Cegah Radikalisme dan Terorisme, Polri Gandeng Tomas, Toga dan Todat

Tribratanews.polri.go.id – Polda Bali, Ancaman radikalisme dan terorisme bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi hampir diseluruh negara di dunia. Polri sebagai garda terdepan sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah berkembangnya kedua paham tersebut, mulai dari soft approach hingga hard approach.

Sebagai upaya preventif Polri dalam meminimalisir masuknya gerakan radikalisme dan terorisme di masyarakat, Kasubdit I Ditreskrimum Polda Bali AKBP Tri Kuncoro, S.E., M.H. menjadi narasumber dalam program Halo Kamtibmas di Radio Menara, Denpasar, Kamis (14/9) lalu. Acara yang dimulai pukul 07.00 Wita ini membahas tentang upaya pencegahan radikalisme dan terorisme.

Menurut AKBP Tri Kuncoro, S.E., M.H., penganut paham radikal biasanya memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintahan yang resmi. Sedangkan untuk teroris, mereka tidak jauh beda dengan kaum radikal, hanya saja teroris jauh lebih keras dari kelompok radikalisme.

“Kelompok radikalisme dan terorisme terbentuk akibat dari perbedaan ideologi. Mereka tidak searah dengan dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Mereka selalu mengedepankan agama dengan pola pandang atau penafsirannya sendiri, padahal itu tidak sesuai,” ucap AKBP Tri Kuncoro, S.E., M.H.

Saat menjalankan aksinya di Indonesia selalu menggunakan pola baru, karena kelompok ini lebih banyak melakukan indoktrinasi. Dalam merekrut pengikutnya, kelompok ini akan mencari orang-orang yang mudah dipengaruhi dan perilakunya masih labil, seperti organisasi kepemudaan, mahasiswa dan pelajar. “Mereka akan masuk ke seluruh lapisan masyarakat. Sebagai upaya pencegahan, Polri sudah membentuk Satgas Kontra Radikal dan Deradikalisasi,” imbuhnya.

Perwira melati dua ini menjelaskan, pemerintah dan Polri tidak takut melawan kelompok radikalisme dan terorisme. Masyarakat juga harus turut terlibat dalam menangkal gerakan terorisme. “Kita memerlukan kerjasama dengan stakeholder terutama orang tua, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, agama dan adat. Mereka harus berperan sebagai pemfilter dan menjadi pembanding agar bisa menjelaskan perbedaan radikalisme dengan Pancasila,” terangnya.

Penulis  : Bina Wartawan

Editor    : Umi Fadilah

Publish  : Adithya Yoga

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password