Ini Kisah Haru Anak Buruh Harian yang Dilantik Menjadi Polisi

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Ada kisah menarik pada pelantikan polisi di SPN Batua Makassar, Selasa (06/03/18). Perjuangan Asrul (20) hingga lulus sekolah kepolisian dan menjalani pendidikan di SPN Batua Makassar tidak mudah. Di balik keberhasilannya menjadi bintara Polri berpangkat brigadir polisi dua (Bripda), tidak lepas dari kegigihan dan doa orang tua.

Asrul bersama 600 bintara baru se-Sulsel, Sulbar dan Maluku Utara mengikuti pelantikan Brigadir Remaja di SPN Batua yang dipimpin langsung Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono. Pria berambut pelontos itu tidak sanggup menahan air mata usai mencium kaki ayahnya Syamsuar (46).

Tujuh bulan lalu, putra sulung pasangan Syamsuar dan Rusnah, 45, itu tidak pernah menyangka bisa lulus seleksi bintara Polri di tengah keterbatasan harta. Orang tuanya tak punya uang cukup untuk membiayai dirinya saat mendaftar, apalagi banyaknya rumor uang “pelicin” bagi para calon polisi.

Kegigigannya meraih cita-cita akhirnya berbuah manis. Hanya bermodal duit tabungan sendiri, dia mendaftar hingga melalui semua tahapan seleksi.

Warga BTN Batara Ogi, Daya, Kecamatan Biringkanaya itu membuktikan, lulus bintara polisi tidak membutuhkan uang pelicin. “Alhamdulillah dua Minggu sebelum penutupan pendaftaran polisi tahun 2017 saya mendaftar. Saya tidak menyangka bisa lulus sampai sekarang, tidak ada bayar-bayar,” jelasnya.

Jalan yang ditempuh Asrul tidaklah mulus. Sebelum lulus bintara, putra pertama dua bersaudara itu pernah gagal tes polisi maupun tentara, pada 2016. “Pertama daftar bintara polisi tapi jatuh di kesehatan. Dan daftar juga bintara tentara jatuh di postur dan baru daftar lagi tantama gugur juga,” jelasnya.

Sementara Syamsuar yang terus meneteskan air mata tak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Dia mengaku tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk membiayai anaknya menjadi anggota polisi.

Sebab penghasilannya sebagai buruh bangunan tidak tetap, hanya dapat mencukupi kehidupan sehari-hari. “Kalau orang bilang ada bayar-bayar, anak saya buktinya, tidak ada sedikit pun. Saya hanya buruh harian. Nanti ada yang panggil kami kerja, kalau tidak menganggur,” tutur laki-laki paruh bayah itu.

Sebelum lulus bintara, Asrul kata Syamsuar selalu membantunya menjadi buruh harian. “Sering bantu saya angkat bata, aduk semen dan lainnya kalau ada panggilan kerjakan bangunan,” ungkapnya.

Syamsuar mengatakan, Asrul juga kadang-kadang membantu tantenya jual ikan. Semua uang yang diterima dari kerja kerasnya itu, disisihkan untuk mendaftar anggota Polri.

Sumber : makassar.sindonews.com

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password