Polres Soppeng Tangkap Remaja Pengedar Obat Daftar G

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, JM Alias Coken, (21), Pria yang beralamat di Ompo Kel. Ompo Kec. Lalabata Soppeng, diciduk Petugas Kepolisian Sat Res Narkoba Polres Soppeng dikediamannya, Rabu (20/9/17).

Ia diciduk petugas karena terbukti mengedarkan obat daftar G, saat dilakukan penggeledahan oleh petugas Sat Res Narkoba dikediaman pelaku, ditemukan ratusan butir obat obatan daftar G.

Kasat Narkoba Polres Soppeng Akp Hajriadi, membenarkan informasi tersebut, Jumat (21/9/17).

“Jenis obat yang diedarkan yaitu Tramadol, yang sudah dikemas dalam sachet siap edar,” jelas Akp Hajriadi.

Saat ini Jumardi sudah ditahan di Polres Soppeng guna pengembangan lebih lanjut terkait sindikat penyalahgunaan obat obatan daftar G, tutup Kasat Narkoba Polres Soppeng.

Maraknya peredaran obat daftar G menjadi pertanyaan, apa sih obat daftar G itu? Obat bergolongan ‘G’ adalah salah satu obat berbahaya karena memiliki khasiat keras.

Dalam bahasa Belanda, obat ini lebih dikenal gevaarlijk, dimana ketika digunakan sembarang akan berdampak meracuni tubuh atau memperparah penyakit yang ada.

Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan, Rise Desnita, S.Farm, M.Si., Apt  mengatakan penggolongan obat secara umum ada beberapa, mulai dari obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

Obat bebas adalah obat yang diperjualbelikan secara bebas hanya saja tetap digunakan sesuai dengan kebutuhan atau takaran. Obat bebas ditandai dengan bentuk lingkaran berwarna hijau, seperti vitamin.

Obat bebas terbatas adalah obat yang bebas didapatkan, tetapi pemakaian obat disertakan perhatian. Misalnya, perhatian obat bebas terbatas ini adalah mengantuk. Jika sudah begitu, obat jangan diminum ketika berkendaraan. Obat bebas terbatas ini ditandai dengan bentuk lingkaran berwarna biru.

Obat daftar ‘G’ disebut juga dengan golongan obat keras. Karena obat ini penggunaannya harus membutuhkan pengawasan, sehingga obat bergolongan ‘G’ ini selalu ditulis dengan resep dokter.  Obat bergolongan ‘G’ dengan bentuk lingkaran berwarna merah bergaris tepi hitam dan tulisan huruf ‘K’.

Meski termasuk dalam kategori obat keras, namun obat bergolongan ‘G’ tak melulu berada pada jenis narkoba atau psikotropika. Beberapa golongan antibiotik (penghilang rasa nyeri), seperti asam mefenamat atau ponstan untuk menghilangkan sakit gigi. Golongan obat batuk, seperti ambroksol. Obat oles, seperti antibiotik luka.

“Obat mual, serta obat diabetes juga termasuk obat bergolongan ‘G’,” ujar Sekretaris III Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Kalbar ini.

Rise menyarankan agar pasien tidak membeli obat bergolongan ‘G’ secara bebas. Termasuk pula bagi pasien yang hanya mengira-ngira penyakit yang diderita. Obat bergolongan ‘G’ ini hanya dapat digunakan sesuai dengan diagnosa. Misalnya obat diabetes, jika digunakan bukan pada pasien khusus, maka akan menyebabkan efek samping.

“Gula darah pasien akan menurun secara drastis dan membahayakan kondisinya,” tutur Rise.

Antibiotik juga termasuk golongan obat keras yang dapat menimbulkan efek samping. Sehingga harus patuh dalam penggunaannya. Jika dikonsumsi selama 7 hari, maka harus selesai pada rentang waktu itu juga.

Sayangnya, meski termasuk obat keras dan harus dalam pengawasan dokter, masyarakat tetap mudah mendapatkan obat bergolongan ‘G’ ini. Akan tetapi obat ini dapat diberikan dengan syarat dan ketentuan.

Pembeli atau pasien sudah menggunakan dan mengetahui indikasi penyakit yang diderita, serta paham aturan pakainya. Misalnya, pembeli atau pasien tahu untuk menghilangkan sakit giginya ini harus menggunakan asam mefenamat.

Selain itu, ia juga tahu dalam penggunaannya, yakni setelah makan dan diminum hanya saat sakit. Jika begitu, apotek dapat memberikan obat bergolongan ‘G’. Tentunya, dengan batasan jumlah terbatas pemakaian.

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password