Mencegah Gangguan Kamtibmas, Polres Soppeng Bersama Wahdah Islamiyah Gelar Studi Islam

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kasubbag Humas Polres Soppeng Akp Muhajir tampil sebagai pemateri pada acara studi Islam sehari dengan tema Mulia dengan Al,Quran di Aula Balai Benih Ikan Laburawung Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Minggu (15/10/17).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua DPD Wahdah Islamiyah Soppeng Ustad Ahsan Laode, yang dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan ini adalah program nasional Wahdah Islamiah yang dilaksanakan bekerja sama dengan Kepolisian untuk membantu Pemerintah dalam hal pencegahan gangguan Kamtibmas.

Dalam sambutan Kasubbag Humas Polres Soppeng memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara khususnya DPD Wahdah Islamiah Soppeng yang telah menggelar kegiatan studi islam sehari ini, sejalan dengan operasi Bina Kusuma Lipu yang tengah dilaksanakan oleh Kepolisian.

Salah satu penjelasan dalam penyampaian materi yang disampaikan Kasubbag Humas yaitu tentang Pancasila, di Indonesia, dasar negara adalah Pancasila, di Indonesia ada 5 Agama yang diakui, semuanya terbingkai dalam satu kesatuan dari sabang sampai merauke yang menjunjung tinggi ketuhanan yang maha esa, bersatu dalam perbedaan.

Kasubbag Humas Polres Soppeng menjelaskan, “salah satu karakter penting dari sekian banyak keteladan Rasulullah Muhhamad SAW, adalah ketika beliau menjadi pemimpin dalam pembangunan masyarakat Madinah.” Pada masa itu, sebagai daerah dengan sistem kemasyarakatan yang bersifat majemuk, penduduk Madinah sangat heterogen terdiri dari kaum Muslimin yang berasal dari suku Quraisy (Muhajirin) dan kelompok Ansor (suku Aus dan Khazraj), kaum Yahudi dari Bani Quraidlah, Bani Qoinuqa’ dan Bani Nadzir serta kelompok Nasrani dari Najran.

Dengan mereka itu Nabi membuat “Piagam Madinah” sebagai pengikat masyarakat majemuk tadi menjadi ummat wahidatan (satu Ummat) yang menjunjung persamaan mengesampingkan perbedaan dan berjuang bersama dalam membela negara. Sebagai pemimpin, Nabi memberikan perhatian yang besar terhadap seluruh kelompok masyarakat, menunjukkan rasa kasih sayang, tetapi tetap tegas dan adil. Setiap pemeluk agama mendapatkan hak hidup dan kebebasan menjalankan agamanya dengan seluas-luasnya.

Ini menunjukkan betapa pandangan pluralis dan bersikap toleran itu telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh Nabi sejak awal. Dengan demikian Piagam Madinah bisa dilaksanakan dengan efektif bagi seluruh anggota kelompok yang menandatangani Piagam tersebut. Semuanya hidup rukun dan bebas menjalankan agama masing-masing di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Kehidupan itulah yang menyebar ke seluruh dunia termasuk yang datang dan tumbuh di Nusantara. Efektivitas kepemimpinan Nabi itu telah menciptakan kehidupan yang sebelumnya penuh kekerasan menjadi kehidupan yang penuh kedamaian. Ini merupakan pelajaran penting bagi umat Islam sesudahnya dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.

Rupanya teladan Nabi kita ini menginspirasi para Bapak Pendiri Bangsa kita, diterapkan dengan sangat tepat, dan dalam rumusan yang sangat indahnya saat membuat dasar negara dengan pertama-tama meletakkan fundasi Ketuhanan Yang Maha Esa, atau dalam bahasa agama disebut keimanan (ketauhidan), bagi bangsa Indonesia. Berdasarkan ketauhidan itu kemudian dilanjutkan pada cerminan amal saleh dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan. Semua ini tertuang dalam Pancasila sebagai dasar negara kita, karena itulah kedudukan Pancasila mempunyai posisi kuat, baik secara syar’i (agama) maupun secara siyasi (politik) dan dapat diterima dengan sepenuh hati sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara.

Semua contoh dan keteladanan Nabi itu bukan hanya untuk diceritakan, tetapi untuk diwarisi dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Insya Allah.

Penulis : Marwan
Editor   : Alfian
Publish : Sumarwan

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password