Pencuri Alat Eletronik di Bone Diringkus Polisi Ditempat Persembunyiannya

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Resmob Polres Bone membekuk seorang pelaku pencurian elektronik berupa satu unit TV merk LG 32 inch warna hitam, satu unit amplivier warna hitam, satu buah kotak mike warna hitam dan satu unit DVD politron Warna hitam merah, Selasa (10/10/17).

Pelaku yang diketahui bernama Asmar Bin Muh. Tahir (18) warga jalan Lapatau, Kelurahan Macege, Kabupaten Bone, dibekuk ditempat persembunyiannya di jalan K.H Agus Salim tepatnya di belakang Mall BTC Watampone.

Kasat Reskrim Polres Bone Akp Hardjoko yang memimpin langsung penangkapan tersebut menjelaskan kronologi peristiwa pencurian yang terjadi pada Sabtu (7/9/17) dini hari, di Cafe Ojolali, kompleks sentral lama, jalan Arif Rahman Hakim, Watampone, Milik Aninah.

“Pelaku masuk ke cafe dengan merusak pintu, selanjutnya mengambil gerobak yang berisi sejumlah barang elektronik,” pungkas Hardjoko.

Saat ditangkap, Asmar hanya bisa tertunduk malu dan mengakui perbuatannya telah melakukan pencurian tersebut, dari tangannya petugas menyita barang bukti berupa satu unit TV merk LG 32 inch warna hitam, satu unit amplivier warna hitam, satu buah kotak mike warna hitam dan satu unit DVD politron Warna hitam merah.

“Saat ditangkap pelaku tak berkutip, selanjutnya pelaku bersama barang bukti dibawa ke Mapolres Bone untuk menjalani penyidikan,” tambah Kasat Reskrim.

Di zaman yang modern ini dimana pertumbuhan kebutuhan ekonomi masyarakat semakin bertambah, terutama menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan dan lapangan pekerjaan. Hal inilah yang menimbulkan kerawanan dibidang keamanan masyarakat, yaitu seringnya terjadi kejahatan. Kejahatan merupakan  gejala sosial yang selalu dihadapi oleh masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan.

Intensitasnya setiap hari semakin tinggi, modus dan operasinya pun canggih dan menggunakan segala macam cara, termasuk melakukan pencurian dengan pemberatan (Curat).

Dari berbagai  pemberitaan di media massa baik itu dari media elektronik maupun media cetak, pemberitaan mengenai pencurian, khusunya pencurian dengan kekerasan menarik perhatian, mengusik rasa aman dan mengundang tanda tanya pada masyarakat tentang apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah, khususnya aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk menekan tindak pidana pencurian dengan kekerasan ini.

Polisi Republik Indonesia (Polri) merupakan satu-satunya instansi yang diberikan wewenang dan tanggung jawab oleh Undang-Undang, pada setiap anggota Polri secara individu dengan tidak membedakan pangkat dan jabatan diberi kewenangan penuh untuk menegakkan hukum. Hal itu diberikan sebagai upaya pencegahan sampai dengan penindakan hukum terhadap segala tindak pidana kejahatan.

Sebagai satu kesatuan dalam kebijakan kriminal dan pada hakekatnya merupakan bagian integral dari kebijakan sosial dengan tujuan utama memberikan perlindungan kepada masyarakat guna mencapai kesejahteraan bersama.

Tindak kejahatan yang terjadi selama ini sudah mencapai batas yang dikhawatirkan, yang dampaknya secara luas dapat meresahkan masyarakat, karena tindak kejahatan yang sering terjadi tidak jarang disertai dengan tindakan penganiayaan serta perlakuan kekerasan yang dilakukan terhadap korban.

Sehingga peristiwa-peristiwa semacam itu kemudian menimbulkan trauma bagi masyarakat sekitar. Hal ini tidak saja dialami oleh masyarakat perkotaan namun sudah meluas di lingkungan pedesaan.

Pada  hakekatnya  banyak  usaha  dan  kegiatan  yang  ditempuh pemerintah dan aparat hukum dalam rangka mencegah terjadinya tindak pidana  pencurian dengan kekerasan, baik melalui penyuluhan hukum dan peningkatan sistem keamanan,  maupun  dengan  cara  penghukuman  terhadap pelaku tindak pidana pencurian dengan hukuman yang berat.

Sesuai dalam KUHP Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan yang diatur dalam Pasal 365 dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun atau jika perbuatan curas itu mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun atau dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.

Walaupun bangsa ini menginginkan agar tindak pidana itu ditekan seminimal mungkin, namun keinginan dan cita-cita itu merupakan sesuatu yang saat ini sangat sulit untuk diwujudkan, hal ini terbukti dengan  masih saja ada laporan dari masyarakat tentang terjadinya tindak pidana pencurian.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password