Kapolda Sulbar Beserta Jajaran Mengajak Seluruh Elemen Membentengi Masyarakat dari Hoaks

tribratanews.polri.go.id – polda Sulbar, Bagaimana seharusnya membentengi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi? Dari perkembangan yang ada, terutama soal maraknya ujaran kebencian di dunia maya, salah satu agenda terpenting dalam rangka membangun ketahanan bangsa Indonesia ke depan adalah tentang bagaimana membentengi diri dari hoaks dan ujaran kebencian.

Membiarkan hoaks merajalela meluas di media sosial, sangat berisiko membentuk opini yang penuh syak wasangka. Akibat hoaks dan ujaran kebencian adalah opini yang terbentuk di benak masyarakat niscaya tidak berdasarkan fakta, tetapi lebih karena pengaruh hasutan dan propanganda.

Untuk mencegah agar masyarakat tidak rawan terprovokasi hoaks dan ujaran kebencian, yang dibutuhkan tentu bukan sekadar imbauan agar para warganet tidak mudah menyirkulasi informasi hoaks dan ujaran kebencian. Namun, yang tidak kalah penting ialah bagaimana melakukan edukasi agar masyarakat memiliki kepekaan dan kehati-hatian menyikapi hoaks dan ujaran kebencian.

Pertama, masyarakat perlu menyadari risiko dan bahaya yang timbul jika mereka terkontaminasi hoaks dan ujaran kebencian yang tendensius dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang pluralis, masyarakat yang rawan terprovokasi ujaran kebencian dan isu SARA, berkemungkinan akan terdorong untuk terlibat dalam aksi-aksi yang meresahkan. Jangankan mengembangkan toleransi dan kohesi sosial, jika masyarakat mudah terprovokasi, yang timbul ialah jarak, kebencian, dan kemungkinan terlibat dalam konflik terbuka yang berkepanjangan.

Kedua, masyarakat tidak hanya perlu memiliki literasi digital, tetapi yang tak kalah penting ialah kepemilikan literasi kritis yang benar-benar memadai. Di era perkembangan masyarakat digital, banyak para netizen memang makin ahli dalam menggunakan teknologi informasi. Namun, itu bukan jaminan bahwa mereka telah melek media dan memiliki literasi kritis agar senantiasa berhati-hati jika menerima kebenaran sebuah informasi.

Ketiga, masyarakat perlu menyadari bahwa keterikatan pada sebuah ideologi dan fanatisme yang berlebihan akan berisiko melahirkan benih-benih syak wasangka atau embrio konflik yang kontra-produktif bagi kelangsungan kehidupan sosial masyarakat.

Sering terjadi, hanya karena keyakinan pada ideologi tertentu, seseorang menjadi begitu mudah terprovokasi ujaran kebencian karena di sana tidak muncul sikap kritis dan jeda waktu untuk merenung. Sehingga intinya, yang dibutuhkan ialah bagaimana membentengi diri sekukuh mungkin dari penyebaran kebohongan, hoaks, dan ujaran kebencian. #untukindonesidamai

Penulis : Humas Polda Sulbar

Editor   : Alfian

Publish : Andi Srirahayunita

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password