Sambangi Lapas, Polwan Polres Maros Tumbuhkan Rasa Nasionalisme dan Cinta Tanah Air kepada Tahanan

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Menjelang HUT Polisi wanita (Polwan) ke 69 yang jatuh pada tanggal 1 September 2017 mendatang, Polwan Polres Maros menggelar kegiatan anjangsana ke Lapas Klas II a Maros, Senin (28/8/17).

Kegiatan anjangsana yang digelar di Aula Lapas Klas II a Maros tersebut diikuti oleh seluruh personil polwan Polres Maros yang dipimpin oleh Iptu Kasmawati selaku Pakor Polwan Polres Maros.

Disela kegiatan tersebut, tampil selaku pembicara Ipda Ilham Yuliani STRK berbicara tentang wawasan kebangsaan di depan puluhan tahanan wanita dan tahanan anak di bawah umur.

“Sebagai warga negara yang baik kita harus cinta Indonesia apalagi moment saat ini masih dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia,” kata kanit Dikyasa sat lantas Polres Maros tersebut.

Lulusan akpol tahun 2016 tersebut juga memberikan motivasi kepada para tahanan untuk senantiasa optimis untuk menjadi manusia yang lebih baik.

“Masa depan kalian masih panjang, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, kalian harus optimis untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Selain memberikan wawasan kebangsaan, Polwan Polres maros juga menyanyikan lagu Indonesia raya dan lagu-lagu nasional bersama dengan para tahanan.

“Kami menyanyikan lagu nasional tersebut  bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta Tanah air kepada para tahanan,” tutup Iptu Kasmawati.

Cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; merupakan tabiat dan fitrah manusia. Seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka”” (QS. An-Nisa’: 66).

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka.

Bahkan di dalam Islam, jika negeri kita diserang musuh, wajib bagi kita untuk jihad membela negeri dari serangan tersebut. Apalagi, jika negeri tersebut memiliki keistimewaan, maka mencintainya adalah sebuah ibadah seperti Mekkah dan Madinah.

Namun jika cinta negeri bertentangan dengan agama seperti hijrah dan jihad, sehingga dia lebih mendahulukan cinta negeri daripada agama maka hukumnya haram. Allah mengancam orang-orang yang tidak hijrah karena lebih mencintai kampung halaman mereka.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)” (QS. An-Nisa’: 97-98).

Walau cinta negeri tidak tercela, namun tidak boleh kita membuat dan berpegang dengan hadits palsu:

“Cinta tanah air termasuk iman”.

Al Mulla Al Qari berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”. Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits”.

Musuh-musuh Islam ingin menjadikan hadits palsu ini tuk menghilangkan syiar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syiar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun.

Dan agar kecintaan negeri kita tidak sia-sia tanpa pahala, maka hendaknya kita menata niat dalam kecintaan dan pembelaan kita kepada negeri kita, yaitu hendaknya untuk Allah, untuk Islam, bukan sekedar untuk kebangsaan dan nasionalisme semata.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata:

“Kita apabila perang hanya untuk membela negara tidak ada bedanya dengan orang kafir yang juga perang untuk membela negara mereka.

Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia bukanlah syahid, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk perang karena Islam yang ada di negeri kita.

Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita.

Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah niat bathil yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta.

Cinta negara, apabila karena  negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena negara Islam.

Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negara kita karena negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password