Lindungi Generasi Muda, Kapolsek Tellu Siattinge Sosialisasi Bahaya Narkoba di Sekolah

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Lingkungan sekolah rawan bagi peredaran narkotika dan obat-obatan daftar ‘G’ yang saat ini lagi trend di kalangan pelajar, bukan hanya diwilayah perkotaan narkotika sudah merebak hingga ke pedesaan.

Kondisi ini membuat jajaran Kepolisian Resor Bone giat melakukan penyuluhan dan sosialisasi dalam melindungi generasi ini dari bahaya penggunaannya.

Seperti yang dilakukan Kapolsek Tellu Siattinge Akp Rahman. AS penyuluhan dipusatkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Darul Quran tentang bahaya narkoba, Rabu (10/1/2018).

Dihadiri Kanit Binmas Aiptu Tajuddin, Kepala Sekolah, pimpinanan Ponpes dan para guru serta diikuti ratusan santri dengan antusias.

Dikatakan, sosialisasi itu bertujuan untuk mengenalkan kepada kalangan pesantren tentang bahaya narkoba, sehingga dapat membentengi santriwan dan santriwati, siswa-siswi dari dampak penyalahgunaan narkoba.

“Peredaran narkoba saat ini sudah sangat memprihatinkan, dihimbau kepada anak anak pelajar senantiasa menjaga pergaulan dan menjauhi yang namanya obat-obatan terlarang, miras, pergaulan bebas dan narkoba karena dapat merusak masa depan,” Kata Kapolsek.

Disamping itu, giat sosialisasi tersebut pimpinan Ponpes menyampaikan terimakasih kepada pihak Kepolisian yang peduli dengan pelajar akan bahaya narkoba dan siap membantu dalam hal pengawasan baik disaat berada di sekolah ataupun seusai pelajaran, karena masa remaja merupakan masa yang rawan untuk dimasuki hal-hal negatif.

Penyuluhan bahaya narkoba dan sosialisasi UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika yang dilakukan Polsek Tellu Siattinge, merupakan salah satu bentuk untuk mencegah serta melindungi generasi muda, utamanya kalangan pelajar dari ancaman bahaya narkoba, yang sewaktu-waktu mengintai setiap saat.

Persoalannya, bukan tanpa alasan sehingga remaja perlu diproteksi dari bahaya narkotika tersebut. Sebab masalah penyalah gunaan narkoba di Indonesia saat ini, menurut beberapa pakar, sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan hanya di kalangan remaja di perkotaan, bahkan sudah menjalar ke kalangan anak-anak di daerah pedesaan.

Menurut Suryani SKp MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80 % pemuda, sudah 3 % yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari, dalam tulisannya Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Jakarta, Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Lebih lanjut, Direktur PLRIP-BNN, Ida Utari, pada Rakernis Terapi Rehabilitasi Napza pada 20 Maret 2014 di Kementrian Kesehatan menyatakan bahwa di dunia, pecandu narkoba berjumlah antara 15.5 juta-38.6 juta. Prevalensi pengguna narkoba dunia adalah sekitar 5 %. Di Indonesia pada 2015 diperkirakan sebesar 2.8 %. Peningkatan sebesar 1,05 % dalam kurun 10 tahun terakhir.

Mencermati angka prevalensi dalam unit juta orang di tahun 2015, dimana apabila tidak ada penghambat penyalahgunaan narkoba, dengan asumsi penduduk Indonesia berjumlah 250 juta orang, maka di Indonesia diperkirakan sekitar 5.1 juta orang akan menjadi penyalahguna narkoba atau di antara 50 orang WNI ada satu pengguna narkoba.

Bisa jadi setiap lembaga yang mempunyai staf lebih dari 50 orang dipastikan ada diantaranya pengguna narkoba. Jika demikian lembaga penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, KPK, kehakiman), lembaga hankam, lembaga tinggi negara lain, perusahaan swasta dan milik negara di Indonesia dipastikan terdapat pengguna narkoba. Cepat atau lambat bisa menghancurkan kelangsungan bangsa Indonesia.

Selain itu, hasil penelitian bersama antara BNN dan Puslitkes-UI yang dilakukan pada 2012, Kapuslitdatin BNN, Darwin Butar Butar, mengungkap bahwa pengguna narkoba menurut tingkat ketergantungan adalah sekitar 3.8 juta-4.2 juta orang.

Diungkapkan pula dalam dialog yang dipandu oleh presenter Beritasatu TV, Veronica Moniaga Sumirat menyebut bahwa setiap hari tercatat 50 orang meninggal karena narkoba. Sebagaimana juga disebut oleh Presiden Jokowi dalam wawancaranya dengan wartawan CNN Christine Amanpour 27 Januari 2015.

Untuk itu, Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan hingga 2014 sebanyak 68 terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan. Sikap tegas Pemerintah ini, tidak lain dilakukan untuk menyelematkan generasi muda Indonesia, dengan menindaktegas pelaku-pelaku kejahatan narkoba di Indonesia, termasuk memutus mata rantai peredarannya dengan mengeksekusi mati bandar-bandar besarnya yang berani bermain-main di negara ini.

Penulis : Taufiq

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password