Beraksi di 39 Lokasi, Pelaku Begal di Makassar Dibekuk Polisi

images-1-1

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Residivis pencurian dengan kekerasan (curas) dan pencurian dengan pemberatan (curat) telah ditangkap oleh Resmob Polrestabes Makassar.

Lelaki AR alias Naba (30) warga Jalan Sultan Alauddin Makassar, ditangkap oleh Resmob Polrestabes Makassar di Jalan Skarda Makassar, Jumat (10/11/2017).

Setelah melakukan pengembangan Resmob kembali mengamankan lelaki ML alias Culi (20), lelaki RK alias Kiki (17), lelaki RMS (33), lelaki JM (23) dan lelaki SH alias Tuan (30).

photo_2017-11-13_10-45-36-336x

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Anwar Efendi, S.IK, SH, MH dikonfirmasi membenarkan atas penangkapan tersebut.

Diketahui sebanyak 39 Laporan Polisi di berberapa Polsek Jajaran Polrestabes Makassar pelaku melakukan aksi Curas, Curanmor dan Curat.

Diantaranya Laporan Polisi di Polsek Rappocini lelaki AR melakukan Curas bersama dengan temannya di Jalan Talasalapang 1 Pondok Putri Devilla Makassar.

Pelaku berempat melakukan aksinya dengan membawa senjata tajam berupa parang, pisau lipat dan busur masuk kedalam kamar kost lalu mengancam korban dan penghuni kost lainnya sambil meminta uang dan barang berharga milik korban berupa HP dan uang sebanyak 500 ribu rupiah.

Pelaku juga melakukan Curat di BTN Tabaria bersama dengan temannya, pelaku mengambil 1 unit notebook merek Toshiba, 1 unit HP dan dompet berisi uang 200 ribu rupiah.

Resmob Polrestabes juga mengamankan beberapa barang bukti baik dari pelaku maupun penadah.

Saat ini pelaku diamankan di Polrestabes Makassar guna preses hukum lebih lanjut dan Resmob saat ini masih melakukan pencarian terhadap teman pelaku yang lainnya.

Fenomena pelaku aksi begal yang terjadi pada sejumlah kota besar di Indonesia merupakan bentuk kejahatan kriminal yang sejajar dengan masalah ekonomi. Kesenjangan sosial dan kesulitan hidup yang terjadi menjadi salah satu faktor pemicu kejahatan pelaku pembegalan di jalanan.

Pemicu lainnya kemudian ditambah dengan tidak adanya pemerataan lapangan kerja membuat masyarakat terutama pemuda dengan pendidikan rendah semakin sulit untuk mencari penghasilan. Untuk itu, masalah inilah yang utamanya perlu diatasi.

Pengamat Sosial khusus masalah kemiskinan dari Universitas Indonesia, Priadi Permadi mengatakan faktor kriminal itu juga didorong dengan adanya iklan maupun film di televisi yang menunjukkan hidup bergelimangan harta. Akibatnya, orang pun akan menggunakan segala cara agar bisa menjadi seperti itu.

Selain itu, faktor penegakan hukum pun tak luput dari perannya dalam meningkatkan jumlah kriminalitas. Dengan jumlah aparat kepolisian yang kurang, ditambah faktor ekonomi para penegak hukum tersebut, menjadi faktor lainnya kriminalitas seperti pembegalan meningkat.

“Seharusnya penegak hukum pun memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kriminal tersebut. Jangan sampai kasus anak jalanan yang kemudian ditangkap dan bebas setelah ditebus menjadi salah satu faktor membuat anak jalanan tersebut berani melakukan kriminalitas lebih tinggi,” ucapnya.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak-anak dalam masalah seperti ini terutama orang tua dan pemerintah. Para orangtua seharusnya bersikap ekstra hati-hati dan memantau secara rutin setiap tahap perkembangan anaknya. Lalu pemerintah harus bekerja lebih maksimal lagi dalam mensejahterakan rakyatnya.

Misalnya, meringankan biaya pendidikan agar anak-anak memiliki ilmu dan skill yang bisa digunakan untuk meringankan beban orang tua mereka. Lalu memberikan dana/uang jatah bulanan kepada warga miskin. Membatasi jumlah penduduk tiap tiap pulau, sehingga tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi di salah satu pulau/ pemindahan orang–orang ke pulau lain.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password