Kasus Pejabat Pemkot Makassar yang Terjaring OTT Kini Dilimpahkan ke Kejaksaan

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Tersangka kasus dugaan pungutan liar yang ditangkap oleh  tim Satgas Saber Pungli Polrestabes Makassar dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) jalani proses Tahap II (Pelimpahan tersangka dan barang bukti) dari penyidik Tipikor Polrestabes Makassar kepada Jaksa Peneliti Kejaksaan Negeri Makassar, Senin (25/09/17).

Tersangka AA telah dilakukan penahanan pada Rumah Tahanan Polrestabes Makassar sejak tanggal 11 Agustus 2017 dan pada hari senin 25 September 2017 telah dilimpahkan bersama barang bukti  ke Kejaksaan Negeri Makassar.

Tersangka lelaki AA merupakan kepala seksi pengaduan dan pengawasan pada bidang penertiban ruang dan bangunan dinas penataan ruang dan bangunan kota Makassar telah menerima uang sebesar Rp 3.000.000, (Tiga Juta Rupiah) di duga kuat ada hubungannya dengan pekerjaan, jabatan atau kewenangannya.

Penyidik Polrestabes Makassar menjerat tersangka dengan pasal  11 atau pasal 12 huruf (a) atau huruf (b) UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pungutan liar merupakan perbuatan-perbuatan yang disebut sebagai perbuatan pungli sebenarnya merupakan suatu gejala sosial yang telah ada di Indonesia, sejak Indonesia masih dalam masa penjajahan dan bahkan jauh sebelum itu.

Namun penamaan perbuatan itu sebagai perbuatan pungli, secara nasional baru diperkenalkan pada bulan September 1977, yaitu saat Kaskopkamtib yang bertindak selaku Kepala Operasi Tertib bersama Menpan dengan gencar melancarkan Operasi Tertib (OPSTIB), yang sasaran utamanya adalah pungli.

Pungutan liar juga termasuk dalam kategori kejahatan jabatan, di mana dalam konsep kejahatan jabatan di jabarkan bahwa pejabat demi menguntungkan diri sendiri atau orang lain, menyalahgunakan kekuasaannya untuk memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk membayar atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri.

Istilah lain yang dipergunakan oleh masyarakat mengenai pungutan liar atau pungli adalah uang sogokan, uang pelicin, salam tempel dan lain lain. Pungutan liar pada hakekatnya adalah interaksi antara petugas dengan masyarakat yang didorong oleh berbagai kepentingan pribadi (Soedjono, 1983:15).

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan pungutan liar, yaitu: Penyalahgunaan wewenang. Jabatan atau kewenangan seseorang dapat melakukan pelanggaran disiplin oleh oknum yang melakukan pungutan liar.

  1. Faktor mental. Karakter atau kelakuan dari pada seseorang dalam bertindak dan mengontrol dirinya sendiri.
  2. Faktor ekonomi. Penghasilan yang bisa dikatakan tidak mencukupi kebutuhan hidup tidak sebanding dengan tugas/jabatan yang diemban membuat seseorang terdorong untuk melakukan pungli.
  3. Faktor kultural & Budaya Organisasi. Budaya yang terbentuk di suatu lembaga yang berjalan terus menerus terhadap pungutan liar dan penyuapan dapat menyebabkan pungutan liar sebagai hal biasa.
  4. Terbatasnya sumber daya manusia.
  5. Lemahnya sistem kontrol dan pengawasan oleh atasan.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password