Aniaya Korban dengan Air Panas, Tiga Pelaku Dibekuk Polisi, Dua Masih Buron

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Tim Jatanras Polrestabes Makassar berhasil mengamankan pelaku pengeroyokan yang terjadi di Jalan Dg. Ngande Makassar sekitar pukul 23.20 wita tengah malam, Senin (23/01/18).

Pengeroyokan yang diterjadi di sebuah pondok Jalan Dg. Ngande Makassar yang mengakibatkan korban luka membuat Tim Jatanras Polrestabes Makassar bekerja sama dengan Resmob Polsek Tamalate berhasil membuat pelaku MF(22) mengakui perbuatannya didepan Polisi bahwa dirinya telah melakukan pengeroyokan bersama empat rekannya yakni AA (22), MA (29) yang telah berhasil di ringkus sedangkan RF dan AD yang masih dalam pencarian.

Artikel, Aniaya Korban dengan Air Panas, Tiga Pelaku Dibekuk Polisi, Dua Masih Buron

“Pelaku membenarkan telah melakukan pengeroyokan bersama dengan keempat rekannya dengan menyiram air panas ke tubuh korban, adapun barang bukti yang digunakan pelaku telah kami amankan. Pelaku bersama kedua rekannya berhasil kami amankan untuk diproses sedangkan untuk kedua rekannya yang melarikan diri  masih dalam pencarian kami”, ucap AKP Ivan Wahyudi. SH. SIK.

Penangkapan yang di pimpin oleh dipimpin oleh Kanit Jatanras Polrestabes Makassar AKP Ivan Wahyudi. SH. SIK bersama Kasubnit 2 Polrestabes Makassar Ipda Arif Muda dan Panit Opsnal Polsek Tamalate Ipda Sugiman diliput oleh Salah satu Program di NET TV yaitu 86.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya ketiga pelaku yang berhasil di amankan bersama barang bukti di periksa oleh Tim Jatanras Polrestabes Makassar dan Resmob Polsek Tamalate sedangkan kedua pelaku yang berhasil lolos masih dalam pengejaran.

Istilah kata pengeroyokan sebenarnya tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Yang diatur dalam KUHP adalah kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama yang mana pelakunya lebih dari satu orang dan dilakukan di muka umum sebagaimana diatur dalam Pasal 170 KUHP. Oleh karenanya setiap kasus pengeroyokan yang dilaporkan ke Polisi pasti diterapkan Pasal 170 KUHP. Berikut bunyi lengkap Pasalnya :

Pasal 170 KUHP:

(1) Barangsiapa yang dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dihukum penjara
selama-lamanya 5 (lima) tahun 6 (enam) bulan.

(2) Tersalah dihukum :
ke-1. Dengan penjara selama-lamanya 7 (tujuh) tahun, jika ia dengan sengaja merusakkan barang atau jika
kekerasan yang dilakukannya itu menyebabkan sesuatu luka ;
Ke-2. Dengan penjara selama-lamanya 9 (sembilan) tahun, jika kekerasan itu menyebabkan luka berat pada tubuh ;
Ke-3. Dengan penjara selama-lamanya 12 (dua belas) tahun, jika kekerasan itu menyebabkan matinya orang.

(3) Pasal 89 KUHP tidak berlaku.

Dari ketentuan Pasal 170 KUHP tersebut sangat jelas bahwa supaya pelaku bisa dituntut dengan Pasal 170 KUHP maka pelaku kekerasannya harus lebih dari satu orang. Kalau pelaku kekerasannya hanya satu orang maka bukan Pasal 170 yang diterapkan, melainkan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Kemudian kekerasan itu dilakukan di muka umum, artinya tempat dimana banyak orang yang melihat peristiwa kekerasan tersebut.

Kemudian mengenai ancaman hukumannya juga berbeda dalam Pasal 170 KUHP tersebut. Jika kekerasan itu mengakibatkan luka maka ancaman hukumannya 7 tahun. Jika mengakibatkan luka berat maka ancaman hukumannya adalah 9 tahun. Sedangkan jka mengakibatkan korban meninggal dunia maka ancaman hukumannya 12 tahun. Jadi ancaman hukuman terhadap pelaku kekerasan bersama-sama (pengeroyokan) tergantung luka yang dialami korban.

Jadi kesimpulannya, pengeroyakan adalah tindak pidana kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama dan dilakukan di muka umum yang mana pelakunya bisa dikenakan Pasal 170 KUHP.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password