Dua Pelaku Jambret di Makassar Diringkus Polisi saat Nongkrong

Artikel, Dua Pelaku Jambret Diringkus Polisi saat Nongkrong1

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Unit khusus Polsek Ujung Pandang berhasil meringkus dua pelaku jambret di Jalan Jend. Sudirman Makassar, Selasa (12/09/17). Kedua pelaku berinsial AR alias Ipink (25) dan ED (17) warga Veteran Utara Makassar.

Artikel, Dua Pelaku Jambret Diringkus Polisi saat Nongkrong

Unit khusus Polsek Ujung Pandang yang dipimpin Kanit Reskrim Iptu Arham Gusdiar berhasil menangkap kedua pelaku yang berhasil mengambil HP Iphone 7 warna Rose Gold di Jalan Jenderal Sudirman Makassar tepat didepan Gedung Immim.

Berawal dari dari hasil penyelidikan dan informasi warga diketahui pelaku sedang nongkrong di Circle K jalan Mappanyukki Makassar selanjutnya unit khusus bergerak dan berhasil mengamankan pelaku.

Dihadapan petugas ED mengakui perbuatannya dan melancarkan aksinya bersama AR  didepan Immim dengan menggunakan sepeda motor merk Honda Beat warna merah dan merampas HP Iphone 7 dimana korban sementara berdiri dipinggir jalan.

Berdasarkan hasil introgasi kedua pelaku HP Iphone 7  tersebut dijual kepada seorang wanita berinisial EN dengan harga Rp.400,000, hasil penjualan HP tersebut digunakan membeli sabu di jalan Veteran Utara Makassar.

Kemudian pelaku dibawa untuk menunjukkan rumah  penadah HP yang telah dijambret akan tetapi saat diperjalanan lelaki AR melakukan perlawanan dan kemudian berhasil melarikan diri, melihat hal tersebut unit khusus Polsek Ujung pandang mengejarnya sambil memberikan tembakan peringatan dan perintah untuk berhenti akan tetapi tidak dihiraukan oleh pelaku.

Sehingga kemudian diambil tindakan tegas dengan tembakan terarah untuk melumpuhkan dan menghentikan aksi pelaku AR alias IPINK dengan  tembakan di betis kaki kanan lelaki AR.

Setelah mendapat perawatan medis di  RS. Bhayangkara kedua pelaku dibawa ke Polsek Ujung Pandang untuk proses Hukum.

Dalam melakukan pencurian, seorang melakukan pencurian bukan karena tidak ada faktor atau alasan untuk melakukan kelakuan tercela. Seorang pencuri dalam melakukan aksinya pun memiliki alasan kenapa dia harus mencuri.

Motif Ekonomi. Salah satu unsur “mengapa orang mencuri” adalah motif. Motif seseorang melakukan suatu kegiatan tentu mempunyai maksud dan tujuan yang hanya dimengerti oleh yang bersangkutan. Seseorang mencuri sesuatu yang bukan miliknya dari orang lain mempunyai motif tertentu.

Ekonomi. Ini adalah biang keladi dan dianggap sebagai motif yang utama seseorang melakukan tindak kejahatan pencurian baik curas (pencurian dengan tindak kekerasan) maupun pencurian dalam bentuk yang lain. Orang mencuri karena ingin mempertahankan hidupnya. Mencuri untuk makan. Barang hasil curiannya kemudian dijual kepada pihak lain (penadah-red), dan uang hasil penjualan barang curiannya itu digunakan untuk keperluan hidup dirinya maupun anggota keluarganya.

Mungkin saja motif Ekonomi, ini sekilas masuk akal. Orang akan mati jika tidak makan. Dan salah satu cara untuk bisa makan adalah dengan mencuri. Dari hasil curiannya itulah akan dijual, dan uangnya digunakan untuk membeli makanan kepada anak istri dan anggota keluarganya.

Maksudnya baik, hanya saja caranya tidak baik. Mencuri adalah perbuatan melawan hukum (against the law-red) dan si pelaku harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Haruskah kita maklumi orang yang mencuri karena untuk menyambung hidupnya atau mencuri untuk makan sehari hari? Apapun alasannya, mencuri itu tetap tidak bisa dibenarkan an melanggar ketentuan Undang-Undang Hukum Pidana, dimana pelakunya akan dihukum sesuai perlakuannya.

Motif lainnya adalah kurangnya iman, pada dasarnya ini adalah alasan yang paling mendasar dari pencurian. Seorang pencuri tidak mungkin memiliki aqidah dan keimanan yang kuat kepada Allah sebagai zat yang mengatur kehidupan di dunia ini. Orang yang aqidah dan keimanan yang kuat sudah pasti ia tidak akan melakukan pencurian walaupun ada kesempatan dan ekonomi yang tidak stabil, bahkan niatan untuk mencuri pun tidak ada dalam benaknya.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

“Tidaklah orang yang berzina ketika melakukan perzinaan dia dalam kondisi beriman. Dan tidaklah pencuri ketika dia mencuri dia dalam kondisi beriman. Tidak juga peminum (khamar) ketika dia meminum dalam kondisi beriman.” (HR. Bukhari, no. 2334 dan Muslim, 57)

Penulis : Abu Uwais

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password