Tangkal Paham Radikal, Berikan Penyuluhan di Desa Pattongko

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Satuan PolAir Polres Sinjai yang dipimpin oleh Kasat Polair Akp Armin Sukma bersama personilnya melaksanakan kegiatan penyuluhan tentang Quick Wins Polri. bertempat didesa pattongko, kec. tellu limpoe, kab. sinjai, Kamis (15/2/18).

Satuan PolAir Polres Sinjai mendukung Program Quick Wins Polri yaitu Program 1 tentang Penertiban dan Penegakan Hukum Bagi Organisasi Radikal dan Anti Pancasila.

Dalam kegiatan, dihadiri kepala desa pattongko, kepala dusun, tokoh masyarakat, pemuda dan para nelayan setempat. dan Akp Armin Sukma sebagai narasumber, pihak kepolisian mengajak masyarakat dalam merubah pola pikir sebagai warga negara yang taat pada hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku.

Kegiatan tersebut sebagai upaya menciptakan dan memelihara kamtibmas dengan membangun kemitraan yang setara agar terjalin hubungan yang harmonis dan dapat bekerjasama antara polri khususnya Polair, para tokoh agama dan tokoh masyarakat, hal tersebut merupakan antisipasi dalam pemecahan masalah radikal dan anti pancasila.

Para tokoh bersama Polri diharapkan dapat bergandengan tangan untuk mencegah tumbuh kembangnya paham radikal dan anti Pancasila yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia.

Untuk itu, masyarakat merupakan jembatan Polri sekaligus mitra Polri untuk bersama-sama menjaga keamanan yang kondusif serta dapat menekan terjadinya kesenjangan di tengah-tengah masyarakat.

Kegiatan Quick Wins tersebut dilaksanakan dalam rangka penertiban dan penegakan hukum bagi organisasi radikal dan anti Pancasila terhadap masyarakat pesisir, desa pattongko, Kecamatan tellulimpoe, kabupaten sinjai, setelah kegiatan penyuluhan selesai dilanjutkan dengan kegiatan penyerahan sarana kontak kepada masyarakat pesisir berupa sembako dan teks pancasila, bendera merah putih dan alat pelampung. (Humas Polres Sinjai)

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap waspada kepada generasi muda akan bahayanya paham radikal. Mudahnya masyarakat mengikuti paham radikal ini karena kurangnya ilmu, padahal dalam hukum Islam, siapa saja yang melakukan teror dan menakut-nakuti orang lain, ia akan dikenakan hukuman yang berat.

Mereka inilah yang disebut dengan orang berbuat kerusakan di muka bumi seperti halnya para penyamun atau tukang begal. Mereka akan dikenai hukuman yang berat supaya tindakan jahat tidak lagi berulang, juga untuk menjaga harta, darah dan kehormatan orang lain. Tentang orang semacam ini disebutkan dalam ayat.

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Maidah: 33).

Ingat pula bahwa Islam melarang membunuh orang lain, bahkan jika satu nyawa dibunuh tanpa alasan yang benar, berarti ia telah membunuh manusia seluruhnya. Allah Ta’ala berfirman.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al Maidah: 32). Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman bahwa ayat ini juga ditujukan para para tukang begal atau penyamun yang mengancam membunuh atau merampas harta orang lain dengan cara paksa.

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa meneror atau tindakan terorisme terlarang dalam Islam.

Dalam Islam, meneror atau menakut-nakuti orang lain walau bercanda atau sekedar lelucon saja dilarang.

Meneror atau menakut-nakuti orang lain itu termasuk berbuat dosa. Pernah di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama beliau, lalu ada seseorang di antara mereka yang tertidur dan sebagian mereka menuju tali yang dimiliki orang tersebut dan mengambilnya. Lalu orang yang punya tali tersebut khawatir (takut). Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud no. 5004 dan Ahmad 5: 362. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Al Munawi menyatakan bahwa jika dilakukan dengan bercanda tetap terlarang karena seperti itu menyakiti orang lain. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 13: 251.

Penulis : Juan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password