Pelaku Pencurian di Rumah Kost Sukaria Ternyata Anak Dibawah Umur, Ini Penjelasan Kasubbag Humas Polrestabes Makassar

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Resmob Polsek Panakkukang berhasil meringkus pelaku Curat (Pencurian dengan pemberatan) yang masih di bawah umur, Kamis (01/02/18).

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar Kompol Laode Idris mengatakan pelaku yang masih duduk di bangku sekolah diketahui berinisial MY (14) warga Jalan Sukaria 6 Makassar tersebut di amankan lantaran mencuri sebuah Handphone sebanyak 3 buah merk Samsung V, Oppo f3, Xiaomi Note 3.

Berawal saat anggota resmob mendapat laporan bahwa di jalan Sukaria 9 tepatnya di rumah kos telah terjadi pencurian berupa Handphone, kemudian resmob bergerak dan mengetahui pelaku pencurian tersebut sedang berada di jalan Sukaria 2  (rumah kos).

“Saat diamankan resmob juga berhasil menyita barang bukti berupa Handphone merk Oppo F3 dan Xiaomi Note 3 dan pelaku mengakui perbuatannya telah melakukan pencurian tersebut”, Jelasnya.

Selanjutnya pelaku bersama barang bukti di bawah ke Polsek Panakkukang guna penyidikan lebih lanjut.

Pelaku kejahatan atau pelaku perilaku jahat di masyarakat tidak hanya dilakukan oleh anggota masyarakat yang sudah dewasa, tetapi juga dilakukan oleh anggota masyarakat yang masih anak-anak atau yang biasa kita sebut sebagai kejahatan anak atau perilaku jahat anak. Fakta menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan anak itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi.

Kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak pada intinya merupakan produk dari kondisi masyarakatnya dengan segala pergolakan sosial yang ada di dalamnya. Kejahatan anak ini disebut sebagai salah satu penyakit masyarakat atau penyakit sosial. Penyakit sosial atau penyakit masyarakat adalah segala bentuk tingkah laku yang di anggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum, adat-istiadat, hukum formal , atau tidak bisa diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum.

Kejahatan dalam segala usia termasuk remaja dan anak-anak dalam dasawarsa lalu, belum menjadi masalah yang terlalu serius untuk dipikirkan, baik oleh pemerintah, ahli kriminologi , penegak hukum, praktisi sosial maupun masyarakat umumnya. Perilaku jahat anak-anak dan remaja merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak yang disebabkan oleh salah satu bentuk pengabaian sosial.

Sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah-laku yang menyimpang. Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah-laku kriminal anak-anak dan remaja. Perilaku anak-anak  dan remaja ini menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial.

Anak-anak dan remaja yang melakukan kejahatan itu pada umumnya kurang memiliki kontrol-diri, atau justru menyalahgunakan kontrol-diri tersebut, dan suka menegakkan standar tingkah-laku sendiri, di samping meremehkan keberadaan orang lain. Kejahatan yang mereka lakukan itu pada umumnya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif subyektif, yaitu untuk mencapai satu objek tertentu dengan disertai kekerasan.

Pada umumnya anak-anak dan remaja tersebut sangat egoistis, dan suka sekali menyalahgunakan dan melebih-lebihkan harga dirinya. Adapun motif yang mendorong mereka melakukan tindak kejahatan itu antara lain adalah :

1.Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan.

2.Meningkatkan agresivitas dan dorongan seksual.

3.Salah-asuh dan salah-didik orang tua, sehingga anak tersebut menjadi manja dan lemah   mentalnya.

4.Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru.

5.Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal.

6.Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.

Penulis : Apri

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password