Polsek Tallo Ringkus Dua Pelaku Pengedar Uang Palsu

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Resmob Polsek Tallo menangkap dua orang pelaku peredaran uang palsu pecahan RP. 50.000 (Lima Puluh Ribu) dan pecahan RP. 20.000 (Dua Puluh Ribu), Minggu (19/11/2017).

Resmob Polsek Tallo yang dipimpin Panit Reskrim Ipda Muhiddin berhasil mengamankan pelaku peredaran uang palsu masing – masing lelaki inisial RI (33), warga Salodong Biringkanaya dan lelaki inisial KU (22) warga Jalan Muh. Jufri Makassar.

photo_2017-11-18_19-34-08-336x

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar AKP Laode Idris  mengatakan kedua pelaku merupakan jaringan dan memiliki peran masing – masing lelaki RI sebagai pencetak uang palsu sedangkan lelaki KU sebagai pengedar uang palsu, Ungkap Kasubbag Humas.

“Lelaki KU membawa uang pecahan RP.50.000 (Lima Puluh Ribu) sebanyak 12 lembar sedangkan lelaki RI membawa uang palsu pecahan RP. 50.000 (Lima Puluh Ribu) sebanyak 2 lembar dan pecahan RP 20.000 (Dua Puluh Ribu) sebanyak 2 lembar”, Lanjut AKP Laode Idris.

Berdasarkan laporan dari masyarakat ada seseorang yang dicurigai berbelanja menggunakan uang palsu di Jalan AR. Hakim Makassar setelah mendapat laporan Resmob Polsek Tallo bergerak dan berhasil menangkap dan melakukan pemeriksaan pada kantong celana yang digunakan pelaku lelaki KU hasilnya terdapat uang palsu sebanyak 12 lembar pecahan RP. 50.000,00.

Dari hasil introgasi lelaki KU mengakui dan membenarkan membawa uang palsu pecahan RP. 50.000,00 untuk diedarkan atau ditukar kepada warga yang tidak mengetahui kalau uang tersebut palsu, menurut lelaki KU uang tersebut berasal dari lelaki RI yang bertempat tinggal di rumah kost di Salodong kecamatan Biringkanaya kota Makassar.

Resmob Polsek Tallo kembali bergerak ke jalan Salodong dan langsung mengamankan lelaki RI, pada saat dilakukan penggeladahan di dalam rumah kost milik lelaki RI ditemukan printer Canon  Pixma MP278 dan kertas HVS dan uang cetakan baru pecahan RP. 50.000,00 dan RP. 20.000,00 masing – masing 2 lembar.

Para pelaku telah di lakukan penahanan dan barang bukti yang disita di bawah ke Polsek Tallo  guna penyidikan lebih lanjut.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang setiap orang yang meniru rupiah, kecuali untuk tujuan pendidikan dan promosi dengan memberi kata “spesimen”.

Sedangkan apabila sengaja menirukan rupiah sanksi dipidana dengan pidana kurungan paling lama tahun dan pidana denda paling banyak Rp 200 ratus juta.

Selain itu orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan akan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun. Pengedar uang palsu juga dituntut dengan pidana denda paling banyak Rp 200 ratus juta.

Tak hanya sanksi bagi penyebar uang palsu, setiap orang yang dengan sengaja merusak, memotong, menghancurkan, dan atau mengubah rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan rupiah sebagai simbol negara sebagaimana dimaksud dalam perundangan kata Dwi juga dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 1 miliar.

Pidana dan denda diatas juga dikenakan kepada setiap orang yang membeli atau menjual rupiah yang sudah dirusak, dipotong, dihancurkan atau diubah bentuknya.

Bagi yang mengimpor atau mengekspor rupiah yang sudah dirusak, dipotong, dihancurkan, atau diubah juga akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 10 miliar. Hukuman ini sama dengan setiap orang yang memalsu rupiah serta bagi yang menyimpan secara fisik rupiah tiruan dengan cara apa pun.

Hukuman berat dikenakan bagi setiap orang yang mengedarkan atau membelanjakan rupiah yang diketahuinya merupakan rupiah palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 50 miliar.

Hukuman dan denda ini sama bagi yang membawa atau memasukkan rupiah palsu ke dalam atau ke luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pidana penjara paling lama seumur hidup dan pidana denda paling banyak Rp 100 miliar juga akan dikenakan bagi
setiap orang yang terbukti mengimpor atau mengekspor rupiah palsu.

Hukuman ini juga setara dengan orang yang memproduksi, menjual, membeli, mengimpor, mengekspor, menyimpan, atau mendistribusikan mesin, peralatan, alat cetak, pelat cetak atau alat produksi lainnya.

Hukuman ini juga berlaku bagi yang l memproduksi, menjual, membeli, mengimpor, mengekspor, menyimpan, atau mendistribusikan bahan baku.

Dalam hal terpidana perseorangan tidak mampu membayar pidana denda, maka kata Dwi pidana denda diganti dengan pidana kurungan dengan ketentuan untuk setiap pidana denda sebesar Rp 100 juta diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan. Adapun lama pidana kurungan pengganti harus dicantumkan dalam putusan pengadilan.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password