Gasak Ratusan Voucher Pulsa, Dua Pelaku Curat di Makassar Ditangkap Polisi

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Resmob Polsek Ujung Pandang berhasil membekuk dua pelaku pencurian dengan pemberatan (Curat), Jumat (17/11/2017).

Tersangka yang dibekuk oleh Resmob Polsek Ujung Pandang yang dipimpin oleh Panit Reskrim Ipda Mulya Widada adalah lelaki inisial RI (25) warga Jalan Manuruki Makassar dan lelaki inisial RE (24) warga Jalan Penghibur Makassar.

photo_2017-11-16_23-20-37-660x

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar AKP Laode Idris mengatakan dua pelaku tersebut masuk ke kios dengan cara merusak pintu warung kaki lima di depan Kantor Pos Jalan Slamet Riyadi Makassar.

Setelah dilakukan penangkapan kedua pelaku mengakui telah melakukan pencurian di sebuah kios di jalan Slamet Riyadi Makassar dengan cara merusak kunci pintu dengan menggunakan palu dan mengambil kartu Voucher pulsa dan kuota sebanyak 140 lembar dengan kerugian di perkirakan RP. 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah) dan 10 bungkus rokok.

Lelaki insial RE berperan sebagai eksekutor sedangkan lelaki RI menunggu diatas motor sambil menjaga dan memperhatikan situasi disekitarnya.

Kemudian hasil curian sebagian sudah di gunakan dan di jual, Selanjutnya pelaku bersama barang bukti di bawah ke Polsek Ujung Pandang guna penyidikan lebih lanjut.

Pengamat Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura, M Sabran menilai fenomena kejahatan “Pencurian” yang terjadi disejumlah kota besar di Indonesia hampir sama dengan kejahatan jambret.

Menurut dia, dibalik meningkatnya kejahatan tersebut, harus ada pengkajian terlebih dahulu untuk mengatasi agar tidak meresahkan masyarakat. Seorang pelaku kejahatan biasanya lekat hubungannya dengan penggunaan narkoba dan minuman keras.

“Atau yang perlu diwaspadai juga apakah ini ada hubungannya dengan teror seperti yang banyak terjadi saat ini pembunuhan, pemerkosaan. Motif apa dibalik kejahatan ini jangan sampai muncul curiga saling curiga yang menimbulkan kondisi yang tidak kondusif,” kata dia.

Dirinya juga menjelaskan sebuah kejahatan itu tidak mungkin dapat berdiri sendiri. Dia berpendapat di balik aksi kejahatan tentulah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dan perlu diperdalam penyelidikannya, selain alasan klasik seperti himpitan ekonomi. Kejahatan  dapat terjadi karena adanya niat dan kesempatan serta kelemahan dan ketidakwaspadaan masyarakat dimanfaatkan oleh pelaku.

“Kesempatan menurut mereka itu akibat daripada kelemahan masyarakat yang dimanfaatkan oleh si pelaku, maka dari itu saya kira perlu adanya suatu kewaspadaan di dalam diri,” kata dia.

Dalam konteks kejahatan itu pasti terorganisir, adanya kelompok dan penguasaan wilayah tertentu. Bagaimana hasil dari kejahatan itu akan disetorkan kepada pimpinan pada wilayah kekuasaannya.

Oleh karena itu dirinya meminta aparat keamanan dan instansi lain juga harus berpartisipasi seperti dalam mencegah dan mengatasi hal tersebut, seperti melakukan penjagaan di daerah rawan dan jam yang rawan serta penerangan jalan untuk daerah yang sepi dan gelap harus dioptimalkan.

Aparat kepolisian dan instansi lain harus mempunyai suatu konsep pemetaan wilayah rawan untuk di lakukan patroli terutama di jam-jam rawan. Dan lokasi jalan rawan aksi kejahatan hendaknya diberi penerangan jalan yang maksimal.

Penulis : Bara

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password