Polres Parepare Tangkap Dua Pelaku Narkoba Didua Lokasi Berbeda

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kepolisian Resort Parepare  berhasil menangkap dua orang pelaku diduga kuat sebagai pelaku penyalahgunaan Narkotika jenis sabu-sabu di dua tempat yang berbeda, yakni Jalan BTN Soreang Permai, Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang dan Jalan. Nusa Karya, Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang, Kota Parepare.

WhatsApp-Image-2018-02-06-at-1.02.23-768x1024

 

 

WhatsApp-Image-2018-02-06-at-1.02.231-768x1024Penangkapan dipimpin langsung oleh Kasat Narkoba Polres Parepare, AKP. Zaki Sungkar bermula dari laporan masyarakat bahwa pelaku yang berinisial FM, sering melakukan penyalahgunaan Narkoba dengan menjual barang haram tersebut.

Dari laporan tersebut, anggota Sat Narkoba Polres Parepare langsung melakukan penggeledahan dan menangkap tersangka dengan barang bukti dikediamannya.

“Dari tempat kediaman FM, kami mendapati sejumlah Barang Bukti (BB) yang ia sembunyikan di atas plafon rumahnya, yakni 13 (tiga belas) saset yang berisikan Sabu, 2 (dua) unit timbangan digital, 1 (satu) unit HP, 2 (dua) saset besar yang berisikan saset-saset kecil, 1 (satu) alat hisap (bong), 1 (satu) korek gas dan 1 (satu) kaca phyrex,” katanya.

Selain itu Kata AKP Zaki, dari pengembangan di TKP pertama yang merupakan kediaman FM, didapati keterangan, bahwa FM mendapatkan barang haram tersebut dari terduga pelaku lainnya yang berinisial IN. Dari keterangan itu, Sat Narkoba Polres Parepare langsung melakukan penggeledahan dan mengamankan IN dengan barang bukti dikediamannya.

“Dari hasil penggeledahan, kami mendapati Narkotika jenis shabu yang ditanam di bawah rumahnya, yakni 1 (satu) saset besar plastik bening yang diduga berisikan Shabu-shabu dan 1 (satu) buah HP yang digunakan pelaku untuk melakukan transaksi,” jelasnya

Saat ini pelaku dan barang bukti di amankan di Polres Parepare untuk di proses lebih lanjut.

Masalah penyalah gunaan narkoba di Indonesia saat ini, menurut beberapa pakar, sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan hanya di kalangan remaja di perkotaan, bahkan sudah menjalar ke kalangan anak-anak di daerah pedesaan.

Menurut Suryani, SKp, MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80% pemuda, sudah 3% yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut data BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari (dalam tulisannya Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Sudah banyak terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan.

Miris memang, setiap tahun jumlah penyalahguna narkoba justru terus bertambah, baik yang digolongkan sebagai pecandu, yakni orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan secara fisik dan psikis. Maupun sebagai korban penyalahgunaan narkoba, yakni seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Narkoba pada dasarnya berfungsi sebagai obat atau bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan medis, pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun kemudian disalahgunakan di luar indikasi medis dan tanpa petunjuk atau resep dokter. Penyalahgunaan ini dikarenakan efeknya yang dapat menimbulkan rasa nikmat, rileks, senang, dan tenang.

Perasaan itulah yang dicari oleh para para pemakai meskipun setelah itu mereka seringkali merasa cemas, gelisah, nyeri otot, dan sulit tidur. Selanjutnya, karena digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama, pemakaian narkoba menimbulkan ketergantungan.

Dilihat dari sudut pandang kesehatan, maupun sosial, penyalahgunan narkoba sangatlah merugikan penggunanya, menjelma bahaya bagi kehidupan manusia, masyarakat, negara serta mengancam kelangsungan suatu generasi. Realita di atas relevan kita kaitkan dengan semakin menggilanya peredaran gelap narkoba yang telah melintasi batas-batas negara, menggunakan modus operandi yang sangat variatif, berteknologi tinggi, dan didukung oleh jaringan organisasi yang luas.

Peredaran narkoba yang luas itu, sudah memakan banyak korban baru. Para korban baru itulah yang kemudian menjadi pasar bagi para pengedar karena efek yang ditimbulkan dari barang-barang haram tersebut adalah ketagihan. Syahdan, tak hanya menjadi pengguna, mereka juga tergiur untuk menjadi pengedar narkoba. Peredaran gelap narkoba yang dilakukan dengan metode multi-level marketing dan terselubung itu seringkali luput dari perhatian kita.

Mengingat harganya yang terhitung tinggi serta didukung pasar yang sangat luas, “bisnis” ini tentu semakin menggiurkan banyak orang, karena menjanjikan keuntungan yang tidak sedikit, baik berperan sebagai produsen, pengedar, bahkan hingga kurir sekalipun.

Ya, Indonesia berpotensi menjadi pasar empuk para gembong narkoba, karena tidak hanya jumlah penyalahgunanya yang besar, kondisi geografis kita yang berpulau-pulau pun seolah menjadi “daya dukung” aksi peredaran narkoba di tanah air. Jalur udara, darat dan laut menjadi jalur paling rawan terhadap aksi penyelundupan narkoba ini, terutama yang berasal dari luar negeri.

Jika hal ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan aksi penyalahgunaan narkoba akan semakin meluas dan memakan korban lebih banyak lagi serta berekses pada hancurnya suatu generasi. Mengingat dampaknya yang sangat berbahaya itu, tentu kita semua akan sepakat untuk memerangi narkoba, dari hulu (pemerintah) ke hilir (masyarakat) sebagaimana selama ini kita memerangi tindak kejahatan lain, korupsi dan terorisme misalnya. Untuk menanggulanginya, diperlukan komitmen, kerja keras, sinergitas, koordinasi, dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password