Begini Cara Binmas Polsek Bontoala Mediasi Pelajar yang Bertikai di Sekolah

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kanit Binmas Polsek Bontoala Iptu H. Sudirman bersama Ipda Syarifuddin mediasi pelajar yang berkelahi di SMA Irnas jalan kubis No. 64 Makassar dihadiri oleh kedua pelajar yang bertikai, serta pihak sekolah, Senin (4/12/17).

Perkelahian yang melibatkan dua orang siswa SMA Irnas WA (17) dan VR (15)  terjadi pada hari Kamis (30/11/17) berawal dilapangan sepak bola sekolah yang merembet sampai keluar sekolah.

“Untuk kasus perkelahian antar siswa ini kami dari pihak Polsek Bontoala mengupayakan mediasi secara kekeluargaan antara kedua siswa didampingi orang tuanya serta pihak guru,” ungkap H. Sudirman.

Kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dihadapan polisi dan pihak guru serta bersedia tidak mengulangi lagi perbuatannya dan tidak akan saling menuntut dikemudian hari yang tertuang dalam surat pernyataan.

Perkelahian antar kedua pelajar satu sekolah terjadi karena kesalapahaman saat bermain bola dihalaman sekolah, pihak sekolah ibu Hartati mengatakan bersyukur karena permasalahan tersebut dapat selesai secara kekeluargaan dan kedua anak sudah kembali belajar disekolah.

Mediasi yang dilakukan Kanit Binmas Polsek Bontoala merupakan salah satu bentuk dari alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Tujuan dilakukannya mediasi adalah menyelesaikan sengketa antara para pihak dengan melibatkan pihak ketiga yang netral dan imparsial dalam hal ini pihak Kepolisian.

Mediasi dapat mengantarkan para pihak ketiga pada perwujudan kesepakatan damai yang permanen dan lestari, mengingat penyelesaian sengketa melalui mediasi menempatkan kedua belah pihak pada posisi yang sama, tidak ada pihak yang dimenangkan atau pihak yang dikalahkan (win-win solution).

Dalam mediasi para pihak yang bersengketa proaktif dan memiliki kewenangan penuh dalam pengambilan keputusan. Mediator tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan, tetapi ia hanya membantu para pihak dalam menjaga proses mediasi guna mewujudkan kesepakatan damai mereka.

Penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi sangat dirasakan manfaatnya, karena para pihak telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri persengketaan mereka secara adil dan saling menguntungkan.

Bahkan dalam mediasi yang gagal pun, di mana para pihak belum mencapai kesepakatan, sebenarnya juga telah merasakan manfaatnya. Kesediaan para pihak bertemu di dalam proses mediasi, paling tidak telah mampu mengklarifikasikan akar persengketaan dan mempersempit perselisihan di antara mereka.

Hal ini menunjukkan adanya keinginan para pihak untuk menyelesaikan sengketa, namun mereka belum menemukan format tepat yang dapat disepakati oleh kedua belah pihak.

Model utama penyelesaian sengketa adalah keinginan dan iktikad baik para pihak dalam mengakhiri persengketaan mereka. Keinginan dan iktikad baik ini, kadang-kadang memerlukan bantuan pihak ketiga dalam perwujudannya. Mediasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga. Mediasi dapat memberikan sejumlah keuntungan antara lain :

  1. Mediasi diharapkan dapat menyelesaikan sengketa secara cepat dan relatif murah dibandingkan dengan membawa perselisihan tersebut ke pengadilan atau ke lembaga arbitrase.
  2. Mediasi akan memfokuskan perhatian para pihak pada kepentingan merekan secara nyata dan pada kebutuhan emosi atau psikologis mereka, sehingga mediasi bukan hanya tertuju pada hak-hak hukumnya.
  3. Mediasi memberikan kesempatan para pihak untuk berpartisipasi secara langsung dan secara informal dalam menyelesaikan perselisihan mereka.
  4. Mediasi memberikan para pihak kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap proses dan hasilnya.
  5. Mediasi dapat mengubah hasil, yang dalam litigasi dan arbitrase sulit diprediksi, dengan suatu kepastian melalui konsensus.
  6. Mediasi memberikan hasil yang tahan uji dan akan mampu menciptakan saling pengertian yang lebih baik di antara para pihak yang bersengketa karena mereka sendiri yang memutuskannya.
  7. Mediasi mampu menghilangkan konflik atau permusuhan yang hampir selalu mengiringi setiap putusan yang bersifat memaksa yang dijatuhkan oleh hakim di pengadilan atau arbiter pada lembaga arbitrase.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password