Deklarasikan Gerakan Masyarakat Sulbar Melawan Hoax Mendukung Polri Dalam Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Penyebar HOAX

tribratanews.polri.go.id – Polda Sulbar, Sekitar 150 elemen masyarakat Prov. Sulbar  yang terdiri dari unsur pemerintah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelajar dan mahasiswa serta pimpinan organisasi profesi kewartawanan di Sulbar, Jum’at (09-03-2018) pukul 09.00 wita, mendeklarasikan Gerakan Masyarakat Sulbar Melawan Hoax.

Kegiatan deklarasi yang dipadukan dengan dialog publik itu diselenggarakan oleh Foundation Jari Manis Sulbar bekerja sama dengan sejumlah organisasi profesi kewartawanan yaitu Hari Metro Sulawesi, Mamujutoday.com, Infosulbar.com, Tribun Timur, FKPI Mamuju, RBFM Sulbar serta Manakarranews.com untuk Mendukung Polri dalam penegakan hukum terhadap pelaku penyebar HOAX.

Kepala Kopolisian Daerah Sulawesi Barat yang diwakili oleh Dir Intelkam dan Plt Subdit II dit Krimsus Polda Sulbar dalam kesempatan itu mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai upaya pemantapan komitmen masyarakat membantu pemerintah melawan berita bohong (hoax) yang marak disebarluaskan melalui media sosial.

“Saya berharap semua yang hadir di sini bisa menjadi virus untuk menyebarkan komitmen melawan hoax ini ke teman-teman di lingkungannya sehingga kita bisa semakin cerdas menggunakan media sosial,” katanya.

Kapolda Sulbar Melalui Plt Subdit II dit Krimsus Polda Sulbar itu menjelaskan, saat ini jumlah pengguna internet atau media sosial terus bertambah seiring waktu, bahkan Kementerian Komunikasi dan Informasi mencatat jumlah pengguna di Indonesia telah mencapai sekitar 132,7 juta orang.

Era internet, kata jenderal berbintang Satu ini, mampu menghadirkan berbagai kemudahan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi maupun pemanfaatan untuk kepentingan sosial ekonomi. Namun, lanjutnya, dampak lain kehadiran internet membuka ruang lebar bagi kehadiran informasi atau berita-berita bohong tentang suatu peristiwa yang meresahkan publik.

“Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu,” katanya.

Menurutnya, internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat.

mencontohkan, berita-berita bohong tentang penculikan anak dan penjualan organ tubuh yang membuat masyarakat saling curiga, bahkan dampaknya orang yang tidak bersalah pun menjadi korban amukan massa karena dituduh melakukan penculikan anak-anak.

Dalam konteks maraknya penyebaran informasi palsu itulah, Ditemui Ditempat Lain Brigjen Pol Drs. Baharudin Djafar, Msi mengajak semua elemen masyarakat agar mengambil sikap kritis dan cerdas menggunakan media sosial dengan tidak menyebarluaskan informasi negatif dan palsu.

“Setiap informasi yang masuk harus diteliti secara baik kebenarannya, jangan informasi negatif yang bohong kita sebarluaskan yang hanya memicu konflik, sebaliknya berita yang menciptakan kepercayaan, keharmonisan, memupuk persatuan dan persaudaraan, demi kepentingan Kamtibmas silahkan disebarluaskan,” katanya.

Pembicara lain dalam dialog publik yang dipandu moderator Ashari Rauf Sekaligus Ketua Pelaksana itu adalah Kapolda Sulbar yang Diwakili oleh Plt Subdit II dit Krimsus Polda Sulbar, Kadiskominfo Prov. Sulbar, Ketua MUI Kab. Mamuju, Praktisi Hukum, Ketua IJS Sulbar, serta Dewan Pendidikan Mamuju.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang pluralis, masyarakat yang rawan terprovokasi ujaran kebencian dan isu SARA, berkemungkinan akan terdorong untuk terlibat dalam aksi-aksi yang meresahkan. Jangankan mengembangkan toleransi dan kohesi sosial, jika masyarakat mudah terprovokasi, yang timbul ialah jarak, kebencian, dan kemungkinan terlibat dalam konflik terbuka yang berkepanjangan.

Kedua, masyarakat tidak hanya perlu memiliki literasi digital, tetapi yang tak kalah penting ialah kepemilikan literasi kritis yang benar-benar memadai. Di era perkembangan masyarakat digital, banyak para netizen memang makin ahli dalam menggunakan teknologi informasi. Namun, itu bukan jaminan bahwa mereka telah melek media dan memiliki literasi kritis agar senantiasa berhati-hati jika menerima kebenaran sebuah informasi.

Ketiga, masyarakat perlu menyadari bahwa keterikatan pada sebuah ideologi dan fanatisme yang berlebihan akan berisiko melahirkan benih-benih syak wasangka atau embrio konflik yang kontra-produktif bagi kelangsungan kehidupan sosial masyarakat.

Sering terjadi, hanya karena keyakinan pada ideologi tertentu, seseorang menjadi begitu mudah terprovokasi ujaran kebencian karena di sana tidak muncul sikap kritis dan jeda waktu untuk merenung. Sehingga intinya, yang dibutuhkan ialah bagaimana membentengi diri sekukuh mungkin dari penyebaran kebohongan, hoaks, dan ujaran kebencian untuk Indonesi yang Damai.

Penulis : Humas Polda Sulbar

Editor   : Alfian

Publish : Andi Srirahayunita

Admin Polri56599 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password