Polres Sidrap Ringkus DPO Narkotika Tahanan Kejaksaan

tribratanews.polri.go.id, Polda Sulsel – Peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) makin marak. Bahkan telah merebak di kalangan anak dan pelajar. Kerapkali para bandar (pengedar) narkoba sengaja mencari mangsa di sekolah, tempat pelacuran, diskotik, bahkan di jalanan dan lainnya.

Ancaman bahaya narkoba di Indonesia sangat memprihatinkan dengan kondisi generasi muda sekarang. Banyak remaja, para pelajar yang menjadi korban narkoba dan menjadi target para bandar narkoba. Persoalannya, bisnis barang haram itu dengan mudah mereka dapatkan dan menggiurkan jika dijual, dan generasi muda merupakan pangsa pasar yang menggiurkan bagi bandarnya.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan. Para remaja sangat aktif dan energik ini memiliki banyak kreatifitas yang harus dikembangkan. Pergaulan seringkali menjadi pintu masuk dari para bandar narkoba untuk menjerat para remaja. Kerap kali remaja yang salah pergaulan lantaran tidak diiringi dengan selektifitas pergaulan menjerumuskan para remaja.

Menurut sejumlah pemerhati bahaya narkoba, jika pasar narkoba ini sangat menguntungkan sejumlah bandar dengan target golongan menengah dan menengah ke bawah. Pengamat hukum Chris Sam Siwu mengatakan, hukuman di Indonesia bagi bandar narkoba sudah tergolong tegas. Terbukti, para pengedar narkoba cukup banyak yang mendapatkan hukuman mati .

“Tetapi karena keuntungan menggiurkan dari bisnis barang haram tersebut membuat orang tetap ingin menjadi bandar narkoba, meskipun ada hukuman mati yang mengancam,” ungkap Chris belum lama ini.

Pengamat hukum ini meminta agar masalah narkoba, aparat penegak hukum tentu harus fokus untuk pemberantasan bandar. Jangan sampai para bandar narkoba ini justru dilindungi sementara para pengguna justru dikriminalisasi.

Apa yang dikatakan pengamat hukum tersebut bahwa aparat penegak hukum, termasuk jajaran kepolisian untuk bersikap tegas sudah dilakukan. Sudah kerap kepolisian membongkar jaringan peredaran narkoba, mulai kelas teri hingga kelas kakap.

Bahkan tak jarang pula, seseorang pelaku yang terjerat dalam peredaran narkoba ini, meskipun mampu meloloskan diri dari kejaran, tapi pihak kepolisian tak pernah menyerah untuk memberangus jaringan narkoba yang ada di Indonesia. Sekalipun pelakunya bersembunyi hingga bertahun-tahun lamanya, petugas kepolisian terus melakukan pencarian, pengejaran, melakukan penangkapan dan memprosesnya secara hukum.

Hal ini dapat dibuktikan apa yang dilakukan jajaran Satuan Intelkam Polres Sidrap, yang diawal tahun 2017 ini berhasil menangkap Anto bin Aco (34), DPO kasus penyalahgunaan narkotika seberat 20 gram pada tahun 2014 silam. Anto ditangkap di rumahnya di Kelurahan Ponrangae, Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap, Jumat (13/1/2017) siang.

Informasi yang dihimpun, Anto ditangkap pukul 15.00 Wita. Ia ditangkap oleh Tim Unit Khusus Satuan Intelkam Polres Sidrap, yang dipimpin oleh Kanit IV, Aiptu Antonius Pasakke. Kasat Intelkam Polres Sidrap, AKP M. Ali pun membenarkan penangkapan terhadap pengedar sabu-sabu yang sudah berstatus sebagai tahanan Kejaksaan Negeri Sidrap tersebut, namun ia kabur saat akan menjalani proses persidangan.

“Iya betul sudah ditangkap di rumahnya sendiri. Penangkapan tersebut berawal dari informasi warga setempat, lalu kami melakukan penyelidikan mendalam, sehingga dengan mudah meringkus pelaku,” ujar Ali, Senin pagi, 16 Januari 2017.

Diketahui, Anto berhasil dibekuk aparat Polres Sidrap yang kabur pada saat sidang 3 tahun silam. Statusnya merupakan tahanan Kejaksaan Negeri Kabupaten sidrap dan diketahui ia merupakan pengedar narkotika jenis sabu-sabu yang sudah lama menjalankan aksinya di wilayah Kabupaten sidrap.

“Tersangka kami sudah serahkan ke pihak Kejaksaan Negeri Sidrap, karena memang statusnya sudah tahanan kejaksaan,” tutup Ali.

Untuk memerangi peredaran narkoba tersebut, dibutuhkan peran aktif lembaga-lembaga penegak hukum terkait, bersama-sama masyarakat. Persoalannya, negara ini sudah dalam kondisi darurat narkoba. Hal ini sebagaimana dikatakan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Polisi Budi Waseso (Buwas) bahwa Republik Indonesia ini sudah dikatakan darurat narkoba.

Alasannya, jumlah pengguna narkoba terus meningkat, pada Juni 2015 tercatat ada 4,2 juta. Kemudian pada Oktober 2015 tercatat 5,9 juta jumlah pengguna narkoba. Akibat dari pengguna narkoba ini, menyebabkan kerusakan permanen pada saraf otak dan tidak akan sembuh. Buwas menceritakan dalam sehari ada 30 sampai 40 orang meninggal dunia karena narkoba.

“Narkoba adalah musuh bersama,” ujar pria yang diakrab dipanggil Buwas ini saat kunjungan kerjanya ke Hotel Grand Aston Makassar beberapa waktu lalu. (*)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password