Proteksi Generasi Muda, Satuan Narkoba Polres Wajo Sosialisasi Bahaya Narkoba di Sekolah

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Puluhan pelajar SMK Negeri 1 Sengkang, Kabupaten Wajo mengikuti kegiatan sosialisasi dan penyuluhan bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), Minggu (07/01/18).

Materi penyuluhan tentang pencegahan dan pemberantasan narkoba bagi pelajar ini disampaikan langsung Iptu Nasrul selaku Kaur Bin Ops Sat Narkoba Polres Wajo. Selain itu, para pelajar juga dibekali dengan sosialisasi Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Menurut Iptu Nasrul beberapa ciri dari pengguna narkoba adalah jarang melakukan kontak mata ketika diajak berbicara, berbicara cadel, keras kepala, sering menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang dia buat, sering berbohong, terlihat gelisah, egois, sering mengantuk, dan sering melalaikan tanggung jawabnya. Untuk itulah, jika menemukan orang atau remaja dengan perilaku seperti itu, disarankan untuk segera mengkonsultasikannya kepada pihak yang berkompeten.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (Narkoba), pencegahan dasar yaitu berawal dari prinsip hidup yang baik untuk meraih sukses di masa depan. Prinsip hidup pertama adalah disiplin dalam perilaku, pakaian, waktu, aturan, dan tanggung jawab. Usia remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Sehingga anak akan menjadi tidak disiplin. Perilaku disiplin harus terus dipupuk dan dibiasakan meskipun awalnya pasti terasa berat.

“Prinsip hidup yang kedua adalah tanggung jawab dalam lingkungan keluarga. Keluarga harus berperan aktif dalam komunikasi internal yang baik sehingga penyalahgunaan narkoba akan dapat diatasi lebih dini. Sedangkan tanggung jawab di lingkungan masyarakat. Remaja harus lebih waspada terhadap orang asing dan lebih peduli terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar,” papar Iptu Nasrul.

Penyuluhan bahaya narkoba dan sosialisasi UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika yang dilakukan Satuan Narkoba Polres Wajo, merupakan salah satu bentuk untuk mencegah serta melindungi generasi muda, utamanya kalangan pelajar dari ancaman bahaya narkoba, yang sewaktu-waktu mengintai setiap saat.

Persoalannya, bukan tanpa alasan sehingga remaja perlu diproteksi dari bahaya narkotika tersebut. Sebab masalah penyalah gunaan narkoba di Indonesia saat ini, menurut beberapa pakar, sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan hanya di kalangan remaja di perkotaan, bahkan sudah menjalar ke kalangan anak-anak di daerah pedesaan.

Menurut Suryani SKp MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80 % pemuda, sudah 3 % yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari, dalam tulisannya Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Jakarta, Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Lebih lanjut, Direktur PLRIP-BNN, Ida Utari, pada Rakernis Terapi Rehabilitasi Napza pada 20 Maret 2014 di Kementrian Kesehatan menyatakan bahwa di dunia, pecandu narkoba berjumlah antara 15.5 juta-38.6 juta. Prevalensi pengguna narkoba dunia adalah sekitar 5 %. Di Indonesia pada 2015 diperkirakan sebesar 2.8 %. Peningkatan sebesar 1,05 % dalam kurun 10 tahun terakhir.

Mencermati angka prevalensi dalam unit juta orang di tahun 2015, dimana apabila tidak ada penghambat penyalahgunaan narkoba, dengan asumsi penduduk Indonesia berjumlah 250 juta orang, maka di Indonesia diperkirakan sekitar 5.1 juta orang akan menjadi penyalahguna narkoba atau di antara 50 orang WNI ada satu pengguna narkoba.

Bisa jadi setiap lembaga yang mempunyai staf lebih dari 50 orang dipastikan ada diantaranya pengguna narkoba. Jika demikian lembaga penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, KPK, kehakiman), lembaga hankam, lembaga tinggi negara lain, perusahaan swasta dan milik negara di Indonesia dipastikan terdapat pengguna narkoba. Cepat atau lambat bisa menghancurkan kelangsungan bangsa Indonesia.

Selain itu, hasil penelitian bersama antara BNN dan Puslitkes-UI yang dilakukan pada 2012, Kapuslitdatin BNN, Darwin Butar Butar, mengungkap bahwa pengguna narkoba menurut tingkat ketergantungan adalah sekitar 3.8 juta-4.2 juta orang.

Diungkapkan pula dalam dialog yang dipandu oleh presenter Beritasatu TV, Veronica Moniaga Sumirat menyebut bahwa setiap hari tercatat 50 orang meninggal karena narkoba. Sebagaimana juga disebut oleh Presiden Jokowi dalam wawancaranya dengan wartawan CNN Christine Amanpour 27 Januari 2015.

Untuk itu, Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan hingga 2014 sebanyak 68 terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan. Sikap tegas Pemerintah ini, tidak lain dilakukan untuk menyelematkan generasi muda Indonesia, dengan menindaktegas pelaku-pelaku kejahatan narkoba di Indonesia, termasuk memutus mata rantai peredarannya dengan mengeksekusi mati bandar-bandar besarnya yang berani bermain-main di negara ini.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password