Pelaku Penyebar Hoax Dicyduk Siber Polri, Tidak Mudah Masuk Grup Whatsapp The Family Muslim Cyber Army

Tribratanewa.polri.go.id  – Mabes Polri. Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Fadil Imran menjelaskan kelompok penyebar ujaran kebencian yang tergabung dalam grup whatsapp The Family Muslim Cyber Army setelah lulus dari seleksi, mereka di baiat.

IMG_20180301_002128Menurut Brigjen Fadil Imran, tidak sembarang orang yang direkrut untuk dapat bergabung dalam jaringan grup ini. Harus mempunyai syarat untuk dapat bergabung, salah satunya adalah yang mempunyai keahlian di bidang komputer dan bisa membuat isu ke media sosial.

“Syarat menjadi anggota harus bisa memproduksi, visi misi, dan sebagainya, dan punya kemampuan komputer,” ujar Brigjen Fadil Imran Imran di gedung Dittipid Siber Bareskrim Polri, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018).

Siber Bareskrim Polri menangkap 6 orang pelaku penyebar ujaran kebencian di media sosial yang tergabung dalam grup di aplikasi whatsapp The Family Muslim Cyber Army.

Dari keenam pelaku ini, salah satu yang ditangkap Dittipid Siber Bareskrim Polri seorang wanita bernama Tara Arsih Wijayani (40) yang merupakan seorang dosen yang mengajar pelajaran bahasa Inggris di Universitas ternama di Yogyakarta,

“Dosen di UII Yogyakarta, dosen bahasa Inggris. Dia juga merupakan admin di grup MCA,” papar Brigjen Fadil Imran.

Selain Tara Arsih Wijayani, polisi juga menangkap 5 orang lainnya yakni Muhammad Luth (40) yang ditangkap di Sunter, Jakarta Utara. Riski Surya Darma (37) ditangkap di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Ramdani Saputra (39) ditangkap di Jembrana, Bali. Yuspiadin (25) ditangkap di Sumedang, Jawa Barat, dan Ronny Sutrino (40) ditangkap di Palu.

Brigjen Fadil Imran menjelaskan dalam jaringan ini terdapat sebuah grup yang mereka namakan United Muslim Cyber Army yang bernggotakan 102.064 member yang terdiri dari 20 admin. Dalam grup ini, banyak berita-berita hoax yang nantinya akan disebarluaskan.

“Tugas grup United Muslim Cyber Army adalah sebagai wadah untuk menampung postingan dari member MCA yang upload berita, video maupun gambar meme yang dijadikan rujukan untuk disebarluaskan,” ucapnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka terjerat Pasal 45A Ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU No.19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan atau Pasal Jo Pasal 4 huruf B angka 1 UU No.40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 33 UU ITE.

Penulis: Tim
Editor: Alvian Nur
Publish: Daniel

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password