Polresta Denpasar dan Team Sabata Polda Bali Amankan Sidang Bendesa Adat Tanjung Benoa

Tribratanews.polri.go.id – Polda Bali, Sidang lanjutan kasus dugaan perluasan daratan tanpa izin dan perusakan Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDA-E) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Rabu (6/12/2017) dilanjutkan dengan sidang pemeriksaan tempat. Sidang dipimpin I Ketut Tirta, S.H., M.H. selaku Ketua Hakim.

Saat tim dari Pengadilan Negeri Denpasar tiba, ratusan warga Tanjung Benoa juga ikut turun ke lokasi. Selain itu, turut hadir Anggota DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Dhamantra untuk memberikan semangat pada Made Wijaya alias Yonda selaku Bandesa Adat Tanjung Benoa, dan lima terdakwa lainnya yakni I Made Marna, I Ketut Sukada, I Made Mentra, I Made Dwi Widnyana dan I Made Suartha.

Team Sabata Polda Bali bersama Polresta Denpasar melakukan pengamanan di sekitar area persidangan. Tujuannya adalah agar pelaksanaan sidang dapat berjalan aman sesuai dengan agenda sidang. Pengamanan ini dipimpin langsung Wakapolresta Denpasar AKBP I Wayan Artana.

AKBP I Wayan Artana ketika dikonfirmasi mengatakan, hadirnya warga Tanjung Benoa yang mencapai sekitar 750 orang akan menimbulkan berbagai kerawanan, sehingga dapat menghambat jalannya persidangan. Menurutnya, polisi melakukan pengamanan sidang ini secara profesional dan proporsional.

“Kami ingin sidang ini berjalan lancar dan sukses. Sidang ini adalah untuk mendapatkan fakta-fakta riil di lapangan khususnya dalam penunjukan batas-batas yang diduga di reklamasi oleh para terdakwa,” kata Wakapolresta Denpasar.

Saat sidang dimulai di Pulau Pudut, terdakwa dkk menunjukkan areal yang ditimbun dengan pasir sesuai dengan dakwaan seluas 22 meter persegi. Namun sekarang sebagai timbunan pasir menggunakan karung sudah tidak ada dilokasi atau telah dibongkar oleh warga. Terdakwa menjelaskan dalam proses pengurugan menunjukkan akses jalan yang digunakan untuk mengangkut bahan-bahan dan material lainnya.

Dalam sidang terdakwa juga menunjukkan lokasi pohon bakau yang dibabat oleh tukang, dimana sebenarnya arahannya bukan untuk membabat tapi merapikan rantingnya saja untuk memudahkan akses warga menggunakan loloan atau aliran sungai. Terdakwa juga menunjukkan loloan yang dulunya ditutup pasir, air akan berhenti seperti dituduhkan dalam persidangan. Namun kenyataannya air tetap mengalir dan tumbuhan tidak mati.

Terdakwa dalam kesempatan sidang ini, juga menunjukkan foto-foto pada saat terdakwa melakukan pembongkaran terhadap urugan sesuai dengan arahan dari pihak kehutanan, namun akhirnya setelah pembongkaran terdakwa tetap dilaporkan ke pihak berwajib. Hingga berakhir, seluruh agenda persidangan dapat berjalan dengan aman dan kondusif.

Penulis : Bina Wartawan

Editor   : Swanjaya

Publish : Windyasa

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password