Lantik 600 Siswa Polisi di SPN Batua, Ini Harapan Kapolda Sulsel

IMG-20180306-WA0018

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono memimpin langsung Upacara penutupan pendidikan pembentukan Bintara Polri di Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua. Sebanyak 600 siswa Sekolah Bintara (Seba) Polisi Polda Sulsel dilantik menjadi Brigadir Polisi Dua (Bripda), Selasa (06/03/18).

Dari 600  siswa Seba yang dinyatakan berhak menyandang pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda), 356 orang diantaranya berasal dari pengiriman Sulawesi Selatan, 88 orang dari Sulawesi Barat dan 156 orang dari Maluku Utara. Mereka didik selama tujuh bulan.

Kapolda Umar Septono mengatakan para bintara polisi sudah tujuh bulan mengikuti pendidikan. Mereka dituntut bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya. Jika mereka tak mampu menahan ujian di tengah masyarakat, hanya punya dua pilihan.

“Pilihannya hanya lanjut atau berhenti. Tidak ada yang membuat mereka dimanjakan dan diberikan perhatian yang lebih. Pada prinsipnya, jika  akibat karena kelalaian apalagi dengan kesengajaan, maka itu akan menjadi tanggung jawab masing-masing,” ucapnya.

Namun menurutnya, harus disadari waktu pendidikan yang relatif singkat belum cukup untuk menciptakan petugas lapangan tanggung dan professional, karenanya dilakukan berbagai upaya pengembangan kapasitas dan kemampuan diri secara terus menerus serta berkelanjutan.

“Mulai dari proses belajar dan pengalaman pada berbagai kegiatan operasional agar para anggota polisi ini bisa menjadi brigadir Polri berkualitas unggul dan bisa memberikan pelayanan prima kepada masyarakat,” ucapnya.

Harus diakui bahwa kinerja Polri dari hari ke hari telah mengalami kemajuan, bahkan banyak prestasinya yang membanggakan, walaupun belum dapat memenuhi tuntutan tugas secara optimal memenuhi harapan masyarakat. Dalam reformasi internalnya sudah mengalami kemajuan di bidang struktur dan instrumental, namun masih lemah pencapaiannya di bidang kultur.

Dalam pelaksanaan tugas pokoknya masih perlu peningkatan agar hasilnya lebih baik. Masyarakat masih belum sepenuhnya merasakan aman dan tertib dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. Kejahatan yang semakin brutal kurang diimbangi dengan sistem keamanan yang menyeluruh. Dalam penegakan hukum secara umum mengalami kemajuan walaupun masih perlu peningkatan kinerja secara sungguh-sungguh. Demikian juga dalam perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Di samping itu, masih banyak polisi yang menggunakan kekuasaan diskresi-fungsional yang tidak proporsional untuk kepentingan pribadi sendiri bukan untuk kepentingan tegaknya hukum dan keadilan. Adanya istilah ”denda damai” masih menjadi omongan masyarakat walaupun sulit dibuktikan. Juga banyak sopir truk yang mengeluh karena di jalan harus mengeluarkan uang pungutan liar. Pengawasan di lapangan oleh setiap atasan perlu digalakkan terus menerus.

Akibatnya, harapan masyarakat untuk memiliki polisi yang benar-benar baik dan bersih masih belum menjadi kenyataan. Masih banyak oknum polisi yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan-penyimpangan dari moral dan etika profesi polisi seperti pelanggaran Kode Etik Polri yang merupakan inti nilai-nilai yang dirumuskan dalam Tri Brata dan Catur Prasetya Polri. Penyimpang-penyimpangan yang dilakukan oknum anggota Polri karena masih lemahnya reformasi kultural, yang banyak menyangkut masalah pelanggaran moral, etika dan tidak berfungsinya hati nurani.

Banyak masyarakat belum merasa benar-benar menjadi mitra polisi, pada hal perkara ini sangat penting dalam mendukung tugas pokok Polri. Oleh karena itu, harus dilakukan pembenahan dari dalam secara sungguh-sungguh dan berlanjut agar citra Polri di mata masyarakat menjadi baik.. Untuk itu, perlu ditingkatkan pembinaan mental, moral, etika profesi, dan berfungsinya hati nurani. Hal itu diharapkan akan menjadi pendorong untuk menjadi polisi yang baik, yang menuntun sikap, perilaku dan tindakan polisi.

Peningkatan kesadaran/kemampuan emosional dan spiritual akan membimbing ke arah kehendak Tuhan, meruntuhkan napsu jahat dan menyumbat sumber kalalaian, sebaliknya akan meneguhkan dan melembutkan hati nurani. Terkait dengan tindak polisi sebagai penegak hukum dan keadilan, harus dapat membawa polisi kepada penggunaan hukum secara semestinya. Mungkin ada aturan hukum yang tidak sempurna, tetapi masih dapat menciptakan kebaikan jika penegak hukumnya baik.

Sebaliknya, hukum yang baik tidak menjamin akan terciptamya keadilan atau kebaikan jika aparat penegak hukumnya buruk. Di sini akan terlihat pentingnya peningkatan moral, etika, dan berfungsinya hati nurani. Dalam melaksanakan tugasnya, polisi memerlukan partisipasi masyarakat. Untuk itu, polisi harus benar-benar dekat dengan masyarakat dan menjadi pelindung dan pelayan masyarakat.

Pelaksanaan tugas Polri harus menggunakan pendekatan kemanusiaan, menjunjung tinggi hak asasi manusia, mengedepankan pencegahan, bersifat edukatif dan persuasif, namun tidak meninggalkan sikap dan tindakan tegas. Untuk itu, masyarakat harus menjadi mitranya, teman bahkan sahabat baik masyarakat. Polisi tidak selalu menempatkan diri sebagai penguasa tetapi justru harus mewujudkan kondisi agar masyarakat merasa memiliki dan mencintai Polri.

Polri harus dapat merebut hati masyarakat, dekat dengan masyarakat dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan pelayanan yang baik kepada masyarakat, sehingga benar-benar dapat mewujudkan perpolisian masyarakat. Keberhasilan perpolisian masyaralat akan ditentukan oleh citra Polri yang baik yang mendapat kepercayaan masyarakat karena memang layak dipercaya. Citra Polri yang ”bersih,” disiplin, ramah, santun, tegas dan bermartabat akan menjadi ”senjata” utama yang ampuh dalam melaksanakan tugasnya. Semoga hal itu dapat menjadi kenyataan.

Terakhir Kapolda Sulsel membacakan beberapa penekanan Kapolri Jenderal Polisi Tito karnavian, yaitu :

1.Senantiasa tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, sebagai landasan moral dalam berpikir, bersikap dan bertindak, baik dalam tugas kedinasan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

2.Amalkan nilai-nilai lihur Tribrata dan catru Prasetya sebagai pedoman pelaksanaan tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.

3.Jalin komunikasi dan kerjasama dengan masyarakat, TNI dan seluruh pemangku kepentingan dalam memelihara kemanan dan ketertiban masyarakat.

4.Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan terus belajar dan berlatih guna mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas yang semakin kompleks.

5.Jadilah teladan bagi masyarakat serta hindari perbuatan yang dapat menjatuhkan kehormatan diri, keluarga dan organisasi Polri.

Penulis : Qadri

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password