Kapolsek Lilirilau Wujudkan Rumah Layak Huni untuk Nenek Salasiah

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Nenek Salasiah warga Desa Paroto Kec. Lilirilau Soppeng akhirnya bisa menikmati hidup dirumah yang layak, setelah mendapatkan bantuan pembangunan rumah dari Kapolsek Lilirilau Akp Syamsul Safar beserta personilnya.

Nenek yang sebelumnya tinggal di gubuk reot ini, mendapatkan keprihatinan dari Kapolsek Lilirilau saat dikunjungi beberapa waktu lalu. Proses pembangunan rumah tersebut dipantau langsung Kapolres Soppeng Akbp Dedy Dewantho S.Ik sore tadi, Senin (18/12/17).

Kapolsek Lilirilau Akp Syamsul Safar mengungkapkan, “Proses pembangunan sudah mencapai 95 persen, dan insya allah rampung paling lambat 3 hari kedepan”, saat ini bersama personil sudah dalam tahap pengecetan dinding, ungkapnya.

Artikel, Kapolsek Lilirilau Wujudkan Rumah Layak Huni untuk Nenek Salasiah1“Pembangunan bantuan rumah untuk nenek Salasiah ini juga dibantu oleh Kades Paroto,” tambah Kapolsek Lilirilau Akp Syamsul Safar.

Apa yang dilakukan Kapolsek Lilirilau Akp Syamsul Safar dengan membantu Nenek Salasiah mewujudkan rumah layak huni merupakan salah satu bukti reformasi Polri dan sebagai upaya menumbuhkan empati masyarakat terhadap keberadaan Polri.

Dalam rangka membangun empati antara Polri dan masyarakat, perlu dipahami kedua kemampuan ini yakni kemampuan saling mempercayai dan kemampuan empati. Empati adalah kunci membina kepercayaan dari masyarakat. Rasa percaya atau trust relevan sekali dalam kondisi sosial tertentu.

Dalam kehidupan masyarakat, Polisi memainkan banyak peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mengatur lalu lintas, menegakkan hukum, menyidik perkara, memelihara keamanan dan ketertiban, dan melindungi keselamatan warga negara adalah sebagian dari tugas polisi. Istilah yang sering digunakan adalah melayani, melindungi, dan mengayomi.

Walaupun peran polisi sangat banyak, atau karena peran polisi sangat banyak, pengetahuan masyarakat mengenai polisi, motif polisi, dan tanggapan atau respons polisi, sangat terbatas. Ada ketidaktahuan dan ketidakpastian di masyarakat luas mengenai kinerja polisi.

Pada saat yang sama, dengan peran yang banyak tersebut, yang disertai dengan kewenangan yang dimiliki polisi berdasarkan konstitusi dan undang-undang, polisi memiliki peluang dan kesempatan untuk mengecewakan harapan-harapan masyarakat. Anggota Polri ada yang melakukan korupsi, pungutan liar, dan penyalahgunaan wewenang lainnnya.

Supaya kepercayan pulih, Polri bisa mengembangkan norma dan kode etik yang mewajibkan anggota supaya tidak mengkhianati warga masyarakat yang memercayainya.

Jika warga masyarakat bertemu dengan banyak polisi yang jujur, dan hanya sesekali mendapatkan polisi yang tak jujur, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat. Selanjutnya, polisi akan memiliki reputasi atau nama baik. Kalau institusi Polri memiliki reputasi dan nama baik, anggota polisi akan merasa berkepentingan menjaga reputasi dan nama baik polisi di mata warganegara. Pada gilirannya pula, masyarakat akan semakin mempercayai polisi.

Polisi yang memiliki empati tinggi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang lebih tinggi juga. Karena polisi berusaha memahami dan peduli dengan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan masyarakat, maka polisi memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang diperlukan supaya profesinya dapat dijalankan lebih baik.

Penulis : Sumarwan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password