Polda Papua Launching Buku Polisi Pada Era Otsus dan Buku Saku HAM

Tribratanews.polri.go.id Polda Papua, Jayapura –  Kepolisian Daerah Papua melaksanakan acara Coffee Moring dan Launching Buku Polisi pada Era Otsus dan 3 buku saku HAM untuk Fungsi Reskrim, Sabhara dan Tahti di Cycloop meetingroom Hotel Sahid Papua, Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura, Jumat (15/12/2017).

Hadir dalam kegiatan tersebut Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Boy Rafli Amar, MH, Wakapolda Papua Brigjen Pol Drs. Agus Rianto, Komnas HAM Perwakilan Papua Frits Ramandey, Pakar Hukum Tata Negara Universitas Cenderawasih Dr. Yusak Elisa Reba, SH. MH, Redaktur Senior Cenderawasih Pos, Kapolres Jayapura Kota AKBP Tober Sirait, Kapolres Jayapura Gustav Urbinas, Kapolres Keerom Muji Widi Hartono, pemerintah daerah, para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa.

Kegiatan yang diawali dengan doa bersama dilanjutkan dengan penyerahan Buku Polisi pada era Otsus dan 3 buku saku HAM dari Perwakilan Komnas HAM Papua kepada Wakapolda Papua serta penyerahan 3 buku saku tersebut dari Wakapolda Papua kepada 3 perwakilan fungsi yaitu Reskrim, Sabhara dan Tahti.

Dalam sambutan Kapolda Papua yang dibacakan oleh Wakapolda Papua dijelaskan, Polri dituntut untuk lebih transparan dan akuntabel dalam menjalankan tugas pokok yang telah diamanatkan serta selaras dengan program kebijakan yang telah digariskan pemerintah khususnya terkait dengan penerapan reformasi birokrasi.

“Kami menyadari sepenuhnya bahwa baik dan buruknya pelayanan publik kepada masyarakat di Provinsi Papua berada di tangan kita bersama. Posisi Polri dengan dinamika masyarakat yang kompleks dihadapkan pada berbagai tantangan substansial yang tidak dapat dielakkan sebagai alat negara polisi menjadi pengawal dan penegakan peraturan dan hukum di mana posisinya yang berhadapan langsung dengan masyarakat membuat polisi membawa tanggung jawab moral dan kebenaran pada aspek penegakan hukum dalam artian polisi berada pada pihak yang netral tidak pilih kasih dan profesional dalam penegakan hukum,” kata Wakapolda.

Oleh karena itu, lanjut Wakapolda, Polri memerlukan sumber daya manusia atau personil yang berkualitas bermoral dan profesional sehingga mampu mengatasi setiap tantangan yang muncul lebih khusus di Provinsi Papua, ini sangat dibutuhkan anggota Polri yang profesional dan menjunjung tinggi HAM dalam setiap bentuk pelayanan kepolisian yang sesuai dengan kearifan lokal di Papua.

“Dengan adanya buku yang berjudul menjadi polisi di era otsus semoga mampu memberikan motivasi kepada seluruh masyarakat dan pada khususnya anggota Polri dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat yang sesuai dengan identitas dan Citra masyarakat Papua,” tutur Brigjen Pol Agus.

Polda Papua Launching Buku Polisi Pada Era Otsus dan Buku Saku HAM-

Komnas HAM perwakilan Papua Frits B. Ramandey mengatakan, buku ini menjadi sebuah tanggung jawab dari beberapa pengawas eksternal, DPR, MRP, Komnas HAM dll untuk mengambil bagian mengubah segi struktur menjadi kultur, mulai dari rekrutmen anggota Polri.

“Polri merupakan salah satu lembaga yang dalam melakukan proses rekrutmen 80 % adalah transparan, itu menunjukkan bahwa Polri menganut asas transparansi. Fakta tentang Polri terdapat kekhususan dalam Otsus seperti memberikan kuota dalam beberapa daerah, itu menjadi catatan penting terhadap polri dalam pelalsanaan rekrutmen menjadi anggota Polri,” kata Frits Ramandey.

Sementara itu Pakar hukum dari Universitas Cenderawasih Dr. Yusak Elia Reba, SH. MH mengatakan, Berlakunya Undang-undang Otsus telah direspon baik oleh Polda Papua dengan memberikan terobosan memberikan kuota yang lebih kepada anak – anak Papua, banyak cerita yang selalu muncul dalam penerimaan yaitu jatuh dalam kesehatan, ini menjadi catatan agar kedepan anak – anak papua dapat lebih mempersiapkan diri dalam mengikuti seleksi.

“Masyarakat mempunyai harapan yang lebih kepada Polisi dalam menegakkan hukum dan HAM di Papua, namun polisi juga manusia, kita harus rasionalisasi beban kerja polisi agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Orang tua mempunyai peran penting dalam membina anaknya agar dalam dalam mengikuti seleksi dapat melaksanakan dengan baik dan apabila diterima maka akan menjadi polisi yang professional,” ungkap Yusak Reba.

Di lain sisi Redatur senior media Cenderawasih Pos Lucki Ireuw, SH mengatakan, berbicara masalah tugas polisi harus melihat jabatan/kepangkatan orang Papua menjadi polisi sebelum era Otsus dan sesudah adanya Otsus.

“Setelah era Otsus ada maka kita diberikan kepercayaan dan banyak peluang terbuka untuk papua, masih ada stigma bahwa orang papua masih malas dan bodoh, namun anggapan itu tidak berlaku untuk polri dan polri membuka peluang kepada anak – anak papua untuk menjadi anggota Polri,” pungkas Lucky Ireuw.

Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Boy Rafli Amar yang hadir juga mengucapkan terima kasih atas launching buku ini dan menjelaskan ada 5 strategi pada saat menjabat Kapolda Papua, salah satunya Polisi Pro aktif. HAM diberikan kepada semua masyarakat, namun masyarakat harus paham dan butuh bimbingan terkait hukum agar tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma adat dan hukum yang berlaku agar semua masyarakat tertib dengan hukum.

“Terkait dengan rekrutmen, kami berusaha akan membuat MoU dengan pemerintah Provinsi Papua, agar wujud MoU dapat kita implementasikan bersama dengan instansi terkait agar dalam mengikuti seleksi dapat lulus dan nilai yang diperoleh sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dalam mengikuti seleksi dapat menyiapkan fisik dan pengetahuan intelijensinya, agar pada saat seleksi resmi lebih mengetahui dan percaya diri serta dapat lulus dan dapat mencapai rangking diatas,” pungkas Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar.

Polda Papua Launching Buku Polisi Pada Era Otsus dan Buku Saku HAM--

Penulis: Syam Lie

Editor: Alfian Nur

Publisher: Reinaldy N R

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password