15 Tahun Tinggalkan Orang Tua Karena Kawin Lari, Wanita Ini Minta Bantuan Bhabinkamtibmas Untuk Dipertemukan Kembali

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Bhabinkamtibmas Desa Bontoramba Aiptu Syahrullah bersama Tripides Bontoramba berkoordinasi sehubungan dengan warganya yang sakit dan hendak dipulangkan ke rumah orang tuanya untuk “Ma’baji” yang mana sebelumnya wanita yang biasa dipanggil Dg. Paneng ini meninggalkan rumah orang tuanya selama kurang lebih 15 tahun karena dibawah lari oleh Dg. Ngalli (silariang), Selasa (16/01/18).

Hal yang demikian sesuai adat orang Makassar sangatlah sensitif karena termasuk “siri” dan penyelesaiannya tidak semudah yang dibayangkan. Permasalahan yang demikian inilah sangat dibutuhkan pemikiran dan pemahaman serta kecerdasan dalam bertindak guna menyelesaikannya dengan baik dan santun serta pihak keluarga Dg. Taru bisa menerimanya dengan baik dan bijaksana.

Setelah koordinasi yang matang, Tripides segera ke rumah Daeng Taru (Orang tua Dg. Paneng) dan keluarganya untuk memediasi permasalahan yang dialami anaknya selama ini yakni meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya dan keluarganya, namun akhirnya diterlantarkan oleh Daeng Ngalli sampai jatuh sakit.

Setelah melalui proses mediasi dan memberikan pemahaman agama dan hukum kepada orang tua Dg. Paneng, alhasil problem solving dan mediasi yang dilakukan tripides dapat membuahkan hasil dengan diterimanya kembali anaknya yang dalam keadaan sakit tanpa ditemani oleh Dg. Ngalli yang sudah menyianyiakannya selama 15 tahun.

Sebagai orang tua dari Dg. Paneng sangat menyayangkan tindakan dan perlakuan Dg. Ngalli yang sudah menyianyiakan hidup anaknya dan membiarkan sakit tanpa diurus, namun disadari kembali bahwa mungkin begitulah nasib yang Allah takdirkan kepada anaknya dalam keluarga.

Pihak keluarga bapak Dg. Taru sangat terharu dan bangga serta salut kepada Bhabinkamtibmas dan pemerintah (Tripides) karena berkenan untuk turun tangan membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami keluarganya dan bisa mempertemukan anaknya kembali walau dalam keadaan sakit yang dialaminya.

Mediasi yang dilakukan Bhabinkamtibmas Desa Bontoramba Aiptu Syahrullah merupakan salah satu bentuk dari alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Tujuan dilakukannya mediasi adalah menyelesaikan sengketa antara para pihak dengan melibatkan pihak ketiga yang netral dan imparsial dalam hal ini pihak Kepolisian.

Mediasi dapat mengantarkan para pihak ketiga pada perwujudan kesepakatan damai yang permanen dan lestari, mengingat penyelesaian sengketa melalui mediasi menempatkan kedua belah pihak pada posisi yang sama, tidak ada pihak yang dimenangkan atau pihak yang dikalahkan (win-win solution).

Dalam mediasi para pihak yang bersengketa proaktif dan memiliki kewenangan penuh dalam pengambilan keputusan. Mediator tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan, tetapi ia hanya membantu para pihak dalam menjaga proses mediasi guna mewujudkan kesepakatan damai mereka.

Penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi sangat dirasakan manfaatnya, karena para pihak telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri persengketaan mereka secara adil dan saling menguntungkan.

Bahkan dalam mediasi yang gagal pun, di mana para pihak belum mencapai kesepakatan, sebenarnya juga telah merasakan manfaatnya. Kesediaan para pihak bertemu di dalam proses mediasi, paling tidak telah mampu mengklarifikasikan akar persengketaan dan mempersempit perselisihan di antara mereka.

Hal ini menunjukkan adanya keinginan para pihak untuk menyelesaikan sengketa, namun mereka belum menemukan format tepat yang dapat disepakati oleh kedua belah pihak.

Model utama penyelesaian sengketa adalah keinginan dan iktikad baik para pihak dalam mengakhiri persengketaan mereka. Keinginan dan iktikad baik ini, kadang-kadang memerlukan bantuan pihak ketiga dalam perwujudannya. Mediasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga. Mediasi dapat memberikan sejumlah keuntungan antara lain :

  1. Mediasi diharapkan dapat menyelesaikan sengketa secara cepat dan relatif murah dibandingkan dengan membawa perselisihan tersebut ke pengadilan atau ke lembaga arbitrase.
  2. Mediasi akan memfokuskan perhatian para pihak pada kepentingan merekan secara nyata dan pada kebutuhan emosi atau psikologis mereka, sehingga mediasi bukan hanya tertuju pada hak-hak hukumnya.
  3. Mediasi memberikan kesempatan para pihak untuk berpartisipasi secara langsung dan secara informal dalam menyelesaikan perselisihan mereka.
  4. Mediasi memberikan para pihak kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap proses dan hasilnya.
  5. Mediasi dapat mengubah hasil, yang dalam litigasi dan arbitrase sulit diprediksi, dengan suatu kepastian melalui konsensus.
  6. Mediasi memberikan hasil yang tahan uji dan akan mampu menciptakan saling pengertian yang lebih baik di antara para pihak yang bersengketa karena mereka sendiri yang memutuskannya.
  7. Mediasi mampu menghilangkan konflik atau permusuhan yang hampir selalu mengiringi setiap putusan yang bersifat memaksa yang dijatuhkan oleh hakim di pengadilan atau arbiter pada lembaga arbitrase.

Penulis : Bara

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password