Curi Cincin Emas dan Berlian, Seorang Pemuda di Makassar Dilaporkan Ibu Kandungnya

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Resmob Polsek Bontoala terpaksa mengamankan AG (29) yang dilaporkan ibu kandungnya sendiri atas dugaan pencurian dalam keluarga, Selasa (19/09/17).

AG (29) dilaporkan oleh Hj. Intan yang tidak lain ibunya sendiri, dalam laporannya Hj. Intan mengaku kehilangan 1 buah cincin emas seberat 5 gram, 1 buah cincin batu berlian seberat 12 gram dan 3 buku BPKP sepeda motor milik.

“Korban melapor ke Polsek Bontoala pada hari Minggu (17/09) membuat laporan tertulis bahwa telah kecurian barang berharganya yang disimpan didalam lemari pakaian korban,” ucap Iptu H. Rahman Ronrong.

Resmob Polsek Bontoala mengamankan pelaku di Jalan Masjid Raya Makassar. Atas kejadian tersebut korban Hj. Intan mengalami kerugian sekitar lima belas juta rupiah.

Kapolsek Bontoala Kompol TH Koswara mengatakan pelaku diamankan berdasarkan laporan korban dan sekarang dalam proses pemeriksaan saksi-saksi.

“Pelaku adalah anak kandung dari korban jadi pasal yang dikenakan kepada pelaku adalah pasal pencurian dalam keluarga,” ungkap Koswara.

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pencurian yang dilakukan oleh sanak atau keluarga dari korban, dalam hal ini anak, disebut pencurian dalam kalangan keluarga. Hal tersebut diatur dalam Pasal 367 ayat (2) yang selengkapnya berbunyi:

Jika dia adalah suami (istri) yang terpisah meja dan ranjang atau terpisah harta kekayaan, atau jika dia adalah keluarga sedarah atau semenda, baik dalam garis lurus maupun garis menyimpang derajat kedua, maka terhadap orang itu hanya mungkin diadakan penuntutan jika ada pengaduan yang terkena kejahatan.

Di dalam KUHP, Pasal 367 terdapat di dalam Bab XXI tentang Pencurian. Mengenai Pasal 367 ayat (2) KUHP, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 256), menjelaskan bahwa:

“… jika yang melakukan atau membantu pencurian itu adalah sanak keluarga yang tersebut pada alinea dua dalam pasal ini, maka si pembuat hanya dapat dituntut atas pengaduan dari orang yang memiliki barang itu (delik aduan).”

Delik aduan artinya delik yang hanya bisa diproses apabila ada pengaduan atau laporan dari orang yang menjadi korban tindak pidana. Menurut Mr. Drs. E Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana II, dalam delik aduan penuntutan terhadap delik tersebut digantungkan pada persetujuan dari yang dirugikan (korban).Pada delik aduan ini, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu perdamaian.

Dalam hal pengaduan telah dilakukan, namun kemudian korban hendak mencabut pengaduannya (dalam hal korban termasuk lingkup keluarga sebagaimana tersebut dalam Pasal 367 KUHP), maka pengaduan dapat ditarik kembali/dicabut dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah pengaduan diajukan (lihat Pasal 75 KUHP).

Penulis : Rosdiana

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password