Penyuluhan di Pesantren, Cara Jitu Polri Tangkal Paham Radikal Dikalangan Santri

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Operasi kewilayahan Bina Waspada Lipu 2017 kembali digelar Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Sulsel, Kompol Oktavianus bersama Bhabinkamtibmas Kelurahan Pai Aiptu Radar mengunjungi pesantren Almubarak Jalan Goa Ria Kelurahan Pai Makassar, Kamis (16/11/2017).

Sasaran dari Operasi Bina Waspada ini adalah penyuluhan tentang bagaimana menangkal paham radikalisme dan terorisme serta anti Pancasila.

Selain melakukan penyuluhan dilanjutkan dengan penyerahan 10 Al Quran dan dua buah bola kaki kepada pimpinan Pesantren Almubarak Hs Abd Kadir Jaelani.

“Kegiatan tersebut diikuti dengan baik oleh para siswa, dan berjalan dengan tertib dan lancar,” kata Bhabinkamtibmas Kelurahan Pai Aiptu Radar.

kegiatan ini kemudian dilanjutkan ke pesantren Darul Arqam Gombara Jalan Ir Sutami Kel. Pai dengan kegiatan yang sama yaitu melaksanakan penyuluhan di pesantren.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap waspada kepada generasi muda akan bahayanya paham radikal. Mudahnya masyarakat mengikuti paham radikal ini karena kurangnya ilmu, padahal dalam hukum Islam, siapa saja yang melakukan teror dan menakut-nakuti orang lain, ia akan dikenakan hukuman yang berat.

Mereka inilah yang disebut dengan orang berbuat kerusakan di muka bumi seperti halnya para penyamun atau tukang begal. Mereka akan dikenai hukuman yang berat supaya tindakan jahat tidak lagi berulang, juga untuk menjaga harta, darah dan kehormatan orang lain. Tentang orang semacam ini disebutkan dalam ayat.

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Maidah: 33).

Ingat pula bahwa Islam melarang membunuh orang lain, bahkan jika satu nyawa dibunuh tanpa alasan yang benar, berarti ia telah membunuh manusia seluruhnya. Allah Ta’ala berfirman.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al Maidah: 32). Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman bahwa ayat ini juga ditujukan para para tukang begal atau penyamun yang mengancam membunuh atau merampas harta orang lain dengan cara paksa.

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa meneror atau tindakan terorisme terlarang dalam Islam.

Dalam Islam, meneror atau menakut-nakuti orang lain walau bercanda atau sekedar lelucon saja dilarang.

Meneror atau menakut-nakuti orang lain itu termasuk berbuat dosa. Pernah di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama beliau, lalu ada seseorang di antara mereka yang tertidur dan sebagian mereka menuju tali yang dimiliki orang tersebut dan mengambilnya. Lalu orang yang punya tali tersebut khawatir (takut). Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud no. 5004 dan Ahmad 5: 362. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Al Munawi menyatakan bahwa jika dilakukan dengan bercanda tetap terlarang karena seperti itu menyakiti orang lain. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 13: 251.

Penulis : Marwan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password