuk melakukan perampokan di bawa ke Polsek tamalate untuk diproses lebih lanjut.

Setelah diintrogasi oleh Polisi kedua pelaku RN dan SD mengakui perbuatan mereka, kedua pelaku juga mengakui mereka melakukan pencurian disertai dengan kekerasan sebanyak dua kali di tempat kejadian yang sama yakni pertama pada bulan Oktober 2017 di Jalan Malombasang Makassar dan mereka berhasil merampas sebuah Handphone merk Samsung Galaxy berwarna putih yang mereka jual pada seorang warga Kab. Gowa, terakhir pada tanggal 13 Mater 2018 mereka mengakui melancarkan aksi di tepat yang sama dan berhasil merampas sabuah Handphone merk  Samsung J116 dan berakhir di amukan massa.

Karena perbuatan mereka yang merugikan Masyarakat kedua Pelaku RN dan SD kini mendekam dijeruji tahanan Polsek Tamalate untuk menjalani proses hukum lebih lanjut guna mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

Pengamat Sosial khusus masalah kemiskinan dari Universitas Indonesia, Priadi Permadi mengatakan, fenomena pelaku aksi begal yang terjadi pada sejumlah kota besar di Indonesia merupakan bentuk kejahatan kriminal yang sejajar dengan masalah ekonomi. Kesenjangan sosial dan kesulitan hidup yang terjadi menjadi salah satu faktor pemicu kejahatan pelaku pembegalan di jalanan.

Pemicu lainnya kemudian ditambah dengan tidak adanya pemerataan lapangan kerja membuat masyarakat terutama pemuda dengan pendidikan rendah semakin sulit untuk mencari penghasilan. Untuk itu, masalah inilah yang utamanya perlu diatasi.

Tak hanya itu, menurut Priadi, faktor kriminal itu juga didorong dengan adanya iklan maupun film di televisi yang menunjukkan hidup bergelimangan harta. Akibatnya, orang pun akan menggunakan segala cara agar bisa menjadi seperti itu.

Selain itu, faktor penegakan hukum pun tak luput dari perannya dalam meningkatkan jumlah kriminalitas. Dengan jumlah aparat kepolisian yang kurang, ditambah faktor ekonomi para penegak hukum tersebut, menjadi faktor lainnya kriminalitas seperti pembegalan meningkat.

“Seharusnya penegak hukum pun memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kriminal tersebut. Jangan sampai kasus anak jalanan yang kemudian ditangkap dan bebas setelah ditebus menjadi salah satu faktor membuat anak jalanan tersebut berani melakukan kriminalitas lebih tinggi,” ucapnya.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak-anak dalam masalah seperti ini terutama orang tua dan pemerintah. Para orangtua seharusnya bersikap ekstra hati-hati dan memantau secara rutin setiap tahap perkembangan anaknya. Lalu pemerintah harus bekerja lebih maksimal lagi dalam mensejahterakan rakyatnya.

Misalnya, meringankan biaya pendidikan agar anak-anak memiliki ilmu dan skill yang bisa digunakan untuk meringankan beban orang tua mereka. Lalu memberikan dana/uang jatah bulanan kepada warga miskin. Membatasi jumlah penduduk tiap tiap pulau, sehingga tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi di salah satu pulau/ pemindahan orang–orang ke pulau lain.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password