Meski Berlumpur, Bhabinkamtibmas Baebunta Ini Tetap Membantu Warga Menggali Kubur

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Peran Bhabinkamtibmas ditengah-tengah masyarakat harus bisa menjadi teladan masyarakat, hal itu dicontohkan Bhabinkamtibmas Polsek Baebunta Polres Luwu Utara Bripka Abdul Rahim.

Pria yang bertugas di Desa Mekar Sari punya cara tersendiri untuk mendekatkan diri dengan warganya. Dengan rendah hati Bripka Abdul Rahim mengikuti prosesi pemakaman warga binaannya yang meninggal dunial, Minggu (7/1/18).

Tak tanggung-tanggung Bripka Abdul Rahim dengan menggunakan sepatu hitamnya ikut bersama masyarakat membantu pemakaman warga binaanya. Tak hanya itu, bhabinkamtibmas ini tidak menghiraukan jika sepatunya berjibaku dengan lumpur.

Artikel, Meski Berlumpur, Bhabinkamtibmas Baebunta Ini Tetap Membantu Warga Menggali Kubur1Bahkan sesekali ikut istirahat dengan tukang gali kubur untuk melepas lelah. Seperti yang terpantau oleh tim redaksi Tribratanews Polres Luwu Utara, Bripka Abdul Rahim mengikuti prosesi pemakaman dari awal hingga akhir.

Kegiatan bhabinkamtibmas ini ditanggapi positif oleh warga binaanya. Bahkan warga sangat senang dengan kehadiran Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat yang peduli dan turut hadir saat warganya meninggal dunia.

“Tugas polisi tidak sekadar menegakkan hukum, menangkap penjahat, menahan orang bersalah, menilang pelanggar lalu lintas dan menembak penjahat, tapi juga melaksanakan tugas-tugas sosial seperti membantu poses pemakaman” ujar Bripka Abdul Rahim.

Dalam kehidupan masyarakat, Polisi memang memainkan banyak peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mengatur lalu lintas, menegakkan hukum, menyidik perkara, memelihara keamanan dan ketertiban, dan melindungi keselamatan warga negara adalah sebagian dari tugas polisi. Istilah yang sering digunakan adalah melayani, melindungi, dan mengayomi.

Walaupun peran polisi sangat banyak, atau karena peran polisi sangat banyak, pengetahuan masyarakat mengenai polisi, motif polisi, dan tanggapan atau respons polisi, sangat terbatas. Ada ketidaktahuan dan ketidakpastian di masyarakat luas mengenai kinerja polisi.

Pada saat yang sama, dengan peran yang banyak tersebut, yang disertai dengan kewenangan yang dimiliki polisi berdasarkan konstitusi dan undang-undang, polisi memiliki peluang dan kesempatan untuk mengecewakan harapan-harapan masyarakat. Anggota Polri ada yang melakukan korupsi, pungutan liar, dan penyalahgunaan wewenang lainnnya.

Apabila polisi menyalahgunakan wewenang, korupsi, dan tindakan-tindakan lain yang menghianati kepercayaan masyarakat, maka kepercayaan masyarakat terhadap Polri akan merosot. Mungkin, yang menghianati kepercayaan masyarakat itu hanya sebagian kecil dari anggota polisi.

Akan tetapi, dampaknya bisa mengenai polisi pada umumnya. Salah satu perkiraan mengatakan bahwa hanya 10 persen dari anggota polisi yang kasar dan brutal. Tapi, yang 10 persen itu merusak yang 90 persen sisanya yang tidak kasar dan tak brutal. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga – begitu kata pepatah.

Apakah kepercayaan yang sudah rusak dapat diperbaiki? Bagaimana polisi memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dan institusi mereka? Pada umumnya kita bisa mengatakan bahwa kepercayaan akan meningkat apabila kepercayaan itu didukung dengan langkah dan bukti nyata, dan akan merosot jika diabaikan, dikecewakan, dan dikhianati.

Supaya kepercayan pulih, Polri bisa mengembangkan norma dan kode etik yang mewajibkan anggota supaya tidak menghianati warga masyarakat yang memercayainya. Jika warga masyarakat bertemu dengan banyak polisi yang jujur, dan hanya sesekali mendapatkan polisi yang tak jujur, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat.

Selanjutnya, polisi akan memiliki reputasi atau nama baik. Kalau institusi Polri memiliki reputasi dan nama baik, anggota polisi akan merasa berkepentingan menjaga reputasi dan nama baik polisi di mata warganegara. Pada gilirannya pula, masyarakat akan semakin mempercayai polisi.

Perlu ditekankan di sini bahwa polisi yang memiliki empati bukanlah polisi yang lembek dan main perasaan. Justru sebaliknya: Polisi yang berempati memiliki dua ciri yang saling berhubungan yakni, pertama, setia melaksanakan tugas pokok dan fungsi profesi polisi. Kedua, peduli terhadap, dan memahami, kebutuhan, keprihatinan, dan keinginan masyarakat.

Polisi yang memiliki empati tinggi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang lebih tinggi juga. Karena polisi berusaha memahami dan peduli dengan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan masyarakat, maka polisi memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang diperlukan supaya profesinya dapat dijalankan lebih baik.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password