Niat Ambil Buah Sukun, Nenek Bondeng Malah Tewas Tersengat Perangkap Celeng

Point-Blur_Feb172018_224717-01_1

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Seorang wanita paruh baya, warga Dusun Matajang, Desa Lagori, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone. Bondeng Binti Siri (60) ditemukan tewas diduga terkena jerat celeng alias babi hutan yang bertegangan listrik tinggi pada Sabtu (17/2/18) pukul 16.00 Wita.

Peristiwa itu bermula saat korban hendak ke kebunnya seorang diri dipagi hari, untuk mengambil buah sukun, berjalan dan diduga melintasi lokasi yang dipasangi jerat babi oleh Asma Bin Page (48).

Hingga siang hari korban tak kunjung pulang, karena khawatir suami korban Mudi Bin Paseng (60) akhirnya memutuskan untuk menyusul istrinya di kebun yang berjarak sekitar satu kilo meter dari rumahnya, saat dalam perjalanan sekitar pukul 14.00 Wita, betapa kagetnya Mudi melihat sosok istrinya tergeletak di tanah dengan luka sengatan listrik dan sudah tak bernyawa.

Melihat kondisi jalan yang terjal dan licin, Mudi kemudian kembali ke kampung dan meminta bantuan kepada warga setempat serta menghubungi pihak Kepolisian Sektor Tellu Limpoe.

Kapolsek Tellu Limpoe Iptu M. Said Baruga didampingi anggotanya bersama warga tiba di TKP setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam dengan berjalan kaki.

“Saat dievakuasi, korban dalam posisi terlentang dan berada sekitar setengah meter dari pagar kebun yang dikelilingi kawat beraliran listrik,” pungkas Iptu M. Said.

Pukul 18.00 Wita, jenazah korban tiba di rumah duka, diwarnai isak tangis pihak keluarga.

Dari hasil pemeriksaan di tubuh korban saat di TKP terdapat luka sengatan listrik menghitam di lengan sebelah kiri korban.

“Dari hasil pemeriksaan sementara dan olah TKP, korban diduga meninggal dunia akibat sengatan listrik,” katanya.

Lanjut Kapolsek, Saat ini pemilik pagar kebun beraliran listrik Asma Bin Page sudah diamankan di Polsek, untuk menjalani pemeriksaan dan salah satu upaya untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan.

Dihadapan Polisi, Asma mengaku memasang pagar kawat bertegangan listrik dengan maksud menjerat babi yang sering merusak tanaman di kebun miliknya. (Husriandi)

Apa yang dialami oleh Almarhum Bondeng merupakan bukti bahwa kematian itu akan datang dan tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.

Kata Umar bin Abdul Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)

Ingatlah tak mungkin seorang pun lari dari kematian,

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumuah: 8).

Harus diyakini kematian tak bisa dihindari,

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa: 78).

Semua pun tahu tidak ada manusia yang kekal abadi,

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya: 34).

Yang pasti Allah yang kekal abadi,

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).

Lalu setiap jiwa pasti akan merasakan kematian,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Quran Al Azhim, 3: 163).

Jadilah mukmin yang cerdas,

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)

Penulis : Marwan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password