Bincang Santai dengan Warga Netizen Bali, Kadiv Humas Polri: Jangan Mencet Dulu Baru Mikir

Tribratanews.polri.go.id – Polda Bali, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Irjen Pol. Drs. Setyo Wasisto, S.H. menggelar acara bincang santai dengan warga netizen Bali di Hotel Segara Village, Sanur, Rabu(20/9/2017). Selain itu, Wakapolda Bali Brigjen Pol. Drs. I Gede Alit Widana, S.H., M.Si., Setditjen Aplikasi Informatika Kemenkoinfo Maryam F. Barata, Koordinator Nasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak Naomi Lania turut hadir sekaligus sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Acara yang bertemakan “Mitra Humas Bersama Polri Membangun Budaya Positif Dalam Bermedia Sosial” digelar untuk mengakomodir para netizen agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Di era digital ini, banyak masyarakat Indonesia sudah masuk di dunia maya, sehingga perlu diwaspadai tentang baik buruknya penggunaan media sosial.

Dihadapan ratusan netizen perwakilan dari seluruh kabupaten se-Bali, Irjen Pol. Drs. Setyo Wasisto, S.H. mengatakan, paradigma baru di Divisi Humas Polri sejak 2017 mempunyai Biro Multimedia. Ada tiga satuan kerja yang baru dibentuk oleh Kapolri atas seijin Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, diantaranya Direktorat Cyber di Bareskrim Polri, Direktorat Keamanan Khusus di Baintelkam Polri dan Biro multimedia di Divisi Humas Polri.

Tugasnya adalah cyber patrol atau patroli di dunia maya. Selain itu, juga melakukan kontra narasi dan kontra opini. Berdasarkan data dari Dirjen Menkominfo bahwa mulai bulan Juni sampai sekarang, penggunaan internet paling tinggi digunakan oleh Divisi Humas Polri. Untuk menyikapi hal tersebut, Polri sudah menyiapkan diri mulai dari infrastruktur, suprastruktur hingga personel yang akan membidangi.

Buktinya adalah ketika melakukan patroli terhadap akun-akun yang mengejek Pemerintah Indonesia dan penyebar berita hoax yang dapat menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dengan kerja keras akhirnya bisa mendapatkan siapa pemilik akunnya dan memprofil pemilik akun, sehingga bisa orangnya ditangkap.

“Kita sebagai penegak hukum, kita ingin internet itu digunakan untuk hal-hal yang baik. Jangan mencet dulu baru mikir. Sampai sekarang belum ada yang mampu menghapus jejak digital, kalau sudah masuk dunia maya belum bisa ada yang menarik,” ucap mantan Waka Baintelkan Polri ini.

Kadiv Humas menjelaskan, penggunaan internet ini adalah hal yang bermaanfaat sehingga manfaatkan sebaik-baiknya. Dampak negatif penggunaan internet sangat banyak, dampak positifnya juga lebih banyak lagi. Jika instagram, facebook, line dan tweeter ditutup pemerintah maka banyak orang yang akan dirugikan.

“Masih banyak yang bermaanfaat dari penggunaan internet, untuk itu mari kita gunakan, kita gelorakan berinternet yang bermanfaat , berfaidah, beretika sehingga semua mendapatkan manfaatnya,” imbuhnya.

Sementara Brigjen Pol. Drs. I Gede Alit Widana, S.H., M.Si. mengungkapkan bahwa berbicara kemajuan teknologi dibidang komunikasi memang sangat menarik untuk dibicarakan, karena ada sisi positif dan negatifnya. Jajaran Polda Bali memiliki satker untuk mengantisipasi perkembangan teknologi dibidang media sosial yaitu Unit Cyber Crime yang ada Direktorat Reserse Kriminal Khusus maupun di Direktorat Intelkam.

“Kami juga memiliki Satgas CTOC (Counter Transnational and Organized Crime) dan Satgas SABATA yang dibentuk oleh Kapolda Bali dalam memerangi, mencegah dan menemukan apabila terjadi penyebaran berita hoax,” tegas mantan Karo Ops Polda Bali ini.

Wakapolda menambahkan, perkembangan teknologi sudah menyentuh seluruh kehidupan masyarakat bahkan anak kecil sudah pintar memanfaatkan teknologi. Kemajuan teknologi, dapat memberikan kenyamanan kepada kehidupan pribadi dan kehidupan bersosial dengan masyarakat.

Jenderal lulusan Akpol 1987 ini memberikan contoh manfaat positif kemajuan teknologi dibidang media sosial, yaitu jika ingin mengumpulkan 100 atau 200 orang hanya dengan langsung menshare ke medsos maka akan cepat tercapai, tidak perlu menelepon satu persatu apalagi lewat surat undangan. Namun segi negatifnya, bisa memesan konflik SARA lewat media sosial seperti Saracen.

Adanya hal tersebut, diharapkan warga netizen yang tergabung dalam jajaran Polda Bali ini untuk tidak menjadi pelaku penyebar berita hoax atau tidak membantu menyebarkan ujaran kebencian. Apabila ada hal-hal berita bohong jangan cepat dishare, tapi turut membangun situasi di jajaran Polda Bali agar tetap sejuk, tenteram dan tertib.

“Perkembangan Medsos sangat cepat dan sangat meresahkan. Dengan mempelopori tidak menyebarkan berita hoax atau berita yang memancing SARA, itu artinya kita sudah turut berpartisipasai aktif dalam rangka membangun Kamtibmas,” tutup Wakapolda Bali.

Selanjutnya saat narasumber berdiskusi dengan warga netizen lebih banyak membahas tentang cara mengetahui berita hoax, cirri-ciri berita hoax dan cara penanganan berita hoax. Bahkan salah satu netizen mengungkapkan keinginannya untuk bisa dirangkul menjadi mitra Humas Polri.

Warga netizen Bali sangat antusias mengikuti acara tersebut, hal ini terbukti dari banyak pertanyaan yang disampaikan oleh perwakilan netizen dari seluruh Kabupaten se-Bali. Diakhir acara, Divisi Humas Polri menyerahkan tali asih kepada para netizen.

Penulis : I Ketut Bina Wartawan

Editor   : Umi Fadilah

Publish : Putu Suwardhana

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password